Balada AS dan Huawei: bolehkah Huawei pakai AOSP?

Jika merujuk pada hukum ekspor S, seharusnya Huawai tidak akan bisa menggunakan Android, baik versi open source nya.

Balada AS dan Huawei: bolehkah Huawei pakai AOSP? Source: Shutterstock

Nasib Huawei terus bergulir pasca masuk dalam daftar hitam pemerintah Amerika Serikat. Satu persatu rekanan bisnis Huawei pun angkat tangan untuk menghindari sanksi dari pemerintah AS. Yang paling awal adalah Google.

Raksasa teknologi itu menghentikan lisensi Android yang selama ini menyokong smartphone Huawei. Karena hal itu, smartphone Huawei di masa depan dipastikan tidak bisa menikmati layanan ekslusif Google Services. Aplikasi seperti Google Maps, Gmail, bahkan sinkronisasi kontak dengan email pun mustahil dilakukan.


BACA JUGA

Begini bocoran baterai Huawei Mate 30 Pro dan Mate 30

Mengenal HarmonyOS, juru selamat Huawei

Huawei Mate 30 bakal bawa dukungan video 4K 60fps


Huawei dengan mantap berkata bahwa pihaknya sudah menyiapkan rencana cadangan. Perusahaan asal China itu didapati sudah mengembangkan sistem operasi sendiri yang bernama Ark OS. Klaimnya, sistem operasi ini dapat menjalankan semua aplikasi Android karena berbasis Android Open Source Program (AOSP).

Entity List itu dibuat oleh pemerintah AS, maka masuk akal kalau perusahaan asal Amerika mau tak mau harus menuruti kebijakan tersebut. Tapi ternyata, perusahaan di luar AS pun ikut-ikutan bercerai dengan Huawei, setidaknya selama Entity List masih diberlakukan.

Permasalahan antara pemerintah Amerika Serikat dan Huawei bakal makin kompleks karena melibatkan Undang-Undang ekspor negeri tersebut. Menurut Kevin Wolf, hukum ekspor Amerika Serikat tidak hanya berlaku bagi produk konsumen asal AS saja, tetapi juga komoditas, seperti komponen dasar, software dan tetek bengek teknologi yang membangun ekosistemnya.

Kevin Wolf adalah mantan asisten sekretaris administrasi belanja ekspor selama masa Obama. Dalam tulisan yang ia buat, apa pun teknologi atau produk yang menggunakan komponen dari AS, akan terpengaruh dengan kebijakan tersebut. Karena hal inilah, perusahaan seperti ARM dan Panasonic menarik diri dari kerjasama bisnis dengan Huawei.

Untuk diketahui, ARM sebenarnya merupakan perusahaan manufaktur yang berbasis di Inggris. Kepemilikannya berada di tangan Softbank asal Jepang. Namun karena ARM menggunakan teknologi Amerika Serikat dalam desain chipnya, akhirnya membuat perusahaan ini harus mengikuti kebijakan Entity List itu.

Agak sulit juga untuk mengetahui apakah produk yang sedang kita gunakan saat ini menggunakan teknologi AS atau tidak. Pasalnya banyak manufaktur yang enggan membagikan rantai pasokannya ke pihak luar. Intinya adalah, produk yang didistribusikan dari AS, demikian pula dengan produk di luar AS yang menggunakan teknologi AS pasti akan terdampak kebijakan tersebut.

Bukan hanya dari segi hardware, sektor software pun terkena imbas yang sama. Wolf mencatat  bahwa software asli AS yang dimasukkan atau dicampur dengan software dari luar negeri tetap tidak kehilangan status asalnya di AS.

Karena itu, Huawei otomatis dilarang menggunakan aplikasi yang dikembangkan di AS. Tak hanya itu, sekalipun sebuah aplikasi dikembangkan di wilayah lain, namun status pengembang sebagai perusahaan AS akan tetap melekat di aplikasi tersebut.

Dari penjelasan yang dijabarkan ArsTechnica (11/6), hal itu juga berlaku untuk software open source. Di sana tertulis bahwa copyright open source masih dimiliki entitas tertentu. Misalnya, Android yang dimiliki oleh Google dan beberapa software lainnya.

Hal ini bakal mengancam Huawei untuk menggunakan segala piranti lunak dari AS, termasuk open source-nya. Tak hanya itu, dalam kasus dengan Google, sistem operasi Android membutuhkan workflow dari teknologi asal AS, yakni Android SDK, dan komponen lainnya.

Padahal, Huawei sudah bersiap dengan Ark OS yang notabene dibangun berdasarkan AOSP. Jika memang keadaannya seperti yang diramalkan oleh Wolf, maka seharusnya Huawei tidak akan bisa menggunakan AOSP untuk membangun sistem operasinya.

Kendati begitu, status open source seharusnya menjadikan sebuah software bebas diakses oleh siapa saja, termasuk digandakan, didistribusikan atau dimodifikasi kodenya. Bahkan sebuah pihak sah-sah saja untuk mempublikasikan modifikasi software berbasis open source ini ke publik.

Berkaca dari hal tersebut, kendati AOSP merupakan lisensi milik Google, seharusnya tidak masalah jika Huawei memodifikasinya menjadi sistem operasi baru. Toh biar bagaimana pun, Ark OS saat ini masih terus dikembangkan. Bahkan Huawei dengan hati-hati memilih pihak yang bisa diajak bekerja sama untuk membangun ekosistem sistem operasinya. Sebagai pengganti Google Play Store, perusahaan China ini menggandeng toko aplikasi bernama Aptoide.

Sampai saat ini pun, tidak ada entitas yang berusaha melarang Huawei untuk menggunakan AOSP. Huawei meski tidak bisa dibilang tenang-tenang saja, tetap fokus mematangkan sistem operasi barunya. Nantinya semua ponsel Huawei tidak lagi memakai Android, melainkan sistem operasi sendiri yang dibuat Huawei.

Apapun langkah Huawei, tuduhan ancaman keamanan nasional yang diberikan pemerintah AS dan berujung pada diblokirnya Huawei jelas menjadi pukulan telak. Saat ini Huawei sedang mengumpulkan kekuatan untuk bangkit kembali. Entah kapan kebangkitan itu akan terjadi.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: