Tanpa Google, Huawei bakal jadi apa?

Google Services dan ekosistem yang menyokong Google Play Store dalam satu perangkat smartphone, kalau hilang, bisa menghancurkan sebuah perusahaan.

Tanpa Google, Huawei bakal jadi apa?

Google Play Store yang bakal hilang

Dengan absennya Google Play Store, Huawei harus menyiapkan toko aplikasi sendiri. Kendati dilaporkan sudah memiliki toko aplikasi sendiri bernama App Gallery, toh Huawei juga kabarnya menjalin kerjasama dengan Aptoide. Memang kalau melihat skala Google Play Store, Huawei harus bekerja sama dengan banyak pihak untuk menutupi kekurangan mereka.

Aptoide sendiri tersedia dalam 40 bahasa, telah diunduh 200 juta pengguna, dan punya 800 ribu aplikasi Android. Skala ekosistem Aptoide jelas lebih kecil dari kedigdayaan Google Play Store

Aptoide sendiri merupakan alternatif toko aplikasi untuk perangkat Android. Aptoide tidak seperti Play Store. Aptoide bukan sebuah toko aplikasi eksklusif. Pengguna Aptoide bisa mencari aplikasi yang tidak terdapat di Google Play Store. Tak hanya itu, pengguna juga ditawarkan untuk mengatur toko mereka sendiri. 

Di atas kertas, Aptoide memang menjadi solusi terbaik bagi Huawei dan tentunya, angin segar bagi para penggunanya. Sebenarnya bisa saja Huawei menggunakan toko aplikasi dan layanan yang sudah diberlakukan di Cina, tetapi mengedukasi konsumen luar negeri bukan perkara mudah. Sementara di lain pihak ada banyak ponsel Android yang bisa mereka pilih untuk menemukan layanan Google. 

Kalau berhasil, Huawei bisa membuktikan kalau Google bukanlah segalanya. Keberhasilan Huawei bisa jadi contoh bagi produsen smartphone lain.

Tizen, inisiatif gagal dari Intel dan Samsung

Tizen menjadi salah satu usaha yang gagal dari pengembangan platform mobile terbuka. Sebelum ini ada banyak platform yang coba dikembangkan, Moblin, Maemo, MeeGo. Embrio Tizen sendiri berasal dari MeeGo.

Perilisan sistem operasi Tizen sendiri mundur selama tiga tahun. Pengembangannya dilempar-lempar dari Nokia ke Intel lalu ke Samsung. Sampai akhirnya tidak ke mana-mana setelah itu.

Misi Tizen adalah mengembangkan sistem operasi yang mudah untuk berjalan dan mengembangkan aplikasi berbasis web-browser (HTML5). Tizen berbeda dengan Android. Android mengembangkan basis aplikasinya pada smartphone secara langsung (natif). Inisiatif Tizen ini awalnya datang dari Intel. Mereka yakin operasi ini akan berhasil.

Sayangnya Intel kehilangan partner perangkat kerasnya, Nokia. Ingat, untuk membentuk sebuah ekosistem digital ada tiga unsur yang diperlukan, pengguna-aplikasi-hardware.

Intel telah berhasil meyakinkan pengguna MeeGo untuk bertransisi ke proyek Tizen. Kendati begitu mereka frustasi saat Nokia memilih untuk menggunakan Windows Phone daripada MeeGo ataupun Tizen.

Saat itu, Samsung masih terbuka dengan ragam alternatif sistem operasi. Mereka terbuka untuk menggunakan Windows Phone, Android, dan masih membangun Bada OS, sistem operasi buatan mereka sendiri.

Memang selain itu ada banyak sistem operasi terbuka yang nyaris tidak masuk survei seperti Firefox OS. Kendati begitu, para pengembang yakin, nama-nama tersebut hanyalah sebatas untuk menyalurkan hobi penggila IT semata. Tidak adanya pemimpin industri yang hadir mendukung ekosistem ini membuat pengembangannya stagnan.

Kendati Tizen memiliki nama besar yang bisa memimpin masa depan ekosistem seperti Intel, Samsung, dan Linux Foundation, nama-nama besar itu memperlakukan proyek ini sebagai sekedar proyek pendukung. Mereka tidak meletakkan usaha serius dalam pengembangannya. Intel misalnya, pernah punya rumor untuk menelurkan perangkat smartphone mereka sendiri, demi mendukung sistem operasi buatan mereka sendiri. Mereka punya arsitektur x86 yang coba mereka adopsikan ke perangkat mobile, tapi tidak pernah terwujud sampai saat ini.

Sementara Samsung ikut ambil bagian dalam mengembangkan Tizen demi mengurangi biaya yang besar untuk mengembangkan Bada OS mereka sendiri. Mereka perlu sokongan dana Intel untuk membantu R&D mereka. Bagi Samsung smartphone Tizen ini hanyalah cadangan kekuatan untuk menggoyang kekuatan Android. Kendati mereka menikmati posisi tertinggi sebagai vendor smartphone nomor satu, berkat mengadopsi Android di smartphone mereka.

Secara teknis, Tizen OS ini bergantung pada HTML5, dimana aplikasinya berjalan di browser internet, bukan di dalam smartphone. Artinya, perangkat smartphone yang memiliki Tizen OS akan berharga lebih murah sekitar USD150-USD250 (Rp2,1-Rp3,5 juta).

Hanya saja, pabrikan smartphone asal Cina, India, dan Asia Tenggara, menghajar ekosistem Tizen dengan menciptakan smartphone Android di rentang harga yang sama. Strategi mereka adalah dengan membuat smartphone Android dengan versi sedikit lebih lama. Pemain kelas menengah ini hanya memberi sentuhan interface buatan mereka sendiri pada AOSP versi lawas, namun memubat harga hardware mereka jadi sangat terjangkau. Strategi ini cukup menekan kehadiran Tizen di pasaran.

Smartphone Samsung berbasis Tizen, Samsung Z2, sempat mampir ke Indonesia 2015 silam. Hanya saja penetrasi perangkat mereka berhenti di situ. Belakangan, Tizen fokus menjadi platform saja tanpa ada update hardware yang agresif di pasaran. Usaha Samsung mengembangkan Tizen kalau tidak bisa dibilang belum berhasil, maka gagal.

Kemudian, apakah Huawei akan meniru hal serupa? Atau mereka masih punya strategi lain? Kita tunggu saja.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: