sun
moon
Premium Partner :
  • partner tek.id praxis
  • partner tek.id asus
  • partner tek.id advo
  • partner tek.id benq
  • partner tek.id wd
  • partner tek.id acer
  • partner tek.id synologi
  • partner tek.id oppo
  • partner tek.id qnap
Kamis, 31 Des 2020 11:42 WIB

Pelajari cuaca di ruang angkasa jadi misi terbaru NASA

NASA menyetujui dua misi heliofisika yang bertujuan untuk memahami cuaca di ruang angkasa, yaitu Extreme Ultraviolet High-Throughput Spectroscopic Telescope Epsilon Mission (EUVST) dan program Electrojet Zeeman Imaging Explorer (EZIE).

Pelajari cuaca di ruang angkasa jadi misi terbaru NASA
Source: NASA

NASA telah menyetujui dua dari tiga proposal terkait misi heliofisika yang bertujuan untuk memahami cuaca di ruang angkasa, seperti angin, ledakan matahari, dan kondisi lainnya. Dua misi itu adalah Extreme Ultraviolet High-Throughput Spectroscopic Telescope Epsilon Mission (EUVST) dan program Electrojet Zeeman Imaging Explorer (EZIE).

EUVST adalah proyek teleskop tata surya yang akan melihat lebih dekat bagaimana atmosfer matahari melepaskan angin serta memuntahkan bahan surya. Fenomena tersebut telah memengaruhi tingkat radiasi ruang angkasa. Proyek yang akan diluncurkan pada 2026 ini dipimpin oleh Badan Eksplorasi Dirgantara Jepang (JAXA). Dalam kerjasamanya, NASA akan menggelontorkan USD55 juta serta kontribusi perangkat meliputi detektor UV, elektronik pendukung, komponen spektograf, dan teleskop pemandu.

Pada 2017 lalu, tim EUVST telah merekomendasikan tentang bahasan yang ada pada misinya ini lebih dulu. Dan kini, timnya akan melakukan pengukuran spektroskopi UV yang komprehensif dari atmosfer matahari pada tingat detail tertinggi, seperti yang dilaporkan oleh NASA (31/12). Hasil dari pengukuran dapat memungkinkan para ilmuwan untuk mengetahui bagaimana proses magnetik dan plasma yang berbeda mendorong pemanasan koronal dan pelepasan energi.

Sementara itu, EZIE merupakan misi yang menggunakan tiga satelit kecil untuk mempelajari elektrojet aurora atau arus listrik di atas kutub yang menghubungkan aurora dengan magnetosfer Bumi. Fenomena elektrojet aurora ini dapat mengganggu sinyal radio dan komunikasi, serta merusak pesawat ruang angkasa di orbit. Maka dari itu, ilmuwan ingin mempelajari lebih dalam tentang elektrojet melalui misi ini.

“Dengan misi baru ini, kami memperluas cara kami mempelajari matahari, ruang angkasa, dan Bumi sebagai sistem yang saling berhubungan.” Kata Peg Luce, wakil direktur Divisi Heliofisika di Markas NASA, Washington.

Tag
Share
×
tekid
back to top