Developer Tiongkok dominasi pasar smartphone Asia Tenggara

Canalys melaporkan bahwa developer Tiongkok telah mendominasi pasar smartphone Asia Tenggara pada Q2 2019 ini.

Developer Tiongkok dominasi pasar smartphone Asia Tenggara Source: Unsplash

Dilansir dari GSM Arena (15/8), Canalys baru saja melaporkan bahwa developer smartphone Tiongkok telah mendominasi pasar Asia Tenggara pada Q2 tahun 2019, dengan menjaring 19 juta dari total 30,7 juta pelanggan. Dengan begitu, mereka menguasai 62 persen saham di wilayah tersebut, dan menjadi lompatan besar setelah kuartal yang sama tahun lalu menguasai 50 persen.

Ini adalah gambar laporan Canalys untuk pengiriman smartphone di Asia Tenggara pada Q2 2019


BACA JUGA

Ini cara cek IMEI ponsel di situs Kemenperin

Ini cara perbaiki bug Google Play Service yang kuras baterai smartphone

OPPO Reno 2 dengan 20x zoom akan meluncur akhir Agustus di India


Source: GSM Arena 

Canalys juga menyebutkan bahwa pasar Asia Tenggara juga didominasi oleh smartphone menengah ke bawah, dengan 75 persen darinya terdiri dari perangkat seharga lebih USD200 (Rp2,8 juta). 

“Asia Tenggara populer untuk merek baru, karena peluang keberhasilan lebih tinggi dibanding bagian lain dunia. 75 persen pengiriman yang terdiri dari model smartphone seharga USD200, yang merupakan segmen smartphone menengah ke bawah," kata Analis Canalys, Matthew Xie. 

Selain itu, Canalys juga mengklaim bahwa Samsung telah mempertahankan posisi terdepannya dengan pergerakan 7,7 juta perangkat. Diklaim hal ini disebabkan dari seri A dan M yang telah membantu mencapai peningkatan pengiriman sebesar 5 persen. 

Pada urutan kedua terdapat Oppo dengan 7,3 juta perangkat, diikuti oleh Vivo yang telah mengelola 4,1 juta perangkat smartphone dan Xiaomi di posisi keempat dengan angka 3,9 juta perangkat. Kemudian diikuti oleh Realme yang berada di posisi kelima untuk pertama kalinya dengan 1,6 juta perangkat. Meski Samsung menjuarai beberapa negara, namun disebutkan juga perusahaan ini menjadi urutan kedua di Indonesia dan Filipina. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: