Biaya keamanan pribadi Mark Zuckerberg Rp282 miliar

Tak tanggung-tanggung, perusahaan membeberkan biaya keamanan pribadi Zuck mencapai USD20 juta (Rp282 miliar).

Biaya keamanan pribadi Mark Zuckerberg Rp282 miliar (Foto: variety)

Perlindungan keamanan bagi eksekutif perusahaan merupakan hal yang wajar diterapkan. Hal ini juga menjadi fasilitas bagi seorang Mark Zuckerberg ,sebagai CEO Facebook. Tak tanggung-tanggung, perusahaan membeberkan biaya keamanan pribadi Zuck mencapai USD20 juta (Rp282 miliar).

Sebagaimana beberapa pendiri dan CEO perusahaan teknologi lainnya termasuk Larry Page dan Steve Jobs, Zuckerberg hanya menerima gaji USD1 setiap tahun. Namun total kompensasi yang dia dapatkan mencapai USD22,6 juta. Kompensasi tersebut sebagian besar dihabiskan untuk program keamanan bagi dirinya dan keluarganya di rumah selama dalam perjalanan pribadi.


BACA JUGA

WhatsApp, Instagram hingga Youtube diblokir di Sri Lanka

Facebook ciptakan AI pengubah video menjadi gim

Facebook bakal gabung News Feed dan Stories


Dilansir Cnet (13/4), jumlah itu dua kali lebih banyak dari yang diterapkan perusahaan pada 2017 lalu. Kala itu, Zuck mendapat total kompensasi USD9,1 juta. Perusahaan juga mengatakan pihaknya menghabiskan USD2,6 juta untuk biaya pesawat pribadi Zuckerberg. Biaya ini meningkat dari sebelumnya, USD1,5 juta.

Dalam dokumen Facebook ke Securities and Exchange Commission (SEC) juga terungkap biaya pesawat tersebut dialokasikan untuk perusahaan penyewa, biaya penumpang, bahan bakar, kru hingga biaya katering. 

Selain bagi Zuckerbeg, Facebook pun mengalokasikan sejumlah biaya untuk keamanan COO Sheryl Sandberg. Tahun lalu dia mendapatkan biaya pengamanan pribadi senilai USD2,9 juta, meningkat dari sebelumnya USD2,6 juta. Untuk pesawat pribadi Sheryl Sandberg, perusahaan telah mengucurkan dana senilai USD900 ribu.

Facebook enggan memberikan komentar terkait laporan ini. Biaya yang tercatat meningkat dibanding tahun sebelumnya ini terjadi akibat perusahaan menghadapi periode yang cukup berat. Raksasa media sosial itu tengah dalam pengawasan ketat atas campur tangan pemilu, penyalahgunaan data, hingga tak mampu mengawasi konten yang mengganggu di platform-nya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: