sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id qnap
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id advo
Jumat, 16 Apr 2021 10:09 WIB

Review Huawei Band 6, layarnya luas banget

Huawei baru saja meluncurkan Huawei Band 6 yang memiliki layar smartband terluas berukuran 1,47 inci.

Review Huawei Band 6, layarnya luas banget
Source: Tek.id

Aksesori pintar seperti smartband kini bukan hanya sekadar pemanis pergelangan tangan, tetapi juga pengontrol kesehatan dengan segudang fitur. Berbagai vendor smartphone kini sudah merilis produk tersebut, termasuk Huawei yang telah lama berkecimpung dalam industri wearable.

Huawei baru saja meluncurkan Huawei Band 6 sebagai penerus Band 4 yang resmi rilis di Indonesia pada Oktober 2019 lalu. Smartband ini menerima peningkatan, baik dari segi desain, layar, serta fitur kesehatannya. Saya berkesempatan mencoba smartband ini lebih dulu dan berikut kesan Saya setelah menggunakan Huawei Band 6 selama seminggu.

Desain

Pada smartband generasi baru ini, Huawei mengusung tema Full View, di mana layar tampil lebih besar, berukuran 1,47 inci. Ini merupakan peningkatan 148% dari pendahulu, yang hanya memiliki layar 0,96 inci. Bahkan, Huawei Band 6 disebut-sebut sebagai smartband dengan layar terbesar saat ini.

Dengan menggunakan smartband ini, Saya merasakan pengalaman yang sama dengan menggunakan smartwatch. Informasi waktu dapat terlihat dengan jelas karena font yang lebih besar. Ditambah, layarnya sudah menggunakan AMOLED yang membuat tampilan lebih jernih. Kecerahan level 3 saja dapat melawan teriknya sinar matahari. Saya masih bisa melihat elemen utama seperti gambar dan penunjuk waktu dalam layar dengan jelas. 

Huawei Band 6 hadir dalam empat pilihan warna, yaitu hitam, hijau, oranye, dan pink. Kebetulan yang Saya gunakan adalah varian hitam yang terlihat sporty dan tidak mudah kotor. Strap-nya terbuat dari bahan silikon tahan UV. Sayangnya, ujung strap yang terbuat dari plastik sedikit mengganggu untuk pemakaian jangka panjang. Jadi, Saya harus melonggarkan sedikit strap agar ujung yang berfungsi sebagai pengait tersebut tidak terlalu terasa.

Masih bicara soal strap, uniknya cincin silikon untuk menahan strap dari sisi lain didesain dapat mengunci strap. Ini berkat tonjolan yang ditujukan untuk masuk ke dalam lubang strap. Terlepas dari itu, strap menawarkan banyak lubang hingga ke ujung, yang memungkinkan dipakai untuk pengguna dengan berbagai ukuran lengan.

Di sisi kanan layar, terdapat tombol serbaguna berbentuk lonjong yang dapat digunakan untuk menyalakan smartband atau mengarahkan ke menu dan tampilan utama. Oh iya, Saya juga bisa mengatur tampilan utama dengan total 9 watch face yang tersedia di smartband. Namun, Saya bisa mengeksplor lebih banyak lagi melalui aplikasi Huawei Health di smartphone, dengan total 90 watch face.

Jika dilihat lebih dekat, bodi di sekitar layar memiliki warna abu-abu tua, begitu juga tombolnya. Menurut spesifikasi, rasio dari layar ke bodi sebesar 64%. Ini lebih besar dari merek pesaing yang hadir pada 2020 lalu dengan rasio 44%.

Fitur kesehatan dan olahraga

Seperti yang Saya katakan di awal, smartband kini menjadi alat pengontrol kesehatan kita serta pengawas olahraga. Beberapa fitur yang disediakan seperti Sleep Monitoring dan Pressure Monitoring dapat mengindikasi seberapa tinggi tingkat stres Saya. Di smartwatch, data tersebut berbentuk grafis dalam rentang waktu per 12 jam. Sedangkan di aplikasi, Saya bisa melihatnya per 6 jam dan melihat rata-rata tingkat relaksasi. 

Saya juga bisa mengikuti beberapa tes untuk mengetahui tingkat stres lewat deretan pertanyaan di aplikasi. Selama menjawab, smartband harus berada di lengan dalam keadaan diam. Sebab, smartband mengukur detak jantung Saya saat melihat dan menjawab pertanyaan, sebagai salah satu indikator tingkat stres.

Tampilan fitur Stress Level di Huawei Health

Layaknya smartband dan smartwatch masa kini, Huawei Band 6 dapat mengukur detak jantung serta saturasi oksigen dalam darah (Sp02). Perangkat mengukur Sp02 sepanjang hari, bahkan ketika Saya tidur. Ketika tercatat Sp02 rendah, perangkat akan secara otomatis mengingatkan lewat alarm. Namun, Saya tidak mengetahui bagaimana alarm itu berbunyi, karena syukurnya saturasi oksigen Saya normal selama seminggu terakhir.

Satu yang Saya suka dari smartband ini adalah fitur pelacak tidur atau yang disebut TruSleep. Saya dapat memantau waktu tidur hingga bangun serta melihat akumulasinya dalam sehari. Menurut Saya, ini penting karena tidak semua orang sadar berapa lama mereka tidur. Yang terlalu sering begadang, biasanya sering tidak menyadari kalau dalam sehari ternyata mereka hanya tidur dalam 2 jam. Dan ini tidak baik untuk kesehatan.

Tidak hanya tidur di malam hari, perangkat juga bisa merekam tidur siang Saya yang hanya sekitar 20 menit. Di samping itu, grafik dalam aplikasi menunjukkan kategori tidur, seperti gambar di bawah ini.

Tampilan fitur TruSleep di Huawei Health

Huawei Band 6 hadir dengan peningkatan mode olahraga, di mana mendukung 96 mode, termasuk lompat tali, lari, berjalan, renang, dan bersepeda. Perusahaan mengklaim, mode olahraga ini mencatat gerakan pengguna secara real time dan akurat. Saya pun memilih mode lompat tali untuk olahraga di dalam ruangan. 

Setelah melakukan lompat tali selama satu menit, hitungan yang Saya lakukan secara manual dan yang tertera di smartband sama. Mode ini juga dapat menunjukkan total lompatan yang dilakukan dengan stabil. Dengan kata lain, mode masih dapat menghitung lompatan Saya walaupun mulai melemah di akhir. Saya juga bisa melihat jumlah kalori yang terbuang, detak jantung selama berolahraga, serta kecepatan rata-rata.

Tampilan mode olahraga di Huawei Health

Mode olahraga lainnya seperti lari dan berjalan juga berfungsi dengan normal dan dapat Saya catat serta tinjau melalui aplikasi Health di smartphone.

Dukungan aplikasi dan fitur

    Tag
    Share
    ×
    tekid
    back to top