Huawei Freelace, earphone ringkas dengan ekstra bass

Huawei Freelace dirancang dengan material yang lentur dan tidak begitu kaku. Earphone-nya bahkan bisa memposisikan diri seperti sedia kala.

Huawei Freelace, earphone ringkas dengan ekstra bass (Foto: Tek.id)

Huawei selain memproduksi smartphone juga menyediakan beragam asesoris dengan kualitas mumpuni. Kali ini Tek.id berkesempatan mengulas salah satu earphone besutan Huawei, Huawei Freelace. Earphone ini mengandalkan konektivitas bluetooth sehingga memangkas kebutuhan port penghubung ke smartphone maupun perangkat lainnya.

Melalui perangkat ini, Huawei berkeinginan untuk menjangkau konsumen yang gemar mendengarkan musik, orang yang gemar akan teknologi baru hingga konsumen dari kalangan muda yang suka dengan hal baru serta stylish. Berikut ulasan Tek.id terkait kelebihan dan kekurangan Huawei Freelace.


BACA JUGA

Huawei Nova 5T muncul di Android Enterprise

Inikah wujud asli Huawei Mate 30 Pro?

Huawei siapkan aplikasi navigasi pesaing Google Maps


Desain

Kesan pertama meraba Huawei Freelace desain materialnya terasa mewah dan kokoh. Namun cukup fleksibel untuk pengguna yang memiliki mobilitas cukup tinggi. Lain dengan earphone bluetooth merek lainnya, Huawei Freelace dirancang dengan material yang lentur dan tidak begitu kaku.

Earphone-nya bahkan bisa memposisikan diri seperti sedia kala setelah digunakan atau meskipun perangkat dilipat. Hal ini dimungkinkan berkat hadirnya magnet pada sisi penampang housing earphone yang menjadikannya mudah untuk menempel satu sama lain.

Huawei mengklaim kabel fleksibel yang digunakan pada Huawei Freelace terbuat dari nickel-titanium alloy. Kelebihannya, material itu memungkinkan pengguna merasa nyaman menggunakan Huawei Freelace karena mampu mengurangi tekanan pada leher meski digunakan dalam jangka panjang.

Pengalaman saya menggunakan Huawei Freelace, bobotnya memang tak begitu berat untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama, apalagi saat dibandingkan dengan earphone bluetooth serupa yang memiliki tali lebih tebal. Teksturnya juga lembut dan nyaman menempel di leher. Jika digunakan sembari berolahraga, material Huawei Freelace juga terasa nyaman bahkan ketika leher agak berkeringat. Namun hadir dengan form-factor in-ear, membuat saya agak kesulitan untuk memasang Huawei Freelace di telinga saya. Hal ini dikarenakan dimensi housing earphone yang tergolong mungil. Jujur saja, saya merasa lebih nyaman menggunakan earphone berdesain earbuds.

Desain keseluruhan Huawei Freelace terbilang elegan dimana perusahaan tak begitu menerapkan banyak warna. Di sisi kiri, Sahabat Tek akan menemukan komponen baterai yang dibingkai menyerupai komponen berbagai tombol. Di sisi yang sama, terlihat merek tulisan Huawei yang ditulis dalam warna silver. 

Sementara itu di sisi kanan, terdapat tombol yang terdiri dari empat tombol. Tombol pertama yaitu tombol power yang dirancang memanjang, berdampingan dengan lampu indikator. Tombol power ini bisa difungsikan untuk mengaktifkan atau menonaktifkan earphone. Selain itu, Sahabat Tek juga bisa menggunakan tombol power untuk menghubungkan (pairing) Huawei Freelace ke perangkat lainnya semisal smartphone.

Tombol lainnya yang menyertai Huawei Freelace yaitu dua tombol volume dan satu tombol mutifungsi yang diapit tombol volume. Tombol multifungsinya memiliki tiga fungsi yakni untuk mengaktifkan asisten suara atau menolak telepon jika ditekan selama kurang lebih 2 detik. Saat ditekan satu kali, tombol mutifungsi bisa menjeda atau memutar musik, maupun menjawab dan menutup telepon. Fungsi lainnya adalah untuk memindah musik baik ke lagu selanjutnya (tekan 2x) atau lagu sebelumnya (tekan 3x).

Pengalaman saya, semua fungsi bisa dijalankan dengan baik. Saya sendiri menggunakan Huawei Freelace untuk memutar musik di Spotify, Youtube, hingga menelepon. Semua fungsi dari tombol earphone ini bisa digunakan pada beberapa aplikasi itu, begitu pula saat digunakan untuk menelepon atau memanggil asisten digital.

Penempatan tombolnya pun saya rasa nyaman untuk dijangkau dimana seluruh tombolnya bisa diakses dengan satu tangan. Desain tombol mutifungsinya yang simetris namun agak menurun, membuat saya lebih mudah mengenali berbagai tombol tanpa melihatnya secara langsung. 

Tak ketinggalan, Huawei Freelace juga menempatkan mikrofon. Namun penempatan komponennya berada di dalam, sehingga tak terlihat dari luar. Kendati demikian, fungsinya bisa berjalan dengan baik sebagaimana mikrofon yang seringkali terlihat dengan lubang kecil. Fitur lainnya yang belum saya temukan pada earphone lain adalah adanya port USB tipe-C, yang memudahkan proses pairing hingga pengisian daya baterai.

Performa

Audio tentu saja menjadi tolok ukur utama kualitas sebuah earphone. Di Huawei Freelace, saya merasakan kualitas audio yang nyaman di telinga. Apalagi sebagai penyuka musik R&B, karakter bass Huawei Freelace mampu mengakomodir instrumen musik dengan baik. Dengan begitu, saya betah menggunakan earphone ini dalam waktu cukup lama sembari menemani aktivitas harian saya.

Karakter bass Huawei Freelace terasa apik di berbagai tingkat volume, baik rendah maupun menengah. Bahkan di tingkat volume tinggi, bass-nya masih terasa nyaman terdengar dan tidak mengalami distorsi berlebihan. Earphone ini saya kira akan cocok untuk penikmat musik EDM atau para bass lover.

Secara umum, detil audio Huawei Freelace cukup berkualitas dimana audio terdengar jelas dari jenis instrumen. Treble-nya juga terdengar cukup jernih dalam volume rendah atau normal, meski sedari awal bass-nya agak mendominasi. Sayangnya saat volume tingkat tinggi, detail treble-nya mulai berkurang. Untuk diketahui, Huawei Freelace memiliki tingkat volume hingga 17 level.

Saat volume diatas sekitar 75%, frekuensi suara tengahnya cukup mendominasi semisal suara vokal atau pun gitar. Separasi stereonya juga terbilang bagus hingga volume ditingkatkan sekitar 80%. Lebih dari level tersebut, separasi stereonya sudah mulai terasa cukup buyar. Kendati demikian, secara keseluruhan saya suka dengan kualitas audio Huawei Freelace.

Kualitas audio saat melakukan panggilan juga tak kalah bagus. Suara lawan bicara saya pun terdengar jelas, tanpa noise berarti. Saya juga tak begitu terganggu dengan suara sekitar saya karena desain form-factor Huawei Freelace berdesain in-ear yang menutup lubang telinga. Salah satu kelemahannya adalah ketika digunakan untuk memanggil asisten digital (Google Assistant). Tombol multifungsinya bisa berjalan dengan baik ketika memanggil asisten digital itu, namun audio perintah yang terlontar terkadang tak bisa diakomodir dengan baik, terlebih ketika suara di sekitar cukup ramai.

Pengalaman penggunaan Huawei Freelace terbilang cukup mudah. Huawei Freelace sendiri memiliki metode khusus untuk terhubung (pairing) dengan perangkat Huawei lainnya. Dengan memanfaatkan USB tipe-C, earphone ini akan secara otomatis terhubung pada perangkat Huawei seperti smartphone. Namun fitur ini ditujukan khusus untuk perangkat Huawei.

Untuk merek lainnya, proses pairing hanya bisa dilakukan melalui tombol multifungsi untuk mengaktifkan mode pairing sehingga terhubung dan bisa digunakan untuk mendengarkan musik atau konten lainnya. Proses pairingnya terbilang normal, tak begitu lambat di perangkat merek apa pun. Sayangnya Huawei Freelace hanya bisa pairing pada satu perangkat. Untuk menghubungkannya pada perangkat lain, Sahabat Tek harus melakukan pairing lagi, namun tak selama proses pairing tahap awal.

Saya menggunakan Huawei Freelace untuk mendengarkan musik via Youtube serta Spotify. Selama kurang lebih 2 jam penggunaan, baterai earphone ini hanya terkuras 10% saja. Dalam durasi tersebut, telinga saya juga tak merasakan sakit karena cukup lama mendengarkan musik hampir non-stop. 

Jika di rata-ratakan, maka Huawei Freelace bisa digunakan selama 20 jam saat baterai penuh. Padahal perusahaan mengklaim daya tahannya mencapai 18 jam berkat dukungan chipset bluetooth-nya yang dirancang dengan proses manufaktur 28nm yang hemat daya. Berbeda dengan earphone mainstream dimana chipset-nya diproduksi dengan proses fabrikasi 40nm. Teknologi ini lah yang memungkinkan Huawei Freelace memiliki daya tahan yang cukup baik ketimbang earphone lainnya.

Untuk pengisian dayanya, Sahabat Tek bisa menggunakan dongle untuk dihubungkan ke laptop maupun powerbank. Dongle tersebut telah tersedia dalam paket pembelian. Jika port USB tipe-C dihubungkan langsung ke ponsel Huawei, earphone ini akan otomatis terisi dayanya. Namun fungsi ini tak bisa didapatkan melalui perangkat merek lain. Saat di coba di ponsel merek lain, tak ada indikator apa pun yang terlihat, baik pada layar maupun lampu indikator earphone.

Satu fitur yang menarik adalah Huawei Freelace bisa aktif dan mati secara otomatis. Saat housing earphone saling menempel karena magnet, bluetooth-nya menjadi non-aktif secara otomatis. Dan ketika housing earphone dipisahkan, Huawei Freelace akan aktif dengan sendirinya pada perangkat yang telah terhubung sebelumnya.

Kesimpulan

Huawei Freelace telah dipasarkan di Indonesia. Perusahaan mematok harga Rp999.000. Soal kualitasnya, tak diragukan lagi amat nyaman didengar di telinga. Sayangnya desainnya yang mungil agak sulit bertahan di telinga saya, meskipun kendala ini tak terjadi pada semua pengguna. Selain itu pairing-nya pun hanya bisa pada satu perangkat saja sehingga mengharuskan pairing ulang untuk menghubungkannya pada perangkat lain.

 
Review Huawei Freelace
Bagus ...
  • Bass bagus
  • Desain elegan
  • baterai tahan lama
Kurang ...
  • Pairing hanya satu perangkat
  • Earbuds gampang lepas
  •  
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: