Review monitor

Viewsonic VG2455, monitor dengan tingkat ergonomis tinggi

Viewsonic membekali monitor dengan resolusi Full HD (1920 x 1080 piksel) tersebut dengan teknologi SuperClear eksklusif agar menjanjikan tampilan warna cerah dibandingkan dengan monitor konvensional di kelasnya.

Viewsonic VG2455, monitor dengan tingkat ergonomis tinggi

VG2455 merupakan monitor dari pabrikan Viewsonic yang dirancang untuk kebutuhan bekerja dan multimedia lain. Sesuai namanya, monitor yang mengantungi panel berbasis teknologi in-plane switcing (IPS) ini memiliki bentang layar 24 inci serta menjanjikan desain yang ergonomis untuk berbagai keperluan.

Viewsonic membekali monitor dengan resolusi Full HD (1920 x 1080 piksel) tersebut dengan teknologi SuperClear eksklusif agar menjanjikan tampilan warna cerah dibandingkan dengan monitor konvensional di kelasnya. Oiya, tidak ketinggalan pula integrasi speaker internal agar kamu tidak perlu menggunakan speaker eksternal tambahan. Kepoin ulasannya sampai selesai ya Sahabat Tek!

Desain ergonomis

Seperti yang tadi sempat saya sampaikan, salah satu daya tarik Viewsonic VG2455 adalah rancang bangunnya yang ‘fleksibel’. Hal ini dikarenakan desain kaki dan leher penyangga yang dapat digerakkan. Kamu dapat memiringkan monitor ke atas atau ke bawah dengan masing-masing kemiringan -5 derajat dan 40 derajat ke atas. Selain itu, Viewsonic merancang VG2455 dengan leher peyangga yang dapat memungkinkan monitor untuk diturunkan dan ditinggikan hingga 130mm.

Satu lagi fitur ergonomis yang jarang ditemukan pada monitor kebanyakan adalah fungsi pivot. Artinya, kamu dapat memutar monitor hingga posisi kemiringan 90 derajat. Uniknya, kamu juga dapat memutarnya ke kiri dan ke kanan hingga orientasi yang sama. 

Selanjutnya tidak lupa pula terdapat fungsi putar atau swivel ke kiri dan kanan yang masing-masing dapat mengakomodasi hingga 60 derajat. Mekanisme putar ini tidak terdapat di leher penyangga, tetapi terdapat pada desain tatakan kaki di bawahnya.

Pertama kali saya membuka kemasannya, monitor ini tidak memerlukan alat tambahan untuk memasang kaki dan leher peyangga. Hal lainnya yang saya suka adalah pada bagian belakang VG2455 terdapat desain khusus seperti handle grip atau pegangan untuk memudahkan ketika saya ingin mengangkat monitor dengan bobot 6,4 kg ini. 

Desain keseluruhan VG2455 bisa dikatakan sederhana dengan material keseluruhan plastik kokoh dengan sapuan  matte. Jika dalam keadaan mati, monitor dengan ukuran keseluruhan 539 x 406 x 202 mm tersebut seolah-olah tidak memiliki bezel di sisi kiri, kanan dan atasnya. Lho, kenapa hanya tiga bezel yang tidak kelihatan? Ini dikarenakan oleh bezel bawah memiliki ukuran lebih tebal dibandingkan ketiga bezel lain pada VG2455.

Pada keadaan layar menyala, ketiga bezel tadi masih cukup terlihat tipis dan hampir menjadikannya terlihat ‘hanya layar tanpa bezel’. Sekali lagi, frasa tersebut akan sirna lantaran bezel bawahnya. Tetapi Bezel bawah yang lebih tebal kemungkinan disiapkan untuk tempat bersinggahnya enam tombol kontrol di kanan bawah. Keenam tombol kontrol akses tersebut dapat mengakomodasi seluruh menu antarmuka yang ditampilkannya. Empat dari enam tombol-tombol ini adalah tombol daya dan tombol khusus untuk mengakses mode tampilan layar (ViewMode).

Fitur dan pengoperasian

Intuitif, itulah pertama kali yang saya rasakan untuk tampilan menu yang disodorkan oleh VG2455. Untuk menampilkan menu antarmuka, cukup tekan empat dari enam tombol yang tersedia (selain tombol daya dan ViewMode). Menu utama terdiri dari lima sub-menu untuk memudahkan pilihan pengaturan yang diinginkan: Input Select, Audio Adjust, ViewMode, Color Adjust, Manual Image Adjust dan Setup Menu.

Saat tampilan menu antarmuka aktif, kemudahan yang saya rasakan karena hadirnya fungsi Key Guide di masing-masing tombol. Di atas empat tombol terdapat tanda tombol navigasi virtual yang memudahkan saya mengarahkan menu pengopperasian. Tidak membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menguasai hampir keseluruhan menu-menu penting.

Tetapi sayangnya ada hal yang menganggu saya dalam hal pengaturan. Misalnya, ketika saya sedang memilih tampilan ViewMode yang sesuai, saya harus menekan tombol tanda centang terlebih dahulu untuk melihat efek yang diberikan. Dengan demikian, efek warna yang dimiliki masing-masing mode tidak langsung terlihat meski saya sudah menyorot mode gambar.

Sayangnya lagi, seluruh menu akan tertutup ketika saya telah memilih salah satu mode gambar (misal: Movie). Jadi, saya harus mengulang kembali dari awal jika ingin mengubah mode gambar ketika mode Movie bukan pilihan yang paling tepat untuk konten yang sedang saya lihat. Nah, itulah keluhan saya pada sistem antarmuka pengaturan menu.

Ada berbagai port antarmuka yang disodorkan oleh VG2455, yakni DisplayPort, HDMI, VGA, USB Type-C, USB (up-stream), dan USB 3.1, yang semuanya berkumpul rapi di bagian belakang bawah monitor. Sekali lagi, berkat fitur pivot, port antarmuka tersebut menjadi mudah diakses tanpa harus melihat ke bagian bawah monitor untuk menghubungkan salah satu port. Oiya, Terdapat pula antarmuka port kabel daya di area ini.

Fitur lain yang saya suka adalah bahwa Viewsonic membekali VG2455 dengan dua port USB 3.1 lagi di sisi sebelah kiri. Fitur ini membantu saat menghubungkan perangkat seperti flashdisk (atau semacamnya) jika desktop yang saya gunakan berada di bawah meja. Dengan catatan bahwa kamu harus menghubungkan kabel USB (tersedia dalam kemasan) dari PC ke USB upstream, selain menghubungkan kabel HDMI atau DisplayPort. Tetapi jika kamu menggunakan konektivitas USB Type-C, tidak perlu lagi menggunakan kabel USB up stream. Selain itu, kamu juga dapat mengisi ulang baterai laptop ketika menggunakan konektivitas USB Type-C.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: