Selain nuklir, Korea Utara punya senjata siber yang kuat

Tidak cuma punya nuklir antar-benua, Korea Utara juga punya kekuatan siber yang mengerikan.

Mei 2017, dunia dikejutkan serangan ransomeware bernama WannaCry. Presiden Microsoft, Brad Smith, menuding Pemerintah Korea Utara menjadi dalangnya.

Mengutip dari laporan The Telegraph, Brad Smith dengan percaya diri menyebut Pyongyang ada di balik ransomware yang menginfeksi data 200 ribu komputer di 150 negara seluruh dunia itu. "Saya pikir semua peniliti sudah tahu dan menyimpulkan bahwa WannaCry berasal dari alat ataupun senjata siber Korea Utara yang mereka curi dari National Security Agency (NSA) Amerika," katanya.

Mantan Deputi Direktur NSA, Chris Inglis, turut angkat bicara soal ini. Saat berbicara di hadapan akademisi dan praktisi keamanan siber di Cambridge Cyber Summit, Oktober ini, Chris mengatakan bahwa apa yang dilakukan Korea Utara dengan peretasannya adalah program siber yang paling sukses di planet ini.

"Bukan karena hal ini secara teknis sangat canggih, tapi karena program ini mampu memperoleh apa yang mereka inginkan lewat anggaran terbatas," ujar Charis.

Sangkutan dengan perang nuklir

Amerika dan Korea Utara menitikberatkan kekuatan siber ini sebagai salah satu senjata ampuh mereka. Laporan Edward J. Snowden beberapa tahun lalu menyebutkan, Amerika menciptakan senjata perang siber dan elektronik yang dikerahkan untuk menahan misil antar-benua Korea Utara.

Sementara Korea Utara melihat kekuatan siber ini sebagai taktik tingkat lanjut. The Telegraph melaporkan, seorang anggota parlemen Korea Selatan mengungkap bahwa Korea Utara berhasil mencuri data jaringan militer Korea Selatan. Mereka berhasil mencuri rencana perang, termasuk rencana pemenggalan kepala pemimpin Korea Utara.

Ini adalah bukti Pyongyang telah menanamkan sel digital tersembunyi di dalam infrastuktur pertahanan militer Korea Selatan. Bisa jadi, sel ini akan diaktifkan untuk melumpuhkan pasokan listrik, komando militer, dan kontrol jaringan internet militer Korea Selatan.

Tidak ada seorang pun yang menduga kekuatan tersembunyi ini sebelumnya. Robert Hannigan, mantan Direktur di Britain’s Government Communications Headquarters, pemimpin yang menangani pengintaian elektronik dan keamanan siber di Inggris, menyebutkan sebuah analogi menarik.

"Bagaimana negara terisolasi dan terbelakang punya kapabilitias seperti itu? Oke, lalu bagaimana cara menjelaskan negara terisolasi dan terbelakang itu punya kemampuan nuklir?"

Evolusi hacker Korea Utara

Kim Jong-il, ayah Kim Jong-un merupakan inisiator operasi siber Korea Utara. Dia seorang pecinta film dan menjadi penggemar internet. Ketika Kim Jong-il mati, 2011 silam, Korea Utara kira-kira memiliki 1.024 alamat IP. Jumlah IP tersebut jauh lebih kecil daripada satu blok wilayah di New York.

Kim Jong-il sebenarnya melihat internet sebagai ancaman bagi rezimnya karena kemampuan internet yang mampu membuka akses informasi bagi penduduknya. Namun, sikapnya berubah di awal 90-an, setelah satu grup ilmuan komputer Korea Utara kembali dari perjalanan luar negeri. Mereka menawarkan internet sebagai alat untuk memata-matai dan menyerang musuh, seperti Amerika dan Korea Selatan.

Korea Utara pun mulai mengidentifikasi siswa yang paling menjanjikan untuk melakukan latihan spesial ke berbagai kursus program ilmu komputer di Cina. Pada akhir 90-an, divisi kontra-intelejen FBI menemukan bahwa beberapa warga negara Korea Utara bekerja di Amerika dan diam-diam ikuti program kursus pemrograman komputer di beberapa universitas di New York.

Unit senjata perang siber Korea Utara mulai meraih prioritasnya setelah invasi Amerika ke Irak pada 2003 silam. Saat itu, menurut keterangan penghianat Korea Utara, Kim Heung-kwang, Kim Jong-il mengatakan kepada komandan tertingginya "Senjata perang di abad 21 adalah informasi."

Kim Jong-un, suksesor sekaligus anak Kim Jong-il mengembangkan operasi siber Korea Utara lebih dari sekadar senjata perang semata. Kim Jong-un pun mulai fokus ke pencurian dan gangguan siber, serta penetapan pilihan politik.

Analisis yang dirilis perusahaan keamanan siber, Recorded Future, menemukan aktivitas internet Korea Utara yang sangat intens di India, Malaysia, Selandia Baru, Nepal, Kenya, Mozambique, dan Indonesia.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: