Review action camera

Review kamera saku Sony RX0 II, kecil-kecil cabe rawit

Kamera berdimensi 59 x 40,5 x 35 mm tersebut, mengantungi sensor Exmor RS berukuran 1 inci. Mirip dengan sensor pada kamera saku premium Sony RX100 VI yang berdimensi jauh lebih besar.

Review kamera saku Sony RX0 II, kecil-kecil cabe rawit

Mengkreasikan konten video seperti vlog, kini semakin jamak dilakukan pengguna. Tentunya kualitas video yang baik menggunakan kamera premium. Warna-warna reproduksi kamera premium berjenis DSLR maupun mirrorless ini memang optimal untuk tayang di Youtube.

Hanya saja, mengkreasikan konten vlog tampak "ribet" dengan penggunaan kamera berdimensi besar. Perlu kamera berukuran kecil dan mengakomodasi seluruh kebutuhan vlogging. Berkaca dari skenario tersebut, Sony menghadirkan kamera khusus vlogging terbaru bernama RX0 II (atau disebut juga dengan DSC-RX0M2).

Kamera premium berdesain mini

Memang, banyak produsen kamera yang menghadirkan produk khusus vlogging, tetapi rata-rata berukuran besar sehingga bobotnya agak berat. Meskipun mereka menghadirkan yang berukuran kecil, layar LCD di kameranya bersifat tetap, sehingga agak sulit mereka-reka ketika sedang ‘berbicara sendiri’.

Dengan tujuan, ingin memanjakan konsumen, RX0 II hadir dalam ukuran minimalis tetapi menjejalkan fitur layaknya kamera premium. Salah satunya adalah layar LCD dengan engsel sehingga memungkinkannya terlipat 180 derajat ke arah atas dan 90 derajat ke arah bawah. Dengan demikian, cara tersebut memungkinkan kamu mengeksplorasi pembuatan vlog dengan lebih leluasa tanpa terhalang pandangan. Saya pernah mencoba berlari sambil melipat layar, hasilnya adalah layar tetap di posisi yang sama. Ini menandakan engselnya cukup kokoh.

Kamera yang hanya berdimensi 59 x 40,5 x 35 mm tersebut juga mengantungi sensor Exmor RS berukuran 1 inci sehingga mirip dengan sensor yang ada pada kamera saku premium Sony RX100 VI, yang berukuran jauh lebih besar. Tidak ketinggalan pula prosesor gambar Bionz X, yang sekali lagi terdapat pada RX100 VI. Sony membekali RX0 II dengan lensa Zeiss Tessar T* yang memiliki focal length 24 mm serta apertur f/4, ini adalah focal lenght yang setara dengan kamera format full-frame. Menurut EXIF metadata dari foto yang saya potret, focal length ‘asli’ RX0 II adalah 7,9 mm.

Berbicara mengenai foto, kamera tersebut mampu mereproduksi resolusi gambar hingga 15,3 MP. Selain menghadirkan format JPG, kamu juga dapat memotret menggunakan format RAW agar dapat memberikan informasi lebih banyak ketika proses pengeditan ketimbang format JPG. Kecepatan memotret continuous 16 fps juga memastikan kamu menangkap subjek tanpa melewatkan momen berharga.

Dari sisi video, RX0 II dapat dibuat merekam hingga resolusi 4K/30p. Jika ingin memotret dengan refresh rate yang lebih mulus (60 fps), kamu dapat mengubah perekaman menjadi Full-HD. Agar hasil video lebih stabil, Sony melengkapi kamera dengan penstabil gambar elektronik (EIS), atau mereka menyebutnya sebagai SteadyShot.

Pengoperasian

Kamera ini memang tergolong kecil, tetapi akses tombol yang dipadukan oleh menu antarmuka yang cukup intuitif membuat saya tidak bingung dalam mengatur seluruh mode pemotretan atau fungsi-fungsi lainnya. Terdapat 6 tombol yang berada di dekat sisi layar LCD. Tombol-tombol tersebut adalah navigasi (atas, bawah, kiri, kanan), MENU dan DISP.

Tampilan menunya benar-benar mirip seperti kamera saku atau bahkan mirrorless Sony. Tidak mengherankan mengingat perusahaan asal Jepang tersebut mengklaim RX0 II masuk ke dalam kamera kelas atas. Meski intuitif, saya merasa tulisan-tulisan dalam menu terlalu kecil pada layarnya yang berukuran 1,5 inci. Seharusnya Sony membuat layar yang lebih besar mengingat bezel layar masih cukup besar untuk mengakomodasinya.

Tetapi saya merasa Sony juga sadar akan momok tersebut, dengan demikian mereka menghadirkan jalan pintas untuk masuk ke menu yang sering diakses. Contoh, tombol navigasi kiri dapat berlakon juga sebagai kursor untuk memilih aneka macam mode pemotretan dan perekaman, total ada 9 pilihan untuk memotret.

Tombol navigasi kanan juga berfungsi untuk menampilkan pengaturan fungsi (Fn) agar langsung dapat mengubah shutter speed, mode AF, resolusi, dan semacamnya. Tombol ke arah bawah bermanfaat juga untuk melihat hasil-hasil foto maupun video. Perlu diingat bahwa sekumpulan jalan pintas ini hanya dapat diakses ketika kamera dalam mode stand by atau tidak sedang menampilkan antarmuka menu.

Ada dua lagi tombol di bagian atas kamera yang masing-masing berfungsi untuk tombol daya dan tombol shutter. Kamu tetap dapat melakukan fokus dengan menekan tombol shutter setengahnya. Bersadarkan mengalaman saya, akses AF pada tombol ini sangat tipis, jadi saya harus menekannya secara lembut agar RX0 II dapat melakukan fokus sebelum mengambil foto.

Mengingat RX0 II memapu menahan air, aneka slot yang berada padanya dilengkapi dengan mekanisme tutup dengan kunci geser, pintu slot juga dilapisi karet agar menambah daya ketahahan air. Kompartemen baterai berada pada sisi kanan dan tempat slot microSD, port mini HDMI, jack audio, dan port micro USB ada di sisi belakang sebelah kanan yang juga dilindungi penutup.

Daya tahan air yang mampu ditanganinya hingga kedalaman 10 meter. Bodinya yang solid juga memungkinkannya tahan benturan. Namun saya sarankan kamu tetap berhati-hati ya ketika merekam di lingkungan yang ekstrem agar tidak membahayakan diri sendiri.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: