Melirik Ampere, startup saingan Intel di industri server

Bukan ojek online, fintech, atau ecommerce, Ampere merupakan startup di industri yang tidak biasa yaitu server

Selain PC mainstream dan laptop, pasar komputer juga terdiri dari lini komputer server. Berbeda dengan lini lainnya, hampir seluruh pasar server saat ini dikuasai oleh satu perusahaan yaitu Intel. VentureBeat bahkan melaporkan saat ini Intel masih memiliki pangsa pasar hingga 99 persen. Artinya, hampir seluruh komputer server di dunia menggunakan prosesor Intel.

Intel bukannya tidak memiliki lawan. AMD yang merupakan pesaing utama Intel juga bermain di pasar server. Bahkan tahun lalu AMD merilis prosesor baru untuk server bernama EPYC. Sayangnya, AMD masih belum bisa menggeser dominasi Intel yang sangat kuat. Namun satu pemain baru yang memiliki potensi untuk bersaing ketat dengan Intel baru saja muncul.

Adalah Ampere, sebuah perusahaan rintisan (startup) yang didirikan oleh mantan presiden Intel, Renee James. Ampere merupakan perusahaan yang dikatakan akan memproduksi prosesor khusus untuk server. Menariknya, prosesor yang sedang dikembangkan oleh Ampere menggunakan arsitektur ARM, bukan x86 seperti yang digunakan oleh Intel.

Berbeda dengan x86, ARM merupakan arsitektur yang dirancang untuk digunakan di perangkat mobile karena memiliki efisiensi konsumsi daya yang sangat baik. Efisiensi tersebut yang sedang dikejar oleh Ampere. Mereka sangat ingin prosesor server-nya menjadi yang paling efisien di pasar.

VentureBeat melaporkan saat ini Ampere sudah memiliki prototipe prosesor server berbasiskan arsitektur ARM. Ambisi utama Ampere adalah menguasai pasar server dan data center, mengalahkan dominasi Intel yang sudah berjalan selama lebih dari 10 tahun bersama prosesor Xeon-nya.

Ampere sendiri merupakan startup yang dibangun dari "reruntuhan" Applied Micro, perusahaan pembuat microchip asal California. James sendiri menjelaskan bahwa startup-nya sangat unik. Selain bermain di lini server, Ampere juga bermain dengan arsitektur ARM yang sudah banyak ditinggalkan pemain besar seperti AMD.

James sendiri mundur dari jabatannya sebagai presiden Intel pada tahun 2016. Ia bergabung dengan The Carlyle Group yang kini menjadi investor utama untuk Ampere. James mengaku ambisi Ampere memerlukan biaya yang sangat besar. Meski tidak bisa menyebutkan jumlahnya, namun James mengaku sudah mendapatkan sebagian dananya.

"Untuk melakukannya (menggapai ambisi utama Ampere) diperlukan dana yang tidak sedikit. Kami sudah memilikinya sebagian," kata James.

James sendiri melihat potensi besar pada Ampere. Selain dibantu oleh para teknisi ahli dari Applied Micro, James juga merekrut berbagai teknisi ahli dari berbagai tempat, termasuk Apple, AMD, dan bahkan Intel. Beberapa teknisi yang direkrutnya adalah mantan Chip Architect Intel, Atiq Bajwa, serta mantan Chip Architect AMD, Greg Favor.

Analis dari Moor Insights & Strategy, Patrick Moorhead mengatakan Ampere memiliki potensi sangat kuat untuk merangsek dan berjaya di pasar server. Pasalnya, produsen chip besar lain seperti Calxeda, Marvell, Samsung, dan Broadcom memilih untuk tidak terjun karena pasarnya sangat menantang dan butuh dana besar agar bisa bersaing.

"Sementara Calxeda, Marvell, Samsung, dan Broadcom mundur karena tantangan yang besar dan dana yang dibutuhkan sangat besar, Ampere bisa memanfatkan momentum yang ada di dalamnya. Pasar server sudah lama menginginkan inovasi. Ampere dan timnya yang terdiri dari para ahli industri seharusnya bisa menghadirkan inovasi tersebut," kata Moorhead.

Salah satu celah yang bisa dimanfaatkan oleh Ampere saat ini adalah transisi ekosistem software yang sekarang sudah sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Ampere bisa saja membidik pasar server yang penggunaannya lebih spesifik dan modern seperti pemrosesan kecerdasan buatan (AI), hingga layanan cloud. Lini tersebut merupakan pasar yang sedang sangat tumbuh saat ini.

"Jika Anda membuat prosesor server berbasiskan ARM untuk aplikasi enterprise terdahulu, tentu Anda akan gagal," ujar James. "Namun jika Anda membuat prosesor ARM dengan pendekatan baru terhadap memori dan bandwidth-nya, serta didedikasikan khusus untuk penggunaan cloud maupun AI, ia akan menjadi mesin yang sangat berbeda," ujar James.

Ide dasar Ampere memang menciptakan prosesor server dengan yang mampu menghadirkan kapasitas dan performa memori lebih baik, namun dengan Total Cost of Ownership (TCO) yang lebih rendah. 

Ampere juga ingin menyelesaikan berbagai maslaah teknis yang selama ini ada di prosesor server, seperti performa memori, harga, besar ruang yang dibutuhkan, hingga konsumsi daya. Targetnya adalah pasar hyperscale cloud application yang menyediakan layanan public dan private cloud.

Selain Intel dan AMD, Ampere memiliki beberapa pesaing lain, salah satunya adalah Qualcomm yang saat ini juga tengah mengembangkan prosesor berbasis ARM. Namun Ampere tidak bisa dianggap enteng karena The Carlyle Group yang berada di belakangnya memiliki dana besar. Perusahaan investasi tersebut dikatakan memiliki aset hingga USD56 miliar (sekitar Rp759 triliun) dan berhasil meraup untung hingga USD76 miliar (sekitar Rp1.030 trilun) sejak tahun 1990.

Meski demikian, James tidak mau startup-nya tersebut dikatakan tampil untuk menyaingi Intel. Ia menegaskan Ampere memiliki tujan yang berbeda, yaitu membangun sebuah platform cloud baru.

"Kami tidak membuat komputer kuantum, atau PC, atau server enterprise. Itu semua spesialisasi Intel dan kami tidak ingin bersaing langsung dengan mereka karena saya tahu itu hal bodoh," kata James.

Prosesor Ampere pertama memang masih berupa prototipe. Namun prosesor yang menggunakan 32 core ARMv8-A 64-bit tersebut diklaim bisa berjalan di 3,3GHz dan mampu menggunakan memori hingga 1TB. Istimewanya, satu sistem server tersebut hanya membutuhkan daya 125 watt. Prosesor ini baru akan diproduksi secara masal pada tahun 2018.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: