Perusahaan keuangan makin giat gelontorkan dana untuk teknologi

Dana yang digelontorkan perusahaan financial service di Indonesia untuk teknologi diprediksi akan meningkat.

Perusahaan keuangan makin giat gelontorkan dana untuk teknologi source image : pexels

Dana yang digelontorkan perusahaan financial service di Indonesia untuk teknologi diprediksi akan meningkat. Data ini diperoleh IDC Indonesia setelah melakukan serangkaian riset di Tanah Air.

Pada 2017, dana yang digelontorkan untuk teknologi oleh perusahaan financial service mencapai Rp12 triliun. Namun di tahun 2022, jumlah tersebut meningkat hingga Rp23 triliun. Perusahaan perbankan juga melakukan hal yang sama dimana jumlah pengeluaran untuk teknologi akan meningkat menjadi Rp18 trilun dibanding Rp10 triliun pada 2017. 


BACA JUGA

Aplikasi Tcash segera migrasi jadi LinkAja

Resmi hadir di Indonesia, OneConnect siap rangkul pedagang pasar

738 fintech ilegal diblokir Kemenkominfo di 2018


Menurut IDC Financial Service IT Spending Guide (2017-2022), belanja teknologi untuk industri jasa keuangan Indonesia akan mencapai tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 12,5%. Dana tersebut dialokasikan perusahaan baik untuk hadrware, software maupun IT service.

Salah satu pertumbuhan terbesar terdapat pada kategori investasi terbaru, yakni Intelligent Automation yang menghubungkan cognitive-enabled channels, rekayasa ulang proses bisnis, Robotic Process Automation, dan Human-Augmentation melalui kecerdasan buatan. Dijelaskan Handojo H. Triyanto - Head of Indonesia Financial Insight, IDC Indonesia alasan dibalik peningkatan dana yang digelontorkan tersebut adalah adanya beberapa teknologi baru yang bisa mengakomodir layanan financial service dalam jangka panjang.

Handojo mencontohkan cloud, big data analytics serta aplikasi mobile yang mengharuskan perusahaan menggelontorkan cukup banyak dana. "Karena ada beberapa teknologi baru yang bisa adress seperti cloud yang pengeluarannya tinggi (ada juga) big data analytics, mobile apps dan sosmed yang membutuhkan banyak dana," kata Handojo.

Kendati begitu, IDC meyakini bahwa fokus kepada pelanggan masih belum menjadi prioritas perusahaan dibandingkan area lain seperti risk management, fraud management, dan regulatory compliance. Kendati begitu, perusahaan diprediksi akan mengembangkan pengalaman pengguna seiring pengeluaran teknologi semakin meningkat. Investasi-investasi baru dalam customer experience oleh institusi finansial Indonesia sendiri disebut mampu memperkenalkan layanan yang lebih personal, real-time serta proaktif.

Dalam hal pengalaman pelanggan misalnya, perusahaan layanan keuangan belum bisa memanfaatkan micro-location sebagaimana perusahaan lain. Pernahkah Anda mendapati pesan singkat (SMS) ketika di sebuah mall, kemudian Anda mendapati pesan promosi dari sebuah kafe atau outlet makanan? Fitur itu menurut IDC akan digunakan oleh perusahaan perbankan guna menjangkau konsumen dan memberikan pengalaman lebih.

"Penggunaanya bisa sederhana, terutama sisi marketing. Bank harusnya bisa kerjasama dengan telko, diharapkan bisa segera.. Penggunaanya tidak cuma marketing, tapi juga misalnya ada nasabah lagi jalan deket dengan kantor cabang, dan ada penawaran produk baru. Bisa juga mungkin identifikasi siapa, sehingga proses otentikasinya lebih cepet. Secara teknologi, ini bisa di lakukan segera. Tapi OJK (Otoritas Jasa Keuangan) atau bank mau nggak?," kata Handojo.

Selain itu, IDC juga memperkirakan bahwa teknologi face atau voice recognition akan digunakan oleh perusahaan layanan keuangan. Namun untuk di Indonesia sendiri teknologi itu disebut masih cukup lama untuk diimplementasikan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: