Pesawat ini terbang mengandalkan elektroda

Jika hal ini terdengar tidak biasa, cara tersebut sebenarnya adalah teknologi yang mungkin Anda kenal tanpa menyadarinya.

Pesawat ini terbang mengandalkan elektroda

Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) mengumumkan  telah berhasil membuat pesawat yang mampu terbang tanpa sistem penggerak konvensional. Model konsep pesawat terbang tersebut diklaim berbobot hanya 2,3 kg. Pesawat ini bergantung pada apa yang dikenal sebagai penggerak elektro aerodinamis untuk menghasilkan angin. Penggerak ini mampu mengangkat serta mendorong pesawat agar maju ke depan.

MIT Technology Review menjelaskan sebenarnya konsep ini sudah ada selama beberapa dekade, tetapi mengaplikasikan idenya terasa lebih sulit dibandingkan teorinya.


BACA JUGA

NASA berhasil temukan air di salah satu asteroid

Setelah mengalami kerusakan, roket Soyuz berhasil mendarat di ISS

Elon Musk manfaatkan ribuan satelit untuk membangun jaringan internet di bumi


Sistem ini membutuhkan sepasang elektroda, salah satunya ditempatkan di bagian depan. Car ini menghantarkan tegangan listrik yang besar ke dalam salah satu elektroda, serta memungkinkan ion terbentuk di udara dan mengalir dari elektoda satu ke elektroda yang lain. Saat partikel bermuatan itu menabrak molekul udara, ia menciptakan angin yang kemudian mengalir di atas sayap pesawat, kemudian memungkinkan pesawat menjadi terbang.

Kedengarannya memang tidak biasa, cara tersebut sebenarnya adalah teknologi yang mungkin Anda kenal tanpa menyadarinya. Jika Anda pernah melihat kipas angin tanpa kipas (bladeless fan) yang mana udara mengalir melalui lingkaran tanpa dorongan apapun, ini adalah basis teknologi yang sama pada pesawat buatan MIT.

Model pesawat konsep berukuran kecil dan ringan. Ini bukanlah teknologi yang benar-benar dapat menggantikan baling-baling atau mesin jet dalam waktu dekat. Akan tetapi sistem yang berbasis elektro aerodinamis ini secara signifikan dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar. Demikian dilansir BGR (22/11).

Sumber: Channel YouTube Nature Video

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: