2018, ekonomi Asia Pasifik bergantung pada teknologi

Kawasan Asia Pasifik dan Jepang akan jadi pusat teknologi baru seperti, AI, AR, VR, IoT dan cloud.

Kamis (4/1), hasil riset dari Dell Technologies dan Institute for the Future (IFTF), menemukan dampak dan implikasi teknologi terhadap masyarakat dan ekonomi. Riset ini memprediksi bahwa ekosistem ekonomi, tengah memasuki era hubungan antara manusia dan mesin. 2018 sampai 2030 nanti, manusia dan mesin akan bekerja sama lebih erat lagi dan mengubah hidup semua orang.

Teknologi-teknologi baru seperti artificial intelligence (AI), augmented reality (AR), virtual reality (VR), internet of things (IoT), dan cloud computing, mampu meningkatkan dan mempercepat perubahan tersebut. Dell Technologies membahas sejumlah prediksi yang akan terjadi.
 
AI akan mengambil alih ‘tugas berpikir’

Dalam beberapa tahun ke depan, artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan akan mengubah cara kita saat mengolah data. Dunia usaha mulai memanfaatkan AI untuk melakukan “tugas berpikir” berbasis data. Riset Dell dan IFTF menyebutkan, Kawasan Asia Pasifik dan Jepang, memimpin inovasi dalam teknologi di bidang ini.

Selain mengambil alih pekerjaan manusia, AI juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru misalnya, akan ada tipe profesional TI baru yang tugasnya khusus pada pelatihan dan pengaturan AI. Selain itu, AI akan menjadi keahlian utama tenaga kerja di masa depan. 

Tugas berpikir AI akan menonjol di bidang kesehatan, pertanian, dan jasa keuangan. Bagi berbagai organisasi, tantangannya adalah membuktikan nilai bisnis dari teknologi AI dan memastikan mereka memiliki infrastruktur dan sumber daya manusia yang tepat.
 
Mengintegrasikan Internet of Things

Mulai 2018, sejumlah langkah besar menanamkan kecerdasan buatan berkecepatan tinggi (near instant) dalam IoT akan segera terjadi.

Jumlah investasi akan terus bertambah. Sedangkan faktor pendukung seperti inisiatif pemerintah dan perkembangan 5G akan menjadi pendorong besar IoT. 

Jepang, Korea Selatan, Singapura, Australia, dan Selandia Baru menjadi yang terdepan dalam hal kesiapan IoT ini. Kendati begitu, bukan berarti IoT tidak menemui kendala. Kendala yang menghadang IoT adalah, standarisasi yang tidak konsisten, kondisi teknologi yang tidak seragam, dan persiapan infrastruktur.

AR dan VR

Tidak lama lagi, batasan antara dunia nyata dan augmented reality (AR) akan hilang. AR memungkinkan orang berinteraksi dengan data lewat cara yang belum pernah bisa dilakukan sebelumnya.
 Sementara Dell memprediksi, teknologi virtual reality (VR) akan mengubah industri hiburan dan permainan dalam waktu dekat ini.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: