Catatan akhir tahun

Mobil listrik di Indonesia bukan sekadar mimpi belaka

Mobil listrik jadi salah satu fokus roadmap industri otomotif di Indonesia. Selain ramah lingkungan, regulasi dan ekosistemnya memang tengah bersiap.

Mobil listrik di Indonesia bukan sekadar mimpi belaka

Elon Musk boleh berbangga hati. Dia berhasil menyelamatkan hidup sejumlah warga California dengan salah satu fitur yang terdapat dalam mobil listrik buatan perusahaannya. Fitur tersebut adalah Bioweapon Defense Mode. Teknologi pada fitur ini diklaim mampu membantu penggunanya untuk bernafas lebih baik di dalam mobil. Pada pertengahan Juli hingga Agustus 2018, California sedang dilanda asap tebal akibat kebakaran hutan. Kondisinya semakin parah di bulan November. Kebakaran dan asap makin meluas diterpa angin.

Itu merupakan salah satu kelebihan yang ditawarkan mobil listrik besutan Tesla. Namun apa Tesla itu sebenarnya?

Sejauh diketahui, Tesla merupakan sebuah perusahaan otomotif Amerika yang bermarkas di Palo Alto, California. Namanya diadopsi dari seorang fisikawan terkenal, Nikola Tesla. Didirikan tahun 2003 oleh duo teknisi, Martin Eberhard dan Marc Tarpenning, perusahaan ini kemudian bergabung dengan Elon Musk, J.B Straubel dan Ian Wright sebagai investor.

Tesla merupakan satu dari sekian perusahaan yang fokus untuk memproduksi mobil listrik. Produk pertamanya diberi nama Seri A yang selanjutnya berjalan di bawah kepemimpinan Elon Musk semenjak Februari 2004.

Meski seri A didapuk sebagai produk pertama Tesla, namun justru Tesla Roadster-lah yang pertama kali menggunakan baterai lithium sebagai sumber penggeraknya. Tak hanya itu, Tesla Roadster juga menjadi mobil listrik pertama yang mampu melaju sejauh 200 mil atau sekitar 320 km dalam sekali pengisian daya.

Tahun 2012, Tesla mulai memperkenalkan Seri S. Seri ini mampu melaju sejauh 335 mil atau sekitar 539 km. Capaian itu berada di atas rata-rata jarak tempuh yang dimiliki mobil listrik lainnya.

Ada tiga konfigurasi yang ditawarkan Tesla Seri S, yakni 75D, 100D dan P100D. Masing-masing memiliki jarak tempuh sejauh 259 mil, 335 mil dan 315 mil.

Selanjutnya, Tesla juga memperkenalkan Seri X di tahun 2015. Model ini hadir dengan konsep SUV dengan tiga konfigurasi penumpang yang berbeda, 5, 6 dan 7 penumpang sekaligus. Model ini hadir lebih fancy dengan konsep pintu Falcon-wing. Di atas kertas, Model X mampu berjalan di rentang jarak 381-475 km. Perlu diketahui, model ini merupakan pengembangan dari Model S yang sebelumnya sudah diperkenalkan.

Sayangnya, model terdahulu Tesla, seperti model S dan model X masih dibanderol dengan harga yang cukup mahal. Varian terendah Tesla Model S dibanderol sekitar USD75.000 sementara model  X memiliki harga lebih mahal USD5.000 dari versi terendah model S.

Namun hal itu tampaknya menjadi salah satu visi yang dibangun Elon Musk. Dia ingin menjadikan Tesla sebagai pionir mobil listrik di dunia. Dalam sebuah blog yang dia tulis sendiri, Elon Musk menjabarkan rencana besar yang dibangunnya untuk Tesla. Musk menjual beberapa paten (komponen powertrain) ke manufaktur lain. Tujuannya agar produsen lain mampu membuat mobil listrik dengan harga yang lebih terjangkau.

Beberapa perusahaan yang sudah membeli powertrain Tesla antara lain, Daimler untuk mobil Smart EV-nya, Mercedes A Class dan Toyota untuk mobil listrik RAV4. Musk bahkan berhasil membujuk perusahaan-perusahaan tersebut untuk menanamkan modal jangka panjang di Tesla.

Jadi, yang dimaksud dengan Tesla Master Plan oleh Elon Musk tak lain adalah untuk membuat sebuah mobil listrik dengan harga terjangkau. Dalam blog Tesla, dia secara lugas menjabarkan mengapa generasi awal Tesla dibanderol dengan harga mahal. Tujuannya untuk mendanai riset agar generasi berikutnya mampu diproduksi dengan biaya yang lebih murah.

Kira-kira begini Elon Musk menulisnya: “So, the master plan is: build sports car. Use that money to build an affordable car. Use that money to build an even more affordable car. While doing above, also provide zero emission electric power generation options.”

Nah, generasi ketiga Tesla, yakni Model 3 punya cerita di baliknya. Sejatinya, model ini akan bernama Model E. Namun ternyata Ford mengajukan gugatan terkait model E tersebut. Hasilnya, Elon Musk mengumumkan akan menamakan seri ini Model 3, yang diperkenalkan tahun 2016. Model standarnya memiliki jarak tempuh 350 km, sementar model jarak jauhnya bisa melaju sejauh 500 km.

Tampaknya, visi yang dibangun Elon Musk mulai menunjukkan tajinya. Model 3 merupakan mobil listrik Tesla yang dibanderol dengan harga jauh lebih terjangkau ketimbang dua pendahulunya. Adapun Tesla model 3 dibanderol dengan harga mulai dari USD35.000.

Di samping fitur Bioweapon Defense Mode yang sudah dijelaskan di atas, Tesla juga mengusung fitur autopilot. Sistem Autopilot Tesla pertama kali diperkenalkan di September 2014. Fitur ini menjanjikan Adaptive Cruise Control (ACC), Lane Departure Warning yang akan memberitahu pengemudi jika kendaraan mulai keluar jalur, rem darurat, Autosteer, Autopark dan Summon, untuk mengetahui lokasi kendaraan saat berada di parkiran.

Berbeda dengan mobil listrik pada umumnya, Tesla menggunakan konsep unik untuk sumber penggeraknya. Alih-alih menggunakan sebuah baterai besar, Tesla justru menyematkan ribuan baterai lithium kecil untuk mengakomodasi bobot berbagai model Tesla. Cara ini juga diklaim lebih murah ketimbang menggunakan sebuah baterai berukuran jumbo.

Plus minus mobil listrik

Mobil listrik disebut-sebut memiliki sejumlah keunggulan jika dibandingkan dengan mobil konvensional yang masih menggunakan BBM. Perbedaan tersebut terutama terletak pada bahan dasar yang digunakan sebagai sumber dayanya, yang satu listrik dan satunya lagi minyak bumi.

Selain bahan dasar yang digunakan, perbedaan antara mobil berbahan bakar fosil dan mobil listrik berada di cara mesin mendapatkan energi gerak. Pada mobil berbahan bakar fosil, terjadi pembakaran bahan bakar menggunakan siklus empat langkah (4 tak). Keempat langkah tersebut adalah saluran masuk, kompresi, tenaga dan saluran keluar.

Pertama, bensin masuk ke dalam silinder, kemudian terkompresi bersama percikan api dari busi. Pada titik ini, campuran bahan bakar dan api menyala yang menyebabkan ledakan. Ledakan inilah yang menyebabkan piston bergerak ke bawah dan menggerakkan poros mesin untuk memproduksi gerakan. Langkah terakhir adalah saluran pembuangan yang dikeluarkan dari silinder sehingga mulai dari awal lagi.

Sementara mobil listrik memiliki metode jauh lebih sederhana. Aliran listrik yang berasal dari baterai disalurkan ke motor listrik, atau ada juga yang menyebutnya sebagai dinamo. Pada mobil berjenis ini, tenaga listrik diubah menjadi tenaga mekanik. Perubahan ini dilakukan dengan mengubah tenaga listrik menjadi magnet yang disebut sebagai elektro magnet.

Sebagaimana diketahui, kutub-kutub dari magnet yang sama akan tolak-menolak, sedangkan kutub-kutub magnet berbeda akan tarik menarik. Maka motor listrik akan semakin bergerak cepat jika energi yang listrik diterima lebih besar.

Dengan penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa mobil listrik tidak lebih rumit dibandingkan dengan mobil konvensional. Hampir semua mobil listrik tidak dilengkapi dengan gear percepatan. Sebagai perbandingan, mobil konvensional rata-rata dilengkapi dengan 5 kecepatan agar memiliki respon optimal, baik dari mobil mulai berjalan hingga berada di kecepatan tertingginya. Situs Road and Track menyebutkan, mobil listrik secara umum tidak memerlukan perpindahan gigi karena motor listrik di dalamnya memiliki rentang RPM yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mesin berbahan bakar cair.

Jadi, ketimbang melengkapi mobil listrik dengan sejumlah gear agar mesin tetap berputar stabil saat menghadapi berbagai rentang kecepatan, para pabrikan mobil listrik hanya melengkapinya dengan satu gear ratio yang menawarkan performa seimbang antara akselerasi dan kecepatan maksimal. Dengan tipikal motor listrik mampu berputar hingga 20.000 RPM, kecepatan maksimal dari keadaan berhenti dapat diraih dengan waktu relatif singkat.

Lantaran memiliki banyak gear untuk masing-masing kecepatan dan mekanisme pergerakan mesin yang cukup rumit, mobil konvensional harus menjalani perawatan berkala untuk ruang pembakaran dan oli untuk sekumpulan gear.

Oiya, perputaran mesin mobil berbahan bakar cair hanya satu arah. Jadi, jika kendaraan ingin mundur, perlu mengandalkan mekanisme gear agar roda mobil dapat berputar sebaliknya. Di sisi lain, karena hanya mengandalkan elektromagnet, mobil listrik hanya perlu mengubah aliran listrik agar motornya dapat berubah arah.

Mobil listrik memang sangat ramah lingkungan karena sama sekali tidak mengeluarkan emisi dari sisa pembakaran. Namun ada beberapa pihak berpendapat bahwa proses produksi mobil listrik tidak efisien. Hal ini dikarenakan generator dan baterai pada mobil tersebut mengandung material langka, seperti platina. Selain sulit diperoleh, proses penambangan planita juga memerlukan energi lebih banyak serta melepaskan bahan kimia beracun ke udara.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengisian daya. Mobil berbahan bakar diesel atau bensin hanya memerlukan waktu sekitar beberapa menit untuk mengisi tangki bahan bakar dari keadaan kosong hingga penuh. Dibandingkan dengan mobil konvensional, kendaraan listrik memerlukan waktu yang jauh lebih lama dengan rata-rata durasi pengisian selama 8 jam.

Namun hadirnya Supercharger Tesla membuat hambatan tersebut berkurang secara signifikan. Supercharger Tesla mampu mengisi baterai mobil listrik dengan daya 120 kW. Tesla mengklaim bahwa supercharger miliknya mampu mengisi baterai Tesla Model S dengan baterai 85 kWh sampai penuh hanya dengan waktu 75 menit. Rahasianya, charger ini akan menyuntikkan daya langsung ke baterai tanpa melalui power supply.

Baru-baru ini, The Verge memberitakan bahwa Porsche dan BMW menghadirkan stasiun pengisian mobil listrik yang tiga kali lebih cepat dibandingkan stasiun Supercharger milik Tesla. Diberi nama FastCharge, stasiun daya ini dapat mengisi ulang daya selama 3 menit untuk jarak tempuh 100 km. Ketika mengisi mobil listrik BMW i3, waktu yang diperlukan untuk mengisi daya baterai dengan sisa kapasitas 10 persen menjadi 80 persen adalah 15 menit.

Kecepatan isi ulang tersebut berkat daya pengisian yang cukup besar, yakni 450 kW. Secara teori, stasiun pengisian FastCharge memang memiliki kapasitas yang tinggi. Tetapi yang harus diperhatikan adalah jumlah daya yang dapat ditarik oleh kendaraan listrik jauh lebih sedikit.

Saat ini, kekurangan mobil listrik yang paling menonjol ada di durasi pengisiannya. Tetapi di masa mendatang, pasti ada teknologi yang memungkinkannya mengisi ulang secara cepat layaknya mobil dengan pembakaran bahan bakar internal.

Mari kita melihat contoh dari produk berbeda. Pada awal-awal ditemukan, kamera memerlukan waktu sekitar beberapa menit agar dapat menampilkan objek yang dipotret. Inilah yang menyebabkan hasil foto orang-orang pada zaman dahulu selalu memperlihatkan ekspresi wajah datar karena mereka harus berdiam diri dan menunggu hingga kamera benar-benar selesai mengambil gambar.

Nah, kemungkinan besar teknologi pengisian mobil listrik mendatang juga akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan sekarang.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: