Startup pertanian di Indonesia, kecil tapi layak didukung

Bagaimana perusahaan rintisan digital (startup) bisa mendorong kemajuan sektor pertanian di Indonesia?

Startup pertanian di Indonesia, kecil tapi layak didukung Startup pertanian belum banyak di Indonesia. (Ilustrasi: Taufik Fadillah/Tek.id)

Dari dua ribu lebih startup di Indonesia pada tahun 2019, sektor usaha tertinggi adalah on-demand services, financial technology (fintech) dan e-commerce. Walau jumlahnya meningkat dua kali lipat dibanding 2018, bidang usaha yang digeluti startup di Indonesia ternyata belum banyak berubah.

 


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Bagaimana posisi Indonesia di mata Industrialis Korea?

Perusahaan asal Korea ini punya solusi IoT untuk makanan dan minuman

14 startup asal Korea Selatan perluas pasar ke Indonesia


Ketertarikan startup terhadap ketiga bidang tersebut bukan tanpa alasan. Pertama, sudah ada startup yang sukses dan bisa menjadi role model. Sebut saja 4 perusahaan dengan valuasi di atas USD1 miliar (unicorn) di Indonesia: Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

 

Kedua, merujuk pada penelitian Google-Temasek tahun 2018, potensi ekonomi digital di Indonesia pada tahun 2025 mencapai USD100 miliar. Empat bidang usaha tertinggi adalah e-commerce, ride hailing, online media, dan online travel. Pertumbuhan dan potensi ekonomi digital Indonesia termasuk yang terbesar di kawasan ASEAN.

 

Bagaimana dengan sektor lain? Mengapa belum banyak startup yang fokus menggeluti hal yang sangat mendasar bagi kebutuhan hidup semua orang: makanan dan pertanian?

 

Pemerintah sebenarnya membutuhkan peran startup untuk memajukan pertanian dan juga perikanan. Penelitian McKinsey, tahun 2012, menyebutkan, pada tahun 2030 seiring bertambahnya jumlah konsumen yang relatif makmur di India dan China dan juga Indonesia sendiri, pemintaan terhadap produk makanan dan pertanian akan meningkat secara signifikan.

 

Yang mengkhawatirkan, kata McKinsey, peningkatan ini terjadi saat delapan juta petani Indonesia mungkin akan beralih dari pertanian dan lebih memilih mengadu nasib ke kota besar. Kondisi ini mengharuskan pemerintah untuk meningkatkan produktivitas di bidang pertanian dan perikanan. Sebagai gambaran, untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, pada tahun 2030, produktivitas petani Indonesia harus meningkat 60 persen dari hanya 3 ton per panen untuk tiap petani menjadi 5 ton.

 

"Di bidang pertanian, jika Indonesia melakukan tiga pendekatan: meningkatkan hasil panen, mengalihkan produksi menjadi tanaman bernilai tinggi, dan mengurangi kerugian pasca-panen dan rantai nilai, Indonesia bisa menjadi pengekspor besar bidang produk pertanian, menyuplai lebih dari 130 juta ton ke pasar internasional,” demikian kata McKinsey.

 

Potensi bidang pertanian sendiri bukannya kecil. McKinsey mengatakan, pendapatan negara dari pertanian dan perikanan bisa mencapai USD450 miliar pada tahun 2030. Potensi industri hilir makan dan minuman bisa berkembang menjadi USD180 miliar. Adapun potensi industri hulu, seperti mesin, pupuk, dan benih, berpotensi USD20 miliar per tahun.

 

Jika dilihat dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, langkah pemerintah sudah sesuai dengan penelitian McKinsey. Pertumbuhan industri pertanian rata-rata 3,7% per tahun (2015 - 2018) dicapai di antaranya melalui perbaikan infrastruktur, termasuk modernisasi pertanian untuk memacu produktivitas. Industri ini diharapkan mampu tumbuh setidaknya 3,85% hingga 3,93% per tahun, pada 2020 - 2024.

 

Di antara kendala yang menjadi sorotan di sektor ini adalah adanya penurunan minat petani muda. Pada Februari 2018, ketenagakerjaan sektor pertanian mencapai 36,91 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebaran petani muda (15 - 24 tahun) masih terbilang sedikit dibanding petani di usia lainnya. Data Februari 2018 yang disajikan Kementan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, persentase petani muda yang bekerja di subsektor tanaman pangan mencapai 8,25%. Petani muda di subsektor holtikultura 10,13%, perkebunan 13,02%, peternakan 14,95%, dan subsektor pertanian 11,11%.

 

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), tahun lalu, mengidentifikasi lima persoalan yang masih menerpa sektor pertanian dalam negeri setidaknya selama lima tahun ke depan. Sekretaris Jenderal HKTI Bambang Budi Waluyo menjelaskan, persoalan pertanian itu tak hanya terjadi pada lahan persawahan, melainkan pada lahan kehutanan dan rempah-rempah.

 

"Masalah pertama adalah permodalan, kedua lahan makin sulit, ketiga teknologi pertanian modern, keempat persoalan pupuk, dan terakhir soal pemasarannya," kata Bambang.

 

Menengok kiprah startup pertanian di Indonesia

Jumlah startup bidang pertanian di Indonesia baru mencapai puluhan. Sayangnya, belum ada yang benar-benar fokus memecahkan masalah mendasar bidang pertanian. Misalnya, inovasi di bidang irigasi atau teknologi benih.

 

Dari 15 startup pertanian yang dirangkum Tech In Asia, misalnya, tidak ada yang bergerak di bidang hulu. Sebagian besar hanya menawarkan jasa pemasaran dengan ide menghilangkan peran tengkulak. Ada pula yang menawarkan pendanaan, baik dengan pinjaman peer to peer maupun crowdsourcing.

 

Bandingkan, misalnya, dengan Israel, negara yang kerap disebut-sebut sudah memegang kunci pertanian dan makanan masa depan. Di negara tersebut, banyak startup pertanian yang hadir dengan solusi mendasar, termasuk sistem irigasi, teknologi benih, teknologi menumbuhkan daging di laboratorium, teknologi penyerbukan, teknologi baru untuk mengurangi dampak buruk gula, dan lain sebagainya.

 

Demikian juga dengan India. Negara berkembang tersebut memiliki beberapa startup yang fokus pada sektor hulu. Distinct Horizons, misalnya. Perusahaan berbasis di Hyderabad tersebut mengembangkan mesin yang membantu mengurangi kelebihan penggunaan pupuk hingga 30-40 persen. Mereka mengklaim, bisa meningkatkan produktivitas petani hingga 25 persen.

Lain cerita dengan Impeccable Innovations. Startup asal Bengaluru ini mengembangkan apa yang mereka sebut sebagai “nano nutrient”. Intinya, mereka meningkatkan efisiensi proses fotosintesis dan mendongkrak produksi tanaman. Hasilnya, seperti disampaikan Arnab Guha selaku founder, bisa meningkatkan hasil produksi padi dan gandum hingga 15 persen. Nano nutrient ini juga mengurangi penggunaan pupuk. Di bidang pupuk, India punya Vise Organic, startup yang fokus mengembangkan pupuk organik. Mereka juga membantu petani untuk membuat bio-pestisida dengan biaya yang jauh lebih murah daripada membeli ke pasar.

 

Meski demikian, bukan berarti kehadiran startup pertanian di Indonesia tidak penting. Justru sebaliknya, kehadiran mereka vital, setidaknya untuk mengatasi salah satu dari sekian banyak persoalan pertanian, terlepas dari besar kecilnya dampak yang mereka timbulkan saat ini.

 

Salah satu startup yang menarik dicermati adalah TaniHub. Startup yang didirikan Ivan Arie Sustiawan ini telah beroperasi di sejumlah wilayah: Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya. Melalui aplikasi TaniHub, Ivan dan timnya memfasilitasi petani untuk menjual hasil panen mereka kepada individu maupun pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di berbagai wilayah.

TaniHub sudah merilis aplikasi untuk Android

 

Produk pertanian yang telah dirangkul TaniHub melalui aplikasinya mencakup hasil petani di seluruh wilayah di Indonesia yang kemudian didistribusikan ke pulau Jawa. Dengan konsep ini, TaniHub mampu memangkas mata rantai yang selama ini menjadikan harga hasil panen petani tinggi. Oleh karenanya, pengguna aplikasi TaniHub bisa mendapatkan sayuran, buah-buahan, hingga produk peternakan seperti ayam maupun ikan dari tangan pertama.

 

“TaniHub memangkas supply chain dengan memanfaatkan berbagai teknologi yang ada. Petani bisa menjual hasil pertanian mereka langsung kepada pembeli. Dengan cara ini, petani dapat menjual hasil pertaniannya dengan harga yang lebih tinggi, dan pembeli dapat membeli hasil pertanian dengan harga yang fair… Dengan memanfaatkan teknologi seperti ini, hasil pertanian petani suatu daerah dapat dirasakan oleh banyak orang yang berada di luar wilayah pertanian tersebut,” ujar Ivan kepada Tek.id.

 

Operasional TaniHub yang mencakup beberapa wilayah di Indonesia, membuat perusahaan memahami masalah umum yang dialami petani. Di antara kendala yang petani Indonesia hadapi, yaitu akses terhadap pasar dan pendanaan. Oleh karenanya, TaniHub mencoba membuka akses pasar yang belum terjamah petani sebelumnya melalui aplikasi.

 

Menyadari adanya kendala pendanaan, TaniHub melalui TaniGroup juga menyediakan layanan pendanaan. Layanan yang dinamakan TaniFund ini memfasilitasi petani untuk terhubung dengan investor guna mengembangkan bisnis pertaniannya. Dalam praktiknya, TaniHub mengidentifikasi petani yang layak difasilitasi pendanaan, untuk memastikan hasil panen yang sukses.

 

Upaya serupa juga dilakukan startup Kredit Pintar. Perusahaan ini belum lama meluncurkan layanan “Petani Pintar” yang memungkinkan petani mendapatkan akses pendanaan yang mudah dan cepat guna menumbuhkan industri pertanian.

 

“Permasalahan yang sering dihadapi oleh petani di Indonesia, seperti permodalan mendorong Kredit Pintar untuk meluncurkan produk pertanian, yaitu Petani Pintar pada bulan Mei lalu. Melalui produk Petani Pintar, kami berharap dapat mendukung petani di Indonesia untuk meningkatkan produktivitasnya dalam memainkan peran untuk mendukung roda ekonomi di Indonesia,” kata Boan Sianipar, Vice President Kredit Pintar.

 

Layanan Petani Pintar untuk kali pertama diterapkan di Wonodadi, Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Petani Pintar memudahkan petani untuk memperoleh pembiayaan bibit dan pupuk hingga Rp2.000.000,- hanya dengan menggunakan KTP dan Kartu Keluarga.

 

Dalam pandangan Kredit Pintar, sektor pertanian memang layak dijadikan prioritas oleh pemerintah mengingat sektor ini merupakan pemasok andal ekonomi Indonesia.

 

“Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) sekitar 35,7 juta petani di Indonesia pada 2018. Hal ini menggambarkan bahwa mayoritas mata pencaharian di Indonesia, yaitu petani. Berdasarkan fakta tersebut, sektor pertanian di Indonesia sangat layak dijadikan prioritas. Terlebih lagi, sektor pertanian merupakan pemasok andalan terhadap sektor ekonomi di Indonesia,” ujarnya.

 

Berkaca pada hal tersebut, Kredit Pintar berupaya mengkaji produk pembiayaan petani dengan skala yang lebih luas dan nilai yang lebih besar. Baik TaniHub maupun Kredit Pintar, sepakat bahwa sektor pertanian memiliki peluang yang besar di masa depan. Hal ini karena pertanian di Indonesia masih sangat tradisional, sehingga teknologi akan mampu mengakomodir peluang yang lebih besar di masa mendatang.

 

Yang menjadi tantangannya adalah menjangkau lebih banyak petani lokal, khususnya yang masih memiliki keterbatasan akses, baik market maupun pendanaan.

 

Tentu saja, kemajuan pertanian kita tida bisa dibebankan kepada startup. Biar bagaimanapun, pemerintahlah yang paling bertanggungjawab terhadap hal tersebut. Keberadaan startup setidaknya bisa menjadi katalisator kemajuan. Di sisi lain, dukungan pemerintah bisa membantu startup memperluas skalabilitasnya.

 

Kita bisa belajar dari Jepang dalam hal peran pemerintah. Pemerintah menyediakan sarana input produksi yang memadai dan diserapnya hasil produksi oleh Japan Agriculture atau Koperasi Pertanian Jepang (JA). Japan Agriculture memberi bantuan pembiayaan tanpa bunga untuk pembelian pupuk dan pestisida. Untuk benih padi Japonica, petani menyediakan secara mandiri.

 

JA juga mengumpulkan, mengangkut dan mendistribusikan serta menjual produk pertanian, sekaligus menyediakan sarana produksi. Tak hanya itu, koperasi petani ini berperan sebagai pengatur pengolahan produk, sebagai bank, bahkan sebagai lembaga asuransi dan layanan kesehatan.

 

Dalam menjalankan fungsinya, JA membangun jaringan kerja sama yang sangat luas dengan pasar lokal khususnya supermarket, pasar internasional, dan seluruh wilayah pemerintahan di Jepang. Tak hanya itu, JA memiliki berbagai fasilitas pertanian yang tersebar di seluruh Jepang, seperti packaging center, processing center, pasar penjualan langsung, supermarket, gudang, penggilingan beras, fasilitas pembuat pupuk organik dan lainnya.

 

Sementara itu, Korea Selatan melalui Kementerian Pertanian, Pangan dan Urusan Pedesaan telah menerapkan teknologi pertanian cerdas yang berpusat pada pengendalian lingkungan secara otomatis, guna memelihara berbagai tanaman dan hewan. Pemerintah setempat berencana mengajak petani untuk mencoba teknologi pertanian cerdas baru, termasuk menyediakan teknologi pertanian pintar yang bisa disewakan.

 

Pemerintah Indonesia, melalui Badan Litbang Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian sebenarnya punya beberapa inisiatif untuk memodernisasi pertanian kita. Saat ini, terdapat 24 alat mesin pertanian (alsintan) hasil rekayasa Balitbang, di antaranya robot penanam padi, traktor otonom, alat panen, drone penebar benih, sterilisasi ozon, in-store controlled room (penyimpanan) pengemas benih, dan pompa hybrid.

 

Sebagai bagian dari pengembangan, belum lama ini Kementan melakukan uji coba drone penebar benih untuk menanam padi di lahan rawa seluas 3.591ha hasil program serasi.

 

“Dulu panen 1 ha membutuhkan waktu 25 hari, tetapi dengan kemajuan mekanisasi pertanian, saat ini hanya 3 jam," kata Andi Amran Sulaiman, Menteri Pertanian.

 

Tantangannya hampir mirip dengan yang dihadapi startup, bagaimana meningkatkan skala modernisasi tersebut, sehingga bisa menjangkau setidaknya 50 persen dari 35 juta petani Indonesia?

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: