80% PC baru di Asia terinfeksi Malware gara-gara software bajakan

Hasil penelusuran uji cobapembelian PC oleh Microsoft menunjukkan, lebih dari 80% PC baru yang dilengkapi perangkat lunak bajakan di Asia terinfeksi Malware.

Sebuah uji coba pembelian PC (Personal Computer) yang dilakukan oleh Microsoft mengungkapkan bahwa empat dari lima (83%) merek PC baru di negara-negara yang diuji di Asia memuat perangkat lunak (software) bajakan. Sampel PC yang dibeli dari pengecer yang menawarkan PC dengan harga jauh lebih rendah, menawarkan paket software cuma-cuma untuk memikat pelanggan. Dalam banyak kasus, pengecer ini juga menjual perangkat lunak bajakan di toko mereka.

Asia PC Test Purchase Sweep dari Microsoft, memberikan pemahaman secara menyeluruh mengenai PC baru yang dilengkapi software bajakan dan risiko yang dapat timbul terhadap individu dan bisnis.


BACA JUGA

Bug berusia 19 tahun WinRAR digunakan untuk sebarkan malware

Waspada DrainerBot yang bisa kuras paket data

30 aplikasi pembersih smartphone terdeteksi ditunggangi malware


Mary Jo Schrade, Assistant General Counsel & Regional Director, Digital Crimes Unit, Microsoft Asia menerangkkan. "Penjahat siber terus mengembangkan teknik mereka untuk menghindari tindakan keamanan, dan menanamkan malware mereka ke dalam software bajakan adalah salah satu taktik yang memungkinkan mereka untuk masuk ke dalam banyak PC, mengakses, dan mencuri sejumlah besar data rahasia dengan mudah,"

"Ketika penjual menjajakan perangkat lunak bajakan yang berisi malware di PC mereka, mereka tidak hanya memacu penyebaran malware di wilayah tersebut tetapi juga menyerahkan informasi pribadi dan identitas digital pelanggan ke tangan penjahat siber," kata Mary.

Risiko Menggunakan Software Bajakan

Hasil penelusuran menunjukkan bahwa salah satu praktik paling umum bagi penjual yang menginstal software bajakan pada PC baru adalah dengan mematikan fitur keamanan. Triknya dengan mematikan anti-virus dan Windows Defender sehingga mereka dapat menjalankan alat peretas untuk mengaktifkan software bajakan. Namun, hal ini membuat PC rentan terhadap malware dan ancaman siber lainnya, dan para pembeli PC ini bahkan mungkin tidak menyadari bahwa PC mereka rentan.

Penelusuran itu juga menunjukkan bahwa 84% dari PC baru yang mengandung software bajakan telah terinfeksi dengan beberapa jenis malware, dengan malware yang paling umum adalah Trojans dan viruses.

Trojans adalah jenis malware yang digunakan oleh penjahat siber untuk mendapatkan akses jarak jauh dan mengendalikan perangkat, yang memungkinkan mereka untuk memata-matai pengguna dan mencuri data pribadi. Sementara Trojans umumnya bergantung pada beberapa bentuk rekayasa sosial untuk mengelabui pengguna agar memuat dan mengeksekusinya, menggabungkannya dengan software bajakan mempermudah penjahat siber untuk masuk dan mengendalikan PC.

Viruses adalah jenis malware yang dapat menyebabkan komputer yang terinfeksi melakukan berbagai hal tidak menguntungkan pemilik PC, seperti mematikan fitur keamanan perangkat, mengirim pesan spam, dan menghubungi host jarak jauh untuk mengunduh malware tambahan.

Temuan-temuan ini cukup mengkhawatirkan karena pelanggan sering membeli PC dengan penawaran khusus. Umumnya mereka membayar murah karena dilengkapi dengan software gratis, tidak menyadari risiko yang mungkin mereka hadapi. Dalam banyak kasus, mereka bahkan mungkin tidak menyadari bahwa fitur keamanan PC mereka dimatikan dan mungkin gagal mendeteksi aktivitas yang mencurigakan di perangkat mereka.

Banyak dari pengguna PC yang terinfeksi ini sangat rentan terhadap hilangnya data, termasuk dokumen pribadi dan informasi sensitif seperti kata sandi dan rincian perbankan, serta pencurian identitas di mana mereka kehilangan kendali atas akun media sosial dan email mereka. Pengguna mungkin juga mengalami penurunan performa PC yang disebabkan oleh malware, yang bekerja secara tidak langsung, dapat memperlambat kinerja perangkat.

Semua faktor ini dapat menyebabkan konsumen dan bisnis mengalami kerugian materi, waktu, dan produktivitas yang signifikan saat mereka berusaha menyelesaikan masalah.

Associate Professor, Biplab Sikdar, Departemen Teknik Elektro & Komputer, National University of Singapore (NUS), Fakultas Teknik, yang memimpin tim peneliti untuk mempelajari bahaya mengunduh dan menggunakan software bajakan tahun lalu, mengatakan “Pengguna biasanya beralih ke software bajakan karena lebih murah. Padahal biaya keuangan dan risiko menggunakan perangkat lunak bajakan biasanya lebih dari yang mereka bayangkan.”

“Pengguna harus lebih waspada saat membeli PC baru dan tidak terpengaruh oleh tawaran yang terasa mustahil. Penghematan biaya jangka pendek tidak sebanding dengan kerugian akibat kehilangan identitas digital dan data pribadi mereka,” kata Sikdar.

Praktik Utama Kebersihan Siber (Cyber-Hygiene) untuk Individu dan UKM

"Menggunakan perangkat lunak asli adalah garis pertahanan pertama melawan penjahat siber," kata Mary.

Langkah paling mendasar yang dapat dilakukan oleh pengguna untuk melindungi mereka secara digital adalah dengan selalu membeli PC dari penjual resmi dan bukan dari penjual software bajakan. Pastikan bahwa Anda mendapatkan software asli. Konsumen harus merujuk kepada situs penyedia software untuk mempelajari bagaimana cara membedakan software asli dari bajakan.

Selain menggunakan software asli, masyarakat juga dapat mempertimbangkan dan mengikuti rekomendasi berikut untuk melindungi diri mereka dengan lebih baik. Selanjutnya, selalu perbarui software dengan pembaruan sistem keamanan terbaru.

Ikuti praktik Internet yang aman seperti, jangan mengunjungi situs web yang dapat membahayakan perangkat. Perilaku mengunjungi situs konten dewasa, mengunduh secara ilegal, dan memasang software bajakan, serta membuka portal berbagi dokumen sangat tidak dianjurkan.

Hindari penggunaan software yang sudah sangat lama yang telah mencapai akhir masa pakainya dan tidak lagi didukung pembaruan dan sistim keamanan dari penyedia perangkat lunak.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: