NASA gunakan satelit pelajari perbatasan Bumi dan antariksa

NASA meluncurkan satelit yang ditujukan untuk menjelajahi Ionosfer, wilayah dinamis nan misterius dimana udara bertemu dengan ruang angkasa.

NASA gunakan satelit pelajari perbatasan Bumi dan antariksa (Foto: NASA)

NASA meluncurkan satelit yang ditujukan untuk menjelajahi Ionosfer, wilayah dinamis nan misterius dimana udara bertemu dengan ruang angkasa. Satelit yang disebut Ikon (Ionospheric Connection Explorer) itu meroket ke orbit setelah ditunda selama dua tahun. Satelit itu diluncurkan di atas Atlantik, di lepas pantai Florida.

Lima detik setelah peluncuran satelit, roket Pegasus yang terpasang menghempaskan Icon ke tujuannya. Ionosfer merupakan bagian atas dari atmosfer, mamanjang beberapa ratus mil ke atas. Ionosfer terus berubah karena cuaca luar angkasa membombardirnya dari atas serta diterpa cuaca bumi dari bawah. Kondisi ini terkadang mengganggu komunikasi radio.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

NASA setujui proposal modul pendaratan berisi manusia

NASA kembangkan bor otomatis untuk pelajari Mars

Astronom temukan planet yang memiliki air


"Lapisan yang dilindungi ini adalah bagian teratas dari atmosfer kita. Ini perbatasan kami dengan ruang angkasa," kata direktur divisi heliofisika NASA, Nicola Fox.

Fox mengatakan ada terlalu banyak hal yang terjadi di wilayah ini, yang disebabkan oleh matahari. Badai, tornado, dan kondisi cuaca ekstrem lainnya di Bumi pun menambah energi di Ionosfer. Semakin banyak ilmuwan mengetahuinya, pesawat ruang angkasa dan astronot akan lebih terlindungi di orbit melalui perkiraan yang lebih baik.

Dilansir Nypost (12/10), satelit Ikon memiliki ukuran seperti kulkas dan akan mempelajari aliran udara yang terbentuk dari gas di Ionosfer. Satelit itu juga akan mengukur lingkungan tepat di sekitar pesawat ruang angkasa atau sekitar jarak 580 kilometer.

"Ini adalah laboratorium fisika yang luar biasa," kata ilmuwan utama Thomas Immel dari University of California, Berkeley yang mengawasi misi ini.

Sateli NASA yang diluncurkan tahun lalu, Gold juga mempelajari atmosfer atas, namun dari tingkat yang lebih tinggi. Nasa juga merencanakan lebih banyak misi di tahun-tahun mendatang untuk mempelajari Ionosfer, termasuk dari Stasiun Luar Angkasa.

Ikon sendiri seharusnya meluncur pada 2017, namun terjadi masalah dengan roket Pegasus Northrop Grumman. Direktur peluncuran NASA Omar Baez pun meminta maaf atas keterlambatan itu. "Kami ingin memperbaiki keadaan dengan roket ini. Kami tidak memiliki peluang kedua untuk misi semacam ini," ujarnya. 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: