Fakta unik selfie dan dampaknya bagi sosial serta ekonomi

Siapa sangka modul kamera ponsel pintar awalnya dikembangkan untuk NASA

Ketika Anda mengambil swafoto (selfie), Anda harus mengingat nama, Eric Fossum. Ia adalah profesor teknik di Dartmouth College. Kamera ponsel pintar, webcam, bahkan beberapa mesin medis yang menggunakan kamera tidak akan pernah ada bila ia tidak menemukan sensor kecil pada tahun 1992.

Temuan Eric ini awalnya bukan untuk industri ponsel. Akan tetapi, temuan ini dikembangkan Eric atas dana proyek NASA. Tujuan awalnya adalah untuk memperkecil ukuran kamera, demi menjelajah antariksa. Akan tetapi, setelah penemuan ini selesai, komentar tim penemu waktu itu jadi berbeda.

“Wow, tidak hanya berguna di luar angkasa, tapi juga sangat berguna di planet ini,” ujar mereka.

Tentu saja ponsel pintar pada saat itu belum ada. Inisiatif awal yang paling masuk logika mereka adalah, membuat pil kamera yang bisa ditelan pengguna. Idenya untuk merekam isi perut pasien menggunakan kamera mini tersebut.

Pada saat yang sama, ada ketertarikan untuk menggabungkannya dengan ponsel. Ide awalnya adalah menempelkannya dengan ponsel. Bukan seperti kamera terintegrasi seperti umumnya kamera ponsel pintar modern.

Kemudian, para penemu ini menawarkan temuannya kepada perusahaan Jepang. Perusahaan ini berpikir kamera ponsel ini akan menyenangkan bagi gadis remaja Jepang. Awalnya, mereka berpikir kamera ini akan digunakan untuk memfoto sepatu, perhiasan, atau gaun semata.

Pada tahun 2002, Nokia dan Sanyo menjadi vendor pertama yang membawa teknologi active pixel sensor ini ke ponsel mereka. Sejak saat itu, cara manusia merekam dan membagikan pengalaman mereka, berubah secara fundamental.

Pada tahun 2003, Sony memperkenalkan ponsel flip berkamera depan 0.3 MP, Sony Ericsoon Z1010 menjadi perangkat ponsel berkamera depan pertama di dunia. Tidak ada yang menyangka, sentuhan kecil itu dalam satu dekade kemudian menjadi sesuatu yang sangat penting dan merevolusi sosial ekonomi dunia.

Era ponsel pintar

Selfie menjadi aktivitas yang sangat lekat dengan media sosial, Instagram, dan generasi millennials. Pengguna pun menjadi fotografer, editor foto, sekaligus publisher bagi foto diri mereka sendiri. Saking populernya kata selfie, pada tahun 2013, Oxford Dictionaries memasukkan kata tersebut sebagai kata baku.

 

Padahal pada awalnya, Sony menanam kamera depan di Ericsson Z1010 untuk memudahkan pengguna dalam melakukan panggilan video. Jadi dengan begitu, mereka tidak perlu lagi bergantung pada webcam dan kamera depan laptop saat melakukan panggilan Skype.

Pada tahun 2010, Steve Jobs merilis iPhone 4. Ia mendemonstrasikan kegunaan kamera depan dengan melakukan panggilan FaceTime pertama kali di hadapan publik. Ia melakukan konferensi dengan Jony Ive, Chief Design Officer Apple.

“Saya tumbuh di Amerika bersama (film) The Jetsons dan Star Trek serta communicators. Saya menghayalkan ini –menghayalkan panggilan video- dan kini semuanya jadi nyata,” ujar Jobs.

Ponsel pintar selfie

Ponsel pintar kini memiliki sensor kamera depan yang jauh lebih baik, canggih, dan lebih ringkas daripada Sony Ericsson 1010. Brand ponsel pintar Oppo misalnya, sejak 2016 mengubah haluan bisnis mereka menjadi pencipta ponsel pintar yang ahli di bidang swafoto ini.

Di Barcelona pada ajang Mobile World Congress, Oppo F1 dan F1 Plus diumumkan. Sejak saat itu Oppo fokus menggarap segmen ini hingga tiga rangkaian seri selanjutnya, Oppo F3 dan F5.

Sister company Oppo yang sekaligus menjadi rival mereka, Vivo pun menggarap segmen serupa. Tidak lama setelah Oppo meluncurkan serial ponsel pintar selfie mereka, Vivo pun menyusul dengan Vivo V5 pada akhir 2016. Strategi ini justru menggenjot pangsa pasar kedua vendor tersebut di kancah global maupun di Indonesia.

 
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: