sun
moon
Premium Partner :
Kamis, 26 Mar 2020 11:50 WIB

Aplikasi Zoom makin populer, pakar ingatkan keamanan data pengguna

Zoom kini sedang menikmati peningkatan performa karena pandemi corona. Namun, menurut perusahaan cybersecurity Check Point Research, popularitasnya ini dapat mengancam keamanan data pengguna.

Aplikasi Zoom makin populer, pakar ingatkan keamanan data pengguna
Source: PinkNews

Platform  konferensi video Zoom kini sedang menikmati peningkatan performa karena pandemi corona yang mengharuskan jutaan orang Work From Home atau bekerja dari rumah dan menggunakan aplikasi ini.

Sejak Senin, saham perusahaan Zoom melonjak 22% menjadi USD159,07 per saham. Saham Zoom telah meroket lebih dari 100% sejak 31 Januari. Selama beberapa minggu terakhir, Zoom telah memberikan panggilan video tanpa batasan waktu untuk sekolah-sekolah yang dirumahkan di antaranya di Amerika, Eropa, dan Timur Tengah.

Namun sejak memperluas jangkauannya, para ahli mulai khawatir dengan keamanan dan kebijakan perlindungan data pada Zoom. Dilansir dari Business Insider (26/3) pakar keamanan siber menyoroti fitur dalam aplikasi yang memungkinkan pengguna Zoom melacak keterlibatan pengguna lainnya, kemudahan berbagi dokumen yang bisa menjadi kesalahan, dan kurangnya kejelasan mengenai kebijakan privasi perusahaan.

Pada Januari, perusahaan cybersecurity Check Point Research menemukan kelemahan dalam Zoom. Kelemahan ini memungkinkan peretas untuk mendengarkan video tanpa diundang. Mereka juga berpotensi mendapatkan akses ke file internal dan informasi sensitif lainnya.

“Seperti halnya semua jenis perangkat lunak, platform konferensi video rentan terhadap peretasan dan sayangnya, karena semakin banyak orang mulai menggunakan teknologi ini, penyerang akan mulai menargetkan mereka dengan frekuensi yang semakin meningkat, " kata Tom Lysemose Hansen, kepala perusahaan keamanan teknologi in-app Promon.

Menanggapi temuan ini, Zoom mengatakan kepada Business Insider kalau perusahaannya telah lebih dulu menyelesaikan masalah ini sebelum mempublikasikannya. Zoom juga telah menambahkan sejumlah fitur, seperti validasi ID saat bergabung dengan konferesi video dan pemblokiran perangkat.

Namun, Hansen juga mengkritik fitur “empleyee tracker” di mana pembuat sesi video dapat melacak kehadiran anggotanya, mengetahui apakah anggotanya masih berada di depan layar dengan aplikasi selama 30 detik terakhir.

Direktur DQM GRC Camilla Winlo juga setuju dengan Hansen. Menurut Winlo, fitur ini telah disalahgunakan oleh para bos yang terlalu ketat dengan karyawannya.

Zoom pun kembali membela kalau fitur ini dapat dinon-aktifkan sesuai kebutuhan pengguna. Menanggapi masalah-masalah ini, Zoom mengeluarkan panduan baru yang menjelaskan bagaimana pengguna dapat mencegah orang yang tidak dikenal membagikan atau menerima dokumen yang tidak diinginkan. Seiring meningkatnya popularitas, perusahaan menghadapi desakan orang-orang untuk transparansi dalam menangani data pengguna.

Share
back to top