eSport, bukan industri main-main

Banyak orang yang menganggap eSport sebagai ajang pembenaran anak untuk bermain gim seharian. Padahal, industri eSport saat ini sudah sangat menggiurkan.

eSport, bukan industri main-main Ilustrasi Industri eSport (Pixabay)

Sekarang kita tahu bahwa tim eSport bisa mendapatkan uang yang banyak dari banyak sumber. Lantas, bagaimana dengan para atlet? Apakah mereka mendapatkan gaji seperti para pekerja kantoran?

Saya pun sempat berbincang-bincang dengan manajer tim Onic, Chandra Wijaya. Meski tidak membuka nominal secara gamblang, dia mengindikasikan bahwa jumlah pundi-pundi rupiah yang diterima oleh para atlet mereka cukup besar.

“Mereka menerima gaji bulanan. Nominalnya saya tak bisa sebutkan. Tapi, beberapa anak-anak yang ada di Onic bisa membantu orang tua mereka, bisa menyekolahkan adik-adiknya,” ungkap Chandra.

Tapi, kisaran atlet eSport biasanya berhenti di kisaran 27-30 tahun. Saya pun penasaran bagaimana cara mereka akan menyambung hidup. Ternyata, Chandra pun mengatakan, mereka sudah mempersiapkan para atletnya untuk tetap bisa mendapatkan penghasilan meski telah pensiun menjadi atlet eSport.

“Banyak ya yang kita lakukan. Kita membimbing mereka untuk memanajemen uang mereka, memastikan mereka dapat terus menghasilkan setelah pensiun,” katanya.

“Kami juga membantu atlet kami untuk berkembang di luar menjadi atlet. Kami mendorong mereka untuk mencari hal lain yang mereka suka. Kalau mereka memiliki ketertarikan di musik, kita dorong. Kalau mau jadi konten kreator, kita bantu,” katanya.

Tak hanya sampai di situ saja. Mereka juga menjamin pendidikan para atlet mereka. “Ada beberapa atlet kita yang dari luar Jakarta, seperti dari Kalimantan. Itu kita sekolahkan juga. Sebelum kita bawa ke sini (Jakarta), kami datangi dulu orang tua mereka. Kita sungkem, minta izin. Kita janjikan pendidikan semua terjamin.”

Selanjutnya : Bukannya bermain seharian tidak sehat? >>>

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: