Google: ekonomi digital Asia Tenggara di luar dugaan

Potensi ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara sangat besar, melebihi perkiraan Google dan perusahaan investasi besar dari Singapura.

Kawasan Asia Tenggara kini memilik pengguna internet terbesar di dunia. Warganet-nya melebihi populasi warganet di seantero Amerika Serikat. Internet pun membawa dampak lebih besar di kawasan ini. Google dan Temasek, perusahaan investasi Pemerintah Singapura merilis data menarik mengenai perkembangan ekonomi digital di kawasan ini (12/12).

Laporan ekonomi digital yang Google dan Temasek keluarkan 2016 silam menduga, ekonomi digital kawasan Asia Tenggara akan mencapai USD200 miliar pada 2025. Namun, kini dugaan itu tampaknya terlalu kecil, mengingat 2017 ini saja, kawasan Asia Tenggara memiliki kekuatan digital ekonomi sebesar USD50 miliar.

Travel online masih menjadi sektor terkuat dalam skala ekonomi digital. Pada tahun ini, sektor travel menyerap dana di internet hingga USD26.6 miliar. Pada 2015, sektor ini menyumbang USD19.1 dalam pergerakan ekonomi digital kawadan Asia Tenggara.

Pertumbuhan ekonomi terbesar ada pada sektor e-commerce dan transportasi, terutama ride sharing. Sektor e-commerce tumbuh sebesar USD10.9 miliar 2017 ini. Itu belum termasuk data dari platform jual beli barang bekas. Pada 2025 mendatang, sektor ini diharapkan mampu tumbuh hingga USD88.1 miliar.

Di sektor transportasi, Uber dan Grab masih bertarung di kawasan ini. Unicorn Indonesia, seperti Gojek tampaknya ingin ekspansi di luar Indonesia. Pada tahun 2017, pendanaan di sektor transportasi mencapai angka USD5.1 miliar. Diperkirakan, pada 2025 mendatang, industri ini tumbuh hingga USD20 miliar.

Indonesia, kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara akan menjadi arena kompetisi paling keras di sektor ini. Riset 2015 silam memprediksi, pangsa pasarnya akan naik lebih dari 40 persen di tahun-tahun yang akan datang.

Lebih jauh lagi, sejak pertama kali diteliti 2015 lalu, estimasi pengguna aplikasi ride-sharing melebihi perkiraan. Pada tahun 2015, pengguna aplikasi transportasi ini berjumlah 1,3 juta kali setiap harinya. Kini di 2017, angkanya melonjak tajam menjadi 6 juta kali setiap hari. Jumlah penegemudi pun naik empat kali lipat. Dari 600 ribu pengemudi pada 2015 menjadi 2,5 juta pengemudi di 2017 ini.

Sementara data temuan Google menunjukkan, tiap hari pengguna internet di kawasan Asia Tenggara menghabiskan waktu 3,6 jam mengkonsumsi internet mobile. Angkanya melampaui kawasan mana pun di belahan dunia yang lain. Thailand menjadi pemuncak dengan waktu per harinya mencapai 4,2 jam. Indonesia membuntuti dengan angka 3,9 jam per hari. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang hanya menghabiskan 2 jam per hari, serta Inggris yang cuma 1,8 jam per hari.

Google juga mengatakan, pengguna internet di kawasan Asia Tenggara menghabiskan waktu rata-rata 140 menit berbelanja online tiap bulannya. Sementara lebih dari USD12 miliar dana investasi mengalir ke perusahaan rintisan Asia Tenggara sejak 2016. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: