Teknologi baru hadirkan isi ulang lebih cepat untuk mobil listrik

Ketimbang menggunakan dua elektrolit cair (negatif dan positif), teknologi ini menggunakan satu cairan dan anoda sementara yang diganti pada interval 5.000 kilometer.

Teknologi baru hadirkan isi ulang lebih cepat untuk mobil listrik Source: Lyna Landis, Purdue Research Foundation

Masalah utama yang ada pada mobil listrik adalah jarak tempuh dan waktu isi ulangnya. Rata-rata mobil listrik memiliki jarak tempuh sekitar 500 kilometer dan waktu pengisian sekitar 8 jam. Berbeda dengan mobil bahan bakar cair yang dapat menempuh jarak sekitar 1.000 kilometer serta waktu pengisian hanya beberapa menit.

Dilansir dari Clean Technica (8/2), para peneliti di Purdue University memiliki cara baru untuk mengisi baterai mobil listrik. Cara ini seperti mengisi baterai dengan aliran listrik biasa, tetapi dengan satu perbedaan penting. Ketimbang menggunakan dua elektrolit cair (negatif dan positif), teknologi ini menggunakan satu cairan dan anoda 'sementara' yang diganti setiap 5.000 kilometer. Mereka mengklaim butuh sekitar 5 menit untuk mengisi daya listrik dan sekitar 15 menit untuk mengganti anoda.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Mobil listrik Chevrolet punya suara mesin V8

Honda gabung Toyota, Mercedes, dan lainnya demi teknologi mobil otonom

Saingi Tesla, mobil listrik VW punya jarak tempuh 483 km


“Terobosan dari teknologi ini dalam dua tahun terakhir adalah bukti cara kami memberi daya pada kendaraan. Ini akan mengubah mobil listrik generasi selanjutnya karena tidak memerlukan infrasutruktur jaringan listrik yang sangat mahal di seluruh AS. Sebagai gantinya, orang dapat mengonversi pompa bensin untuk memompa elektrolit baru dan membuang elektrolit yang sudah habis dan mengubah fasilitas penggantian oli menjadi stasiun pengganti anoda. Lebih mudah dan lebih aman untuk digunakan serta tentu saja lebih ramah lingkungan dibandingkan sistem baterai yang ada,” kata Profesor di Purdue University, John Cushman.

Cushman dan rekannya Eric Nauman telah ikut mendirikan IFBattery Inc. untuk mengkomersialkan teknologi tersebut. “Baterai melakukan dua hal yakni menghasilkan listrik dan hidrogen. Itu penting karena sebagaian besar mobil bertenaga hidrogen berjalan pada tangki 5.000 atau 10.000 PSI, yang bisa berbahaya,” kata Senior Engineer Ifbattery, Michael Dziekan. “Sistem ini menghasilkan hidrogen sesuai kebutuhan, sehingga Anda dapat menyimpan hidrogen yang aman pada tekanan 20 atau 30 PSI, bukan 10.000.”

“Secara historis, aliran baterai belum kompetitif karena kepadatan energi yang rendah,” kata Cushman. “Misalnya, aliran baterai konvensional memiliki kepadatan energi sekitar 20 watt jam per kilogram. Baterai lithium-ion bekerja dengan daya atau 130 atau 140 watt per kilogram. Aliran baterai kami memiliki potensi untuk menjalankan antara 5 dan 10 kali jumlah itu.”

Mobil listrik konvensional seperti Tesla memiliki baterai lithium-ion yang biasanya diisi ulang dalam waktu semalaman. Teknologi baterai terbaru ini menggunakan cairan tunggal berbasis air yang dapat menjalankan mobil seperti itu, seperti baterai hibrida dan gas. Teknologi fluida tunggal mengoksidasi anoda untuk menghasilkan elektron, dan melalui reduksi di katoda, ia menghasilkan arus energi untuk menggerakkan kendaraan.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: