NASA mulai meneliti kandungan air di Bulan

NASA mulai meneliti kandungan molekul air yang terdapat pada permukaan Bulan. Hal ini memiliki potensi besar untuk mendukung misi mengirim manusia ke Bulan.

NASA mulai meneliti kandungan air di Bulan Source: Google

Bulan selama ini dikenal sebagai benda langit yang gersang dan tidak mengandung air di permukaannya. Namun, NASA mengklaim bahwa beberapa astronom mulai berasumsi kalau air ternyata ada di Bulan. Air tersebut terisolasi di kantung-kantung es di dekat kutub Bulan.

Beberapa penemuan yang terjadi akhir-akhir ini, termasuk yang berhasil ditemukan NASA, mulai mempertanyakan pemahaman para ilmuwan tersebut mengenai hidrasi yang ada di Bulan. Saat ini, para astronom percaya bahwa ada sejumlah kecil air yang terikat dengan kumpulan debu di permukaan Bulan. Sayangnya, jumlah kandungan air ini bervariasi dan tersebar di beberapa lokasi. Itu pun tergantung pada waktu pengamatan tersebut dilakukan.


BACA JUGA

Teknologi laser bisa ukur keamanan gedung saat gempa

Teknologi laser bisa ukur keamanan gedung saat gempa

Teknologi 3D printing bisa cetak kulit dan tulang di luar angkasa


Amanda Hendrix, pimpinan studi yang menemukan kandungan air tersebut menyatakan bahwa hasil ini akan memberi pemahaman lebih lanjut mengenai siklus air yang terjadi di Bulan. Hendrix menyatakan bahwa pengetahuan tersebut akan membantu manusia belajar mengenai ketersediaan air yang dapat digunakan jika sudah memulai misi di satelit bumi itu.

“Air di Bulan berpotensi digunakan untuk membuat bahan bakar atau pelindung dari radiasi atau sebagai alat untuk membantu manajemen suhu. Jika material ini (air) tidak harus dibawa dari Bumi, maka misi ke Bulan akan semakin terjangkau.” ujar Amanda Hendrix.

Untuk diketahui, sebelumnya Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) mendapati adanya molekul air yang terikat di permukaan Bulan, setidaknya sampai pada waktu di mana Bulan mencapai suhu tertingginya. Molekul air tersebut kemudian akan lepas dari permukaan Bulan dan memantul sampai menemukan tempat yang cukup dingin untuk menetap kembali di permukaan Bulan.

Dr. Kurt Retherford, kepala penelitian Lyman Alpha Mapping Project (LAMP) menyatakan bahwa temuan ini menjadi sangat penting, mengingat NASA akan kembali mengirim astronotnya ke Bulan.

Menurut para peneliti di LAMP, jumlah molekul air yang terdapat di Bulan hingga saat ini masih terlalu sulit dijelaskan dengan konsep fisika yang ada. Yang jelas, jumlah molekul air di Bulan ternyata konsisten dengan apa yang ditunjukkan oleh pengukuran yang dilakukan di lab.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: