Review router D-Link DIR-842

Router yang cocok untuk rumah dua lantai

D-Link DIR-842 adalah router terbaru yang dibalut dengan desain minimalis lengkapi dengan empat antena. Saya menguji router ini di kantor berlantai 4

Router yang cocok untuk rumah dua lantai

D-Link menghadirkan router terbaru mereka dalam wujud DIR-842. Perangkat jaringan ini dilengkapi dengan taburan fitur seperti MU-MINO, AC1200, Gigabit Ethernet dan sebagainya. Aneka fitur tersebut tentu saja guna memberikan pengalaman konektivitas nirkabel yang lebih optimal.

Desain

Router DIR-842 hadir dengan bodi bermaterial plastik. Pemilihan bahan tersebut menjadikan seluruh bodinya terasa ringan ketika saya angkat. Selain bodi, antena pada router tersebut juga memiliki bahan plastik. Berbicara tentang antena, DIR-842 memiliki empat unit antena yang mana dua terletak di bagian belakang, dan dua lainnya terletak di sisi samping.

Anda dapat mengatur arah keempat antena tersebut yang bertujuan untuk memancarkan sinyal agar perangkat penerima (contoh: smartphone/laptop) memiliki koneksi optimal. Berbicara pengaturan antena, Anda dapat menggerakkannya 180 derajat ke kiri atau kanan; dan 90 derajat ke arah depan atau belakang. Menurut pengalaman, antena tersebut tidak perlu diarahkan untuk memiliki koneksi yang stabil.

Beralih ke bagian belakang, D-Link melengkapi router DIR-842 dengan empat port LAN serta satu port Internet yang berjajar rapih. Khusus port Internet, D-Link melengkapinya dengan warna kuning demi kemudahan pemasangan.

Selain kumpulan port tersebut, bagian belakang juga tersisipkan tombol WPS dan tombol daya. Tidak ada simbol atau tanda apapun pada tombol daya untuk menginformasikan bagaimana posisi tombol ketika sedang aktif atau mati. Saya hanya mengetahuinya jika tombol daya berbentuk pendek, itu berarti router dalam keadaan aktif. Berbicara tentang aktif, router ini hadir dengan adapter daya yang dihubungkan di port bagian belakang.

Jika tadi pada bagian belakang tidak ada tanda untuk menginformasikan keadaan router dalam sedang keadaan aktif atau sebaliknya, pada bagian atas akan ada lampu indikator akan hal tersebut. Total jumlah lampu yang ada di bagian atas router adalah 8 yang mewakili informasi seputar internet, WPS, Wi-Fi, dan empat indikator koneksi LAN. Cukup informatif.

Pengoperasian

Sisi atas bodi setengahnya menggunakan tampilan mengkilap yang dapat dengan mudah terkena noda sidik jari. Setengahnya lagi menggunakan tekstur garis-garis diagonal. Jika router ditempatkan di meja, memang kemungkinan besar terkena noda sidik jari. Namun sedikit kemungkinan akan hal tersebut jika DIR-842 ‘ditempel’ di dinding.

Ya, router ini dapat diletakkan di dinding berkat ada bentuk khusus di bagian bawah router untuk dikaitkan dengan paku. Tentu saja tidak semua paku dapat digunakan untuk mengaitkan router di dinding. Untungnya, antena DIR-842 dapat digerakkan sehingga dapat diatur sesuai estetika ketika ditempel di dinding.

Tidak memerlukan waktu lama untuk melakukan instalasi pada router D-Link DIR-842. Hubungkan kabel LAN dari modem ke router DIR-842 ke dalam port bertuliskan Internet. Anda juga dapat melakukannya dari router lain, selain langsung dari modem. Instalasi selesai sampai di sini jika Anda ingin menggunakan perangkat dengan integrasi Wi-Fi. Jika perangkat Anda tidak dilengkapi Wi-Fi (contoh: PC), Anda akan memerlukan satu kabel LAN lagi untuk menghubungkannya ke router. Pilih salah satu dari empat port LAN di router untuk terhubung ke PC lewat kabel.

Setelah perangkat terhubung ke router, Anda dapat pergi ke http://dlinkrouter.local./ atau http://192.168.0.1 untuk mengatur konfigurasi D-Link DIR-842. Router ini menyajikan antarmuka konfigurasi berbasis web agar lebih mudah dimengerti. Tersedia pula pilihan pengaturan konfigurasi via perangkat mobile berbasis iOS maupun Android menggunakan aplikasi QRSMobile yang menyediakan pengaturan SSID, password, dan notifikasi jika ada firmware baru.

Performa

Saya menguji router DIR-842 dengan menempatkannya di lantai 2 kantor. Posisi router tersebut saya letakkan di atas meja, bukan ditempel di dinding. Tidak lupa saya mengunduh aplikasi Wifi Analyzer di smartphone yang tentu saja terhubung ke internet via router tersebut.

Awalnya saya memeriksa kekuatan sinyal Wi-Fi di lantai yang sama di mana tempat router berada. Dalam kondisi ini, kekuatan sinyal Wi-Fi berada dalam keadaan optimal dengan angka -27dBm. Sudah pasti internet yang dihadirkan sangat lancar ketika saya memutar video lewar aplikasi YouTube dengan resolusi Full HD.

Saya pun turun ke lantai 1 kantor. Di sini kekuatan sinyal berkurang menjadi -64 dBm. Meski demikian, saya masih dapat memutar video streaming yang sama via YouTube dengan lancar, tidak mengalami efek buffering. Namun saya melihat bar playback tidak secepat ketika saya berada di lantai 2. Kemudian saya beralih keluar kantor hampir dekat parkiran mobil. Kondisi Wi-Fi di sini hanya berkurang sedikit pada -67 dBm. Meski demikian, saya beberapa kali mengalami buffer yang lama pada video YouTube.

Setelah itu, saya beralih ke lantai 3 kantor. Meski sama-sama beda 1 lantai, kekuatan Wi-Fi DIR-842 di lantai ini lebih kencang dibandingkan dengan kekuatan di lantai 1 (-53 dBm vs -64 dBm). Di sini mengartikan bahwa router memiliki daya pancar lebih kuat ke arah atas dibandingkan dengan sebaliknya. Hal ini memang wajar.

Beralihlah saya ke lantai 4 kantor. Di sini, sinyal Wi-Fi dari router D-Link DIR-842 sama sekali tidak terdeteksi. Meski saya berkali-kali melakukan refresh di pengaturan Wi-Fi smartphone, sinyal dari router tersebut tetap tidak terdeteksi. Artinya, DIR-842 hanya mampu menyajikan pancaran Wi-Fi yang beda satu lantai.

Kesimpulan

Setelah menggunakannya, saya menyukai cara D-Link menghadirkan antarmuka konfigurasi yang sangat mudah dimengerti. Selama pengujian, kekuatan sinyal yang disajikannya cukup untuk rumah atau tempat bisnis UMKM yang hanya memiliki 2 lantai. Kestabilan sinyal yang ditawarkan juga cukup bagus saat saya melakukan streaming video. Untuk harga, router ini dibanderol dengan Rp 1.199.000.

 
D-Link DIR-842
Bagus ...
  • Koneksi stabil
  • Bodi ringkas
  • Pengaturan mudah
Kurang ...
  • Alas tidak dilengkapi karet
  • Bodi mudah terkena noda
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: