Alasan YouTube terkesan lamban hapus video penembakan

YouTube membutuhkan mekanisme yang berbeda untuk mengidentifikasi momen terkait kasus penembakan yang terjadi di Selandia Baru

Penembakan brutal terjadi di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru. Aksi kejam tersebut mengakibatkan tewasnya 49 orang muslim yang tengah beribadah. Kejamnya lagi, pelaku menyiarkan secara live aksi penembakan tersebut.

Meski sudah banyak anjuran untuk tidak menyebarkan rekaman penembakan, namun masih ada saja netizen yang kembali mengunggah aksi penembakan tersebut. 


BACA JUGA

Belajar di YouTube bakal makin menyenangkan

Klaim perlindungan hak cipta kreator di YouTube kini lebih mudah

YouTube Music hadirkan fitur smart downloads


Kabarnya YouTube tengah membersihkan platform-nya dari rekaman penembakan tersebut. Namun, karena terkesan lambat, beberapa pengamat sempat menanyakan bagaimana kinerja sistem identifikasi konten di YouTube.

Dilansir dari The Verge (15/3), jika netizen mengunggah ulang video utuh aksi penembakan tersebut, maka YouTube dapat langsung memblokirnya. Namun, jika netizen mengunggah video  potongan cuplikan video penembakan tersebut mekanisme moderasinya akan berbeda.

The Verge mempelajari, YouTube membutuhkan waktu untuk memoderasi sebuah video yang menyelipkan cuplikan penembakan tersebut. Pasalnya cuplikan video tersebut membutuhkan moderator manusia. Mekanisme identifikasi mengandalkan Content ID untuk mencari metadata yang sama. Jika video yang berisi konten penembakan tanpa editan kembali diunggah, maka secara otomatis YouTube akan menghapusnya. Namun, jika video sudah diedit, maka video tersebut akan dikirim ke tim khusus yang akan memoderasinya secara langsung.

Hal ini bertujuan agar video aksi penembakan tersebut tidak beredar luas, namun tetap dapat bisa digunakan jika memenuhi persyaratan dari YouTube. Kanal berita contohnya.

YouTube juga memiliki sistem untuk menghapus konten pornografi anak dan konten terkait terorisme, dengan mengidentifikasi metadata rekaman. Tetapi sistem itu tidak diterapkan dalam kasus-kasus seperti ini. YouTube menganggap penghapusan video yang bernilai berita sama berbahayanya. YouTube melarang cuplikan yang dimaksud untuk tidak menampilkan aksi brutal yang dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk kepada pengguna. Namun, jika digunakan untuk tujuan berita, YouTube mengatakan rekaman itu diperbolehkan tetapi mungkin penontonnya terbatas pada usia tertentu untuk melindungi pemirsa yang lebih muda.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: