Tiga hari mencoba berteman dengan Samsung Galaxy Watch

Dalam 5-10 tahun mendatang, saya membayangkan generasi anak saya akan berkawan akrab dengan gadget seperti ini.

Tiga hari mencoba berteman dengan Samsung Galaxy Watch

Cuaca panas menyergap di Pulau Bintan, Selasa (2/10), saya pun menengok Samsung Galaxy Watch di tangan saya. Saya putar bagian pinggir di layar jam itu untuk menemukan menu suhu udara dan perkiraan cuaca yang tersedia. Suhu udara memang mencapai 32 derajat celcius.

Sejak Senin (1/10) saya berkawan akrab dengan perangkat ini. Ketika pihak Samsung meminjamkannya kepada saya, gear ini hampir tidak pernah lepas. Saya pun lekas beradaptasi dengannya. Hanya saat tidur dan mandi saja baru saya lepaskan.


BACA JUGA

Fitbit Inspire sasar konsumen asuransi

Gambar smartwatch Samsung generasi baru tersebar

Berkat activity tracker, pembunuh ini dihukum berat


Pagi harinya, ketika saya membuka pintu kamar dan menghirup udara bebas polusi. Gairah saya untuk sedikit berolahraga pun bangkit. Saya ajak Galaxy Watch untuk beraktivas pagi hari. Bersama Galaxy Watch saya lari memutari lokasi menginap saya di Pulau Bintan. Lumayan, ada 1441 kalori yang saya bakar seharian itu. sekitar 600 kalori lagi untuk mencapai diet standar harian, yakni 2000 kalori yang direkomendasikan para ahli kesehatan.

Sampai di sini, penggunaan smartwatch besutan Samsung ini nampaknya sama dengan jam tangan pintar di pasaran. Sampai saya mengulik lebih jauh lagi ke dalam menu-menu yang tersedia.

Bixby

Akhirnya saya menemukan Bixby di Samsung Galaxy Watch ini. Kehadiran asisten digital inilah yang membuatnya unik. Lewat perintah suara, saya bisa memasukkan nyaris apa saja ke dalam jam tangan pintar ini. Saya mulai dari yang paling sederhana dan tentunya sesuai fungsi sebuah jam tangan. Mengatur alarm di pagi hari.

“Bixby, please set alarm at 6 a clock!” kata saya.

Memang seperti orang kurang waras kelihatannya, karena saya berbicara dengan sebuah jam tangan. Akan tetapi adanya timbal balik dari Bixby yang berupa jawaban menggunakan suara berkarakter perempuan membuatnya “lebih hidup”.

Alarm pun terjadwal seperti keinginan saya. Pihak Samsung juga sebenarnya sudah menjadualkan beberapa acara ke dalam Galaxy Watch yang saya pakai. Tiap kali bergetar di tangan, saya pun menengok benda itu. Waktunya untuk mengikuti jadual yang sudah ada.

Hari berganti hari, acara selama tiga hari dua malam pun berjalan padat aktivitas. Saya pun semakin senang memasukkan beberapa tugas ke Galaxy Watch yang saya pakai. Untuk beberapa tugas kecil seperti mengingatkan kegiatan, menelepon kolega, menjadualkan pertemuan, atau bahkan mengingatkan makan dikala saya sibuk sekaligus meratapi nasib masih melajang seperti ini. Luamayan lah, hidup saya sedikit teratur dalam berapa hari ini jadainya

Hanya saja kecerdasan Galaxy Watch masih terbatas. Beberapa pertanyaan pelik tidak bisa ia sanggupi. Jangankan iseng bertanya hal absurd seperti, di mana jodoh saya berada? Membuka Google Maps dari Galaxy Watch ke Galaxy Note 9 yang saya pegang pun masih belum bisa.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Bahagia itu kebutuhan, bukan cuma selingan #SuperNote9 #Note9xBintantrip #withGalaxy @samsung_id

Sebuah kiriman dibagikan oleh Lalu Ahmad Hamdani (@hamdanilalu) pada

Kendati begitu ada ruang di masa depan, vendor-vendor seperti Samsung bakal terus mengembangkan kecerdasan perangkat jam tangan pintar seperti ini ke level yang lebih tinggi. Pasalnya, ketika saya bersamanya, Galaxy Watch sudah tidak terasa seperti sekedar alat. Makin intensif saya berkomunikasi dengan benda ini, makin adiktif rasanya.

Ini pula bukan, yang terjadi antara kita dengan smartphone pribadi kita? Ia sudah bukan lagi alat bantu komunikasi, namun “kebutuhan” penunjang aktivitas sehari-hari.

Kuncinya memang ada di fitur voice command dan kecerdasan buatan yang terus dikembangkan berbagai pihak, entah Samsung, Google, Amazone, Alibaba dan lainnya. Smart watch akan terasa praktis ketika kita mengoperasikannya hanya lewat suara seperti yang saya lakukan terhadap Galaxy Watch tersebut.

Begitu repotnya kalau kita harus secara manual mengoperasikan sebuah jam tangan pintar. Saya sendiri pengguna regular Xiaomi Mi Band 2. Sebuah gelang tangan kesahatan elektronik yang mengandalkan navigasinya lewat layar sentuh. Sungguh menjengkelkan tiap kali harus beraktivitas olahraga, saya masih harus menyentuh-nyentuh layarnya untuk sekedar tahu berapa jarak tempuh lari pagi saya.

Akan berbeda ceritanya ketika jam tangan pintar bergetar ketika notifikasi masuk, atau kita sudah selesai berolahraga. Kita pasti akan melihat notifikasi tersebut karena secara naluri, kita terbiasa melihat jam tangan berulang kali dalam sehari.

Teknologi jam tangan pintar masih punya kans ke depan meski sudah cukup lama diperkenalkan di pasaran. Mungkin saya tidak akan aneh ataupun risih kalau suatu saat nanti anak saya akan bicara pada sebuah jam tangan, seperti ia bicara pada kawannya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: