Peneliti gunakan AI untuk deteksi efek samping obat

Kemajuan pada kecerdasan buatan atau artificial intelligence membantu para peneliti untuk memprediksi efek samping obat-obatan

Peneliti gunakan AI untuk deteksi efek samping obat (Foto: Consumer Reports)

Kemajuan pada kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membantu para peneliti untuk memprediksi efek samping obat-obatan. Dengan adanya informasi ini, pasien akan terbantu dalam meningkatkan keselamatan dirinya dari dampak yang ditimbulkan sebuah obat.

Sebagaimana diketahui banyak dari pasien yang diharuskan mengkonsumsi lebih dari lima obat per hari. Namun terkadang mereka tak memahami dampak apa yang akan mereka rasakan setelah mengkonsumsinya.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, persentase orang yang setidaknya menggunakan satu obat yang diresepkan dalam 30 hari terakhir adalah 48,9 persen. Persentase orang yang menggunakan tiga atau lebih obat resep dalam 30 terkahir sejumlah 23,1 persen. Sementara mereka yang menggunakan lima obat resep atau lebih dalam 30 hari terakhir sejumlah 11,9 persen. Data di AS ini menggambarkan banyak negara lainnya yang berpenghasilan tinggi.

Mulai dari aspirin hingga obat resep paling ampuh di pasar, semuanya hadir dengan efek samping tertentu baik kecil maupun serius. Misalnya obat apa pun yang efektif bisa menimbulkan efek mual atau sakit perut. Beberapa kalangan bisa mengalami alergi seperti ruam atau bahkan mulut kering. Dalam skala yang serius efek samping obat bisa menyebabkan pendarahan internal.

Meski efek samping obat tertentu umumnya diketahui, dilema bagi petugas medis adalah rumitnya mengetahui efek samping obat-obatan dalam hubungannya satu sama lain. Pasalnya kombinasi multi obat tidaklah praktis. 

Sebagai gambaran, ada sekitar 5.000 obat berlisensi dengan 1.000 efek samping yang diketahui. Artinya ada 125 miliar kemungkinan efek samping setelah obat yang berbeda digunakan.

Kabar baiknya, ilmuwan komputer dari Stanford University telah meneliti bagaimana memprediksi efek samping dari kombinasi obat-obatan dengan menggunakan AI. Sistem baru yang disebut Decagon ini dirancang untuk membantu dokter membuat keputusan yang lebih tepat terkait obat diresepkan. 

Platform ini juga memiliki potensi untuk menawarkan jalur peneliti guna menemukan kombinasi obat-obatan baru dalam mengobati penyakit kompleks. Decagon dilatih menggunakan deep learning untuk menguji platform pada kombinasi obat yang diketahui. 

Saat ini AI hanya bisa menilai kombinasi obat. Tujuannya di masa mendatang adalah mengunakan sistem untuk tiga atau lebih obat yang dikombinasikan. Penelitian ini telah disampaikan kepada International Society for Computational Biology di Chicago bulan ini. Demikian dilansir Digital Journal (16/7).

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: