Catatan akhir tahun

Mobil listrik di Indonesia bukan sekadar mimpi belaka

Mobil listrik jadi salah satu fokus roadmap industri otomotif di Indonesia. Selain ramah lingkungan, regulasi dan ekosistemnya memang tengah bersiap.

Mobil listrik di Indonesia bukan sekadar mimpi belaka

Tesla mandiri dengan buat komponen sendiri

Kembali ke Tesla, Elon Musk pun cukup ambisius ketika berencana membuat mobil listrik. Dia bahkan mendirikan pabrik sendiri untuk menyuplai komponen utama mobil listriknya. Gigafactory didirikan tahun 2015 dan mulai beroperasi setahun sesudahnya. Pabrik ini secara khusus akan memproduksi baterai, dari bahan mentah hingga siap digunakan, dan mendaur ulang baterai lama menjadi baterai baru.

Upaya tersebut berlanjut ketika Elon Musk kembali mendirikan Gigafactory di New York. Gigafactory 3 bahkan sudah memulai proses konstruksi di Shanghai, China. Keberadaan Gigafactory praktis mampu menekan ongkos produksi mobil listrik dan powertrain Tesla.

Jika diperhatikan, strategi yang sama juga diterapkan Apple. Persis seperti Tesla (atau malah sebaliknya), Apple memproduksi sendiri komponen penting untuk produknya, misalnya chipset. Sementara komponen pendukung masih mengandalkan pihak lain. Berkat hal tersebut, Apple sukses membuat produk yang berbeda dari produk teknologi lainnya.

Pun demikian dengan Tesla. Baterai dan powertrain merupakan komponen paling penting dalam sebuah mobil listrik. Elon Musk tidak mau mengandalkan pihak lain untuk membuat komponen penting mobil listriknya. Sementara komponen pendukung, harus diakui, masih mengandalkan pihak lain.

Tak hanya itu, keunggulan lain yang diberikan Tesla kepada para penggunanya adalah kemungkinan untuk mengupdate software mobil listrik Tesla secara OTA (Over The Air).  Untuk lebih mudah memahaminya, bayangkan ketika ponsel Anda melakukan update aplikasi dari PlayStore atau App Store. Begitulah Tesla menyediakan update software kepada para pelanggannya. Hal ini tidak lepas dari peran Elon Musk yang memulai karirnya sebagai programmer.

Tesla bahkan merekrut beberapa punggawa perusahaan teknologi lain, seperti Apple dan Amazon untuk mengembangkan sistem Self Driving mobil listriknya. Misalnya, Stuart Bowers yang direkrut menjadi VP Engineering. Stuart akan menggunakan 12 tahun pengalamannya di bidang software dan matematika untuk mengembangkan machine learning dan infrastruktur Tesla. Dia pernah bergabung di Facebook untuk bidang yang kira-kira sama.

Nama lain, seperti Neeraj Manrao dari Apple, Mark Mastandrea dari Amazon, Alexandra Veitch dari CSRA ditarik untuk bergabung ke Tesla. Neeraj Manrao sendiri  sebelumnya menjabat sebagai pimpinan tim operasi teknik di Apple. Tesla mendapuknya sebagai Director of Energy Manufacturing.

Pangsa pasar Tesla pun termasuk menjanjikan. Sebagaimana dilaporkan Electrek, pangsa pasar Tesla terus menanjak naik semenjak tahun 2017. Di kuartal ketiga 2017, Tesla sudah memasarkan sebanyak 4.562 produk. Jumlah itu meningkat tajam dalam kurun waktu satu tahun. Peningkatannya bahkan mencapai sekitar 398 persen. Itu baru di California. Di pasar global, Tesla mengklaim sudah memasarkan 83.775 produk.

Kendati tumbuh secara cukup signifikan, pangsa pasar Tesla jika dibandingkan dengan mobil umum lainnya sangatlah kecil. Dari hasil riset yang dijabarkan Electrek, pangsa pasar mobil listrik di dunia hanya berkisar di 4 persen. Jumlah itu pun sudah termasuk dari penjualan Tesla yang melesat tajam.

Para penantang Tesla dari China

Berada di atas angin tidak lantas membuat Tesla menjadi aman. Beberapa pabrikan mobil lain mulai terangsang untuk menghadirkan mobil listriknya sendiri. Apalagi, setelah melihat potensi besar yang dimiliki mobil listrik.

Memang pada dasarnya, Elon Musk sangat mendorong pihak lain agar mampu membuat mobil listrik juga. Meski begitu, para penantang dari China ini jelas-jelas hadir untuk menjawab dominasi Tesla di pasar mobil listrik.

China dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat polusi yang cukup tinggi di dunia. Pemerintah China bahkan membatasi jumlah kendaraan yang bisa mengaspal di negara tersebut. Plat nomor hanya bisa didapatkan melalui proses lelang dengan harga yang sangat mahal dan undian dengan peluang 1:2031.

Pemerintah China sangat mendorong penggunaan mobil listrik untuk mengurangi polusi di negara tersebut. Pemerintah menjanjikan subsidi jika warganya hendak membeli mobil listrik. Tak hanya itu, pemilik mobil listrik bisa dengan mudah mendapatkan nomor kendaraan dibanding mobil yang masih menggunakan BBM.

Sebagaimana diketahui, China merupakan negara yang mampu menjual berbagai barang dengan harga terjangkau, tak terkecuali bagi mobil listrik. Di sana, harga mobil listrik dipatok sepertiga dari Tesla Model 3, yang notabene merupakan produk paling murah Tesla.

Beberapa nama seperti Geely dan BYD bersaing untuk menawarkan mobil listrik untuk warga China. Sayangnya, mobil listrik pabrikan China tidak memiliki daya tahan baterai seperti Tesla. Di musim dingin, baterai mobil listrik buatan China mudah terkuras.

Mobil listrik di Indonesia

Animo mobil listrik mau tak mau sampai ke Indonesia. Tesla sudah terjual di Indonesia sebagai mobil mewah. Melalui distributor, Prestige, mobil listrik ini memiliki harga Rp2 miliar. Kendati begitu, Pemerintah punya rencana untuk memproduksi kendaraan listrik nasional.

Industri mobil listrik di Indonesia sangat masuk akal untuk berkembang. Pasalnya kita kaya Sumber Daya Alam untuk bahan baku baterai lithium. Hal ini diakui sendiri oleh Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, saat ditemui di Jakarta (29/11).

Memang bukan Tesla yang melirik potensi Indonesia. Justru Hyundai yang mendeklarasikan kesiapan membangun pabrik mobil listrik di Indonesia sebagai bagian dari investasi US$ 880 juta atau Rp 12,8 triliun mereka. Dilansir dari Tempo (25/12) Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan pabrik Hyundai akan memiliki kapasitas produksi tahunan sekitar 250.000 unit.

Menteri juga mengungkapkan bahwa rencana saat ini 47 persen kendaraan yang diproduksi untuk dijual di pasar lokal dan 53 persen diekspor, sebagian besar ke Asia Tenggara dan Australia.

Posisi Indonesia saat ini, masih dalam tahap mengembangkan kendaraan listrik. Kerjasama dan riset terus digalakan. Selain Hyundai, Kementerin Perindustrian menggandeng Toyota. Lalu ada Pertamina yang menggandeng Universitas Sebelas Maret (UNS) yang telah berhasil memproduksi baterai Lithium-ion. Baterai ini digunakan untuk penggerak motor listrik.

Baterai yang dikembangkan Pertamina-UNS ini mampu menggerakkan sepeda motor listrik sejauh 80-100 kilometer dengan biaya hanya Rp5.000. Satu unit paket baterai kembangan Pertamina akan memiliki kapasitas 3 kWh untuk motor listrik berkekuatan 5 Kw atau setara dengan motor berkapasitas 125-150 cc.

Dalam hal regulasi dan roadmap mobil listrik nasional, Pemerintah sudah menyelesaikan tahapan-tahapannya. Airlangga menyatakan regulasi tinggal finalisasi fiskalnya di Kementerian Keuangan. Finalisasi fiskal ini bagian dari paket kebijakan mini tax holiday, dan super deductible tax. Paket kebijakan untuk merangsang investor mobil listrik agar melirik Indonesia sebagai tempat berinvestasi, berinovasi dan vokasi. Di sisi lain, kebijakan PPnBM tengah diulas kembali agar gap harga jual mobil listrik tidak terlampau jauh dengan harga mobil konvensional.

Kita nantikan saja perkembangan mobil listrik di dunia, khususnya Indonesia. Potensi yang dijanjikan cukup menggoda, murah dan ramah lingkungan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: