Review headset gaming Asus ROG Delta

Headset ROG Delta, enggak usah tanya kualitasnya, beli saja

Headset gaming ini dilengkapi konektor USB-C untuk dukungan berbagai platform, seperti PC, Mac, smartphone, dan PS4.

Headset ROG Delta, enggak usah tanya kualitasnya, beli saja

Dalam hal suara, apa lagi yang diharapkan para gamer selain audio berkualitas tinggi dengan pemisahan tata suara demi mendengarkan perintah di dalam gim? Salah satu perangkat yang menjanjikannya adalah Asus ROG Delta. Headset gaming ini dilengkapi konektor USB-C untuk dukungan berbagai platform, seperti PC, Mac, smartphone, dan PS4. Berikut adalah hasil ulasan yang saya lakukan.

Desain

Kemasan ROG Delta terlihat garang yang mencerminkan bahwa ia siap digunakan untuk aneka macam gim: dari pertempuran sampai petualangan. Di dalam kemasan ini, Asus melampirkan beberapa aksesori, seperti adaptor Type-C to USB, dua pasang bantalan telinga, dan mikrofon yang berukuran sekitar 15 cm.

Adaptor tersebut berfungsi jika perangkat yang ingin Anda gunakan tidak mendukung konektor Type-C. Mengingat PlayStation 4 tidak memiliki antarmuka penghubung Type-C, adaptor tersebut pasti sangat berguna bagi Anda yang ingin bermain gim pada konsol keluaran Sony tersebut. Mikrofon ROG Delta dirancang berbentuk fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan jarak mulut.

Selain aksesori, tentu saja yang ada di dalam kemasan adalah headset itu sendiri. Sesuai namanya, ROG Delta memiliki bentuk mirip segitiga atau huruf D di masing-masing drivernya. Asus menyatakan ,desain seperti ini agar lebih ergonimos ketika digunakan.

Di sisi driver sebelah kiri, ada tombol kontrol yang berguna untuk mengatur volume, akses mute mikrofon, dan tombol akses On/Off lampu LED RGB. Asus menggabungkan tombol mute dan tombol pengatur volume menjadi satu. Tombol ini menggunakan mekanisme pegas, sehingga ketika menggerakkannya ke arah atas untuk meningkatkan volume, tombol akan kembali ke tempat semula.

Untuk melakukan akses mute mikrofon, cukup tekan tombol tersebut. Anda tidak akan dapat melakukan mute ketika tombol sedang digeser ke arah atas atau bawah. Hal ini demi menghindari terjadinya kesalahan tekan ketika Anda harus cepat-cepat menyesuaikan volume.

Ketika mikrofon sedang dalam keadaan mute, lampu LED di ujungnya akan menyala berwarna merah. Cara ini terdengar sederhanya, tetapi sangat berguna ketika Anda sedang melakukan pembicaraan bersama teman di tengah pertempuran gim secara online.

Bayangkan, jika Anda di tengah permainan yang mengharuskan memberi perintah untuk seluruh tim dan ternyata mikrofon dalam keadaan mute? Ini akan menjadi masalah besar. Oiya, konektor penghubung dari mikrofon ke ROG Delta menggunakan jack audio 3,5 mm.

Material yang digunakan pada rangka ROG Delta secara keseluruhan adalah plastik. Seperti headset gaming premium lain, plastik yang digunakan tidak terasa murahan. Malahan, saya merasa ia kokoh ketika memegangnya. Ada sepasang engsel di rangka driver dan headband. Engsel ini berguna untuk mengikuti tulang pipi ketika dikenakan.

Headband milik ROG Delta terbuat dari bahan empuk namun tidak terlalu tebal. Bahan, pelapis headband terbuat dari material mirip kulit. Selain berguna untuk meningkatkan tampilan estetika, lapisan tersebut berguna juga untuk menghindari headset tergelincir ketika dipakai.

Ketika mengenakannya, saya merasa earcup (bantalan telinga) ROG Delta cukup nyaman digunakan. Tetapi, karena headband yang terlalu panjang dan tidak dapat dipendekkan lebih jauh lagi, saya merasa headset ini terlalu menurun. Alhasil, bagian bawah driver agak terbuka sehingga menyebabkan suara sekitar masuk.

Fitur

Pada masing-masing tepian driver, Asus menanamkan garis LED RGB yang tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meningkatkan tampilan ketika digunakan. Lantaran dilengkapi tiga warna primer, LED ini mampu menghadirkan aneka macam pilihan warna yang diinginkan. Anda dapat memilih atau menyesuaikan warna sesuai selera menggunakan aplikasi Asus Aura.

Dalam aplikasi tersebut, terdapat banyak pilihan preset warna agar LED dapat menyala sesuai pilihan warna dan mampu berkedip agar tidak terasa bosan. Dari banyak pilihan penyesuaian warna, favorit saya jatuh ke opsi Music.

Dalam opsi ini, LED dapat berkedip sesuai irama lagu. Jadi, kurang lebih mirip seperti level desibel (dB) meter yang ada di panel equalizer pada umumnya. Intinya, LED RGB akan berkedip sesuai dengan tingkat dB tertinggi dalam suatu lagu atau suara.

Beralih ke sisi kabel, Asus melapisinya dengan bahan katun agar lebih kuat dan anti kusut. Kabel ini memiliki ukuran panjang 1,5 meter. Tetapi, jika Anda menyambungnya dengan kabel tambahan dengan ujung port USB, kabel akan menjadi 2,5 meter. Kabel adaptor (atau bisa dibilang ekstensi) memiliki material dengan kabel standarnya karena hadir dengan bahan lapisan standar, bukan bahan katun. Saya juga tidak mengerti mengapa Asus membedakan bahan pelapis kabel milik headset ROG Delta.

Di dalamnya, ada driver yang masing-masing berukuran diameter 50 mm. Magnet yang digunakan ROG Delta adalah tipe neodynium, sehingga memiliki tenaga yang besar demi menyalurkan respons frekuensi 20 Hz hingga 40.000 Hz.

Mengapa headset gaming ini mampu mengalirkan frekuensi setinggi itu? Padahal, maksimal pendengaran manusia saja maksimal hanya 20.000 Hz.

Rahasianya adalah bahwa ROG Delta dilengkapi dengan Quad-DAC yang berfungsi untuk mengatur frekuensi rendah, menengah, tinggi, dan sangat tinggi. kemudian sinyal frekuensi tersebut seluruhnya menjadi satu demi menghasilkan suara lebih jernih.

DAC sendiri adalah singkatan dari Digital-to-Analog-Converter. Dari namanya, sudah dapat ditebak bahwa sistem ini berfungsi untuk mengubah data digital ke analog. Telinga manusia tidak dapat mendengar sinyal digital, maka data suara yang disalurkan harus berbentuk analog. Sinyal analog ini berbentuk gelombang, sehingga pada akhirnya dapat diterima oleh telinga. Semakin mutakhir DAC yang digunakan, maka semakin bagus pula hasil suara yang dikonversi.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: