Peneliti temukan molekul yang bisa simpan energi hampir dua dekade

Ketika molekul-molekul ini terkena sinar matahari, beberapa ikatan antara atom disusun kembali untuk membentuk quadricyclane.

Peneliti temukan molekul yang bisa simpan energi hampir dua dekade Source: Pexels

Tim peneliti dari Swedia yakin telah menemukan energi terbarukan yang selama ini dibutuhkan. Dilansir dari Forbes (7/11), energi yang dimaksud adalah bahan bakar termal surya yang dapat menyimpan energi hingga 18 tahun.

Sebagai alternatif baterai, cairan panas khusus matahari dapat menampung energi untuk jangka waktu yang lama dan mengeluarkan energi sesuai keperluan. Berbeda dengan baterai, bahan bakar panas matahari memancarkan hawa panas ketika diaktifkan melalui katalis. Artinya, cairan akan cocok untuk memanaskan rumah hunian dan komersil.

Bahan bakar tersebut terdiri dari molekul karbon, hidrogen, dan nitrogen. Ketika molekul-molekul ini terkena sinar matahari, beberapa ikatan antara atom disusun kembali untuk membentuk quadricyclane.

Konversi kimia ini menjadi struktur molekul berbeda yang disebut energi perangkap isomer dalam molekul. Versi molekul berenergi tersebut bersifat stabil, dengan ikatan kimia yang kuat. Ini adalah kunci bahwa molekul stabil dapat tersimpan selama hampir dua dekade tanpa kehilangan energi yang tersimpan.

Untuk melepaskan energi, molekul tersebut dapat dilewatkan melalui katalis, yang menyusun kembali ikatan kimia ke norbornadiene. Dengan demikian, melepaskan banyak panas. Tim menemukan bahwa proses katalis memanaskan bahan bakar hingga 63 derajat celcius. Ini berarti juga jika suhu sekitar adalah 21 derajat celcius, cairan akan memanas hingga 83 derajat celcius. Cairan yang dipanaskan kemudian dapat digunakan untuk memanaskan ruangan rumah dan sebagainya.

Dengan pengujian dan optimalisasi tambahan, tim yakin mereka dapat menghasilkan molekul yang dapat memanaskan bahan bakar hingga lebih dari 80 derajat celcius. Kemudian bahan bakar dapat dipertimbangkan untuk pembangkit listrik.

Meski ada banyak pekerjaan tambahan yang harus dilakukan, tim peneliti percaya teknologi ini dapat tersedia secara komersial dalam satu dekade. Ini sebagian karena meningkatnya minat investor dalam teknologi tersebut.

Pengembangan dan komersialisasi bahan bakar termal ini bisa menjadi kunci komponen lain dalam migrasi ke sumber energi terbarukan. Bahan bakar termal tidak memerlukan input luar selain matahari. Ketika kita terus mengembangkan teknologi baru dan memajukan teknologi yang ada, transisi ke sumber daya terbarukan tidak hanya menjadi lebih mudah, tetapi menjadi menguntungkan secara finansial.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: