Orang bisa kendalikan mobil listrik dengan otak lewat teknologi BMI fleksibel

Sensor nirkabel yang fleksibel dapat direkatkan pada kulit, bersama dengan elektroda lain. Data EEG diproses dalam tambalan fleksibel dan kemudian dikirim secara nirkabel ke komputer.

Orang bisa kendalikan mobil listrik dengan otak lewat teknologi BMI fleksibel Source: Hong Yeo via Digital Trends

Sudah ada beberapa visioner teknologi yang mengembangkan antarmuka 'mesin otak' (brain-machine interface / BMI) untuk melakukan segalanya mulai dari menciptakan indra keenam hingga mengendalikan alat bantu dengar.

Salah satu area aplikasi utama untuk teknologi ini adalah memungkinkan orang dengan cacat fisik seperti cedera tulang belakang untuk lebih mudah berinteraksi terhadap lingkungan mereka dengan mengendalikan kursi roda, berinteraksi dengan komputer, atau mengoperasikan robot kecil.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Mobil otonom Toyota hadir untuk antar para atlet Olimpiade 2020

Robot vakum Samsung bisa deteksi material lantai secara otomatis

Toyota gunakan VR untuk melatih robot asisten rumah tangga


Dilansir dari Digital Trends (22/9), teknologi BMI saat ini membutuhkan penggunaan sistem berukuran besar yang disebut electroencephalograph (EEG). Secara tradisional, sinyal EEG diukur menggunakan penutup di seluruh kepala. Dengan demikian, para peneliti ingin menemukan cara untuk menyederhanakan teknologi ini dan membuatnya lebih simpel untuk digunakan dalam situasi sehari-hari.

Sekelompok peneliti dari Georgia Institute of Technology, University of Kent, dan Wichita State University bersama-sama telah mengembangkan sistem EEG portabel yang dapat dipasang dengan mudah di pangkal leher. Sensor nirkabel yang fleksibel dapat direkatkan pada kulit, bersama dengan elektroda lain. Data EEG diproses dalam tambalan fleksibel dan kemudian dikirim secara nirkabel ke komputer melalui Bluetooth.

“Pengembangan ini menghadirkan strategi mendasar untuk merancang sistem EEG portabel yang ergonomis untuk berbagai macam alat bantu, sistem rumah pintar, dan antarmuka neuro-gaming. Inovasi utama adalah pengembangan paket terintegrasi penuh sistem pemantauan EEG resolusi tinggi dan sirkuit dalam sistem konformasi kulit miniatur,” kata asisten profesor di universitas tersebut, Woon-Hong Yeo.

Agar dapat menguji apakah sistem bekerja, para peneliti mengambil enam orang yang mampu menunjukkan bahwa mereka dapat menggunakannya untuk mengendalikan kendaraan listrik dan robot kecil. Langkah selanjutnya adalah memperbaiki elektroda dan menguji sistem untuk mengetahui apakah ia berfungsi untuk orang dengan gangguan motorik. Ini bisa menjadi cara bagi penyandang cacat untuk berinteraksi dengan komputer dan mesin dengan cara yang lebih nyaman serta praktis.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: