eSport, bukan industri main-main

Banyak orang yang menganggap eSport sebagai ajang pembenaran anak untuk bermain gim seharian. Padahal, industri eSport saat ini sudah sangat menggiurkan.

eSport, bukan industri main-main Ilustrasi Industri eSport (Pixabay)

Bermain gim tak akan bisa menjadi sebuah pekerjaan. Kalimat tersebut mungkin sering kita dengar dari orang tua, kepada anak mereka yang merupakan generasi Z. Mungkin beberapa di antara kita juga bahkan pernah mendengar langsung hal itu.

Banyak orang tua mengatakan bahwa eSport merupakan ajang pembenaran anak untuk bermain gim seharian. Tapi, kian lama kalimat tersebut semakin tak relevan lagi. Pasalnya industri electronics sport alias eSport terus bertumbuh. Hal ini menjadikan banyak tim eSport baik pemula hingga profesional semakin menjamur, bahkan di Indonesia.

Menurut data dari lembaga survei Newzoo, industri gim di Indonesia pada 2018 ada di urutan ke-17 di seluruh dunia. Bahkan, Indonesia berhasil mengungguli dua negara tetangga yakni Thailand dan Malaysia.

Dalam data tersebut terungkap juga jumlah gamer di Indonesia. Kini pemain gim di Indonesia sudah mencapai 46,2 juta orang. Jumlah ini sudah lebih dari setengah pengguna internet di Indonesia. Fakta ini mengukuhkan bahwa industri ini bukan hanya sekedar bisnis musiman, apalagi setengah matang. 

Tak sampai disitu saja, hadiah setiap pagelaran game besar tak tanggung-tanggung. Kami contohkan tiga gim populer saat ini, Dota 2, PUBG Mobile, dan Fortnite. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, mulai dari USD2,5 juta (Rp35 miliar) hingga USD32 juta (Rp448 miliar).

Bukan hanya industri gim saja, melainkan pada saat ini eSport sudah menjadi lahan bisnis. Lihat saja beberapa tim eSport besar Indonesia, seperti Onic. Mereka bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah tidak hanya dari hadiah saja.

Mereka memiliki beberapa cara untuk memastikan tim eSport mereka dapat berlatih tanpa harus memikirkan biaya. Utamanya mencari pendanaan dengan jalan sponsorship. Pendanaan model seperti ini sudah menjadi lumrah di industri olahraga mainstream. Onic pun melakukan hal yang sama. Mereka menggandeng Dana, salah satu fintech asal Indonesia sebagai sponsor mereka.

Lantas, timbul pertanyaan baru. Apa sih yang sebenarnya diharapkan oleh para sponsor dengan mendanai tim eSport? Ternyata, menurut Senior Marketing Manager DANA, Lim Wimawan, ada simbiosis mutualisme antara mereka dengan Onic.

Tapi, dibalik hal tersebut, Lim menegaskan bahwa ada kesamaan visi antara mereka dan Onic, yakni memajukan industri eSport. Onic memajukan eSport dari sisi mereka, Dana melakukannya dengan menyediakan platform pembelian in-game menggunakan platform dompet digital mereka.

“eSport punya masa depan yang sangat besar bagi kami. Millennial sudah banyak shifting, ditanya mau jadi apa, mereka mulai bilang menjadi pro esport. Tapi, kita tidak luput memperhatikan sisi perekonomian, terutama infrastruktur digital. Kita menyediakan platform untuk mempermudah industri game untuk berkembang,” kata Lim.

Selanjutnya : Sudah mulai dilirik Venture Capital >>>

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: