Teknologi autofocal janjikan penglihatan tajam di segala kondisi

Teknologi tersebut menggunakan lensa berisi cairan, kamera pendeteksi kedalaman dan sistem pelacakan mata untuk memastikan apapun yang dilihat tetap tajam.

Teknologi autofocal janjikan penglihatan tajam di segala kondisi Nitish Padmanaban, Stanford

Dalam titik tertentu, kualitas pengelihatan manusia pada akhirnya akan menurun. Presbiopia adalah bentuk umum dari penurunan kualitas mata yang disebabkan oleh usia. Kejadian ini terjadi karena lensa di mata menjadi kaku dan mengalami kesulitan fokus pada objek jarak dekat. Dilansir dari New Atlas (7/1), tim dari Stanford telah mengembangkan kacamata mutakhir yang disebut Autofocal.

Teknologi tersebut menggunakan lensa berisi cairan, kamera pendeteksi kedalaman dan sistem pelacakan mata untuk memastikan apapun yang dilihat tetap tajam. Solusi paling dasar untuk presbiopia kacamata baca, tetapi kacamata ini harus dilepas saat melihat kejauhan. Lensa progresif, yang memiliki banyak daerah untuk dilihat pada jarak berbeda, dapat dipakai setiap saat, tetapi memiliki minim fokus pada area pinggirannya.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Peneliti berhasil tumbuhkan kapas di Bulan

Ilmuwan buat teori elevator dari Bumi ke Bulan

Ilmuwan berhasil hasilkan energi dari udara dingin


Autofocal dirancang untuk memperbaiki masalah tersebut. Purwarupa lensa ini diisi dengan cairan yang bereaksi terhadap arus listrik, menjadi lebih tipis dan lebih tebal untuk mengubah kedalaman fokus sesuai kebutuhan. Sistem yang bekerja dengan lensa-lensa itu adalah pelacakan mata dan kamera pendeteksi kedalaman untuk menghitung seberapa jauh objek.

“Lebih dari satu miliar orang memiliki presbiopia dan kami telah membuat sepasang autofocal yang suatu hari nanti dapat memperbaiki penglihatan mereka jauh lebih efektif daripada kacamata tradisional,” kata penulis penelitian ini, Gordon Wetzstein.

Tim menguji autofocal pada 56 orang dengan presbiopia. Subjek uji melaporkan bahwa kacamata baru lebih mudah dan lebih cepat untuk membaca dan melakukan tugas-tugas lain.

Para peneliti mengakui mereka bukan orang yang menemukan lensa maupun teknologi pelacak mata, tetapi mereka tampaknya menjadi yang pertama untuk menggabungkan keduanya menjadi satu sistem untuk mengatasi masalah penglihatan. Perangkat serupa lainnya telah menggunakan lensa khusus dengan sensor gerak sehingga mereka berubah ke sudut yang tepat ketika pemakainya melihat ke atas atau ke bawah, ada pula yang memiliki roda agar memungkinkan fokus disesuaikan secara manual.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: