MIT punya teknologi AI untuk prediksi kanker payudara

Para ilmuwan menciptakan model untuk mengenali pola halus dalam jaringan payudara yang merupakan tanda awal kanker.

MIT punya teknologi AI untuk prediksi kanker payudara Source: Pexels

Peneliti MIT berhasil menemukan cara baru yang didukung peran AI untuk melihat mammogram pendeteksi kanker payudara hingga lima tahun sebelumnya. Menggunakan metode deep learning, peneliti dari Computer Science and Artificial Intelligence Labolatory (CSAIL) MIT dan Rumah Sakit Umum Massachusetts dapat memprediksi hanya berdasarkan pada hasil mammogram. Dari hasil tersebut, bisa disimpulkan apakah seorang wanita akan beresiko kanker payudara di masa mendatang.

Dilansir dari Engadget (8/5), metode ini bekerja dengan baik pada pasien kulit hitam seperti halnya pada pasien kulit putih, tidak seperti metode lawas.


BACA JUGA

AI bisa pecahkan teka teki rubik dalam 1,2 detik

Elon Musk berencana implantasi sensor di otak manusia

Pluribus AI bisa kalahkan pemain poker profesional


Awalnya para ilmuwan tersebut menjalankan mammogram lebih dari 60.000 pasien yang dirawat di Massachusetts General. Kemudian mereka mengidentifikasi para wanita yang kemungkinan akan menderita kanker payudara dalam lima tahun mendatang. Dengan data ini, para ilmuwan menciptakan model untuk mengenali pola halus dalam jaringan payudara yang merupakan tanda awal kanker.

AI juga memiliki potensi untuk membantu memperbaiki kesenjangan rasial dalam perawatan kesehatan wanita. Lantaran pedoman saat ini untuk kanker payudara didasarkan terutama pada populasi kulit putih, seringnya menyebabkan penundaan pengecekan wanita berkulit gelap. Ini telah menyebabkan konsekuensi yang parah. Ini mengakibatkan wanita kulit hitam 43 persen memiliki potensi meninggal lebih besar karena kanker payudara daripada wanita kulit putih.

“Sangat mengejutkan bahwa metode ini bekerja sama baiknya bagi orang kulit hitam dan putih, yang belum menjadi kasus dengan alat penilaian risiko sebelumnya. Jika divalidasi dan tersedia untuk digunakan secara luas, ini benar-benar dapat meningkatkan strategi kami untuk memperkirakan risiko,” kata profesor penelitian dan kebijakan kedokteran di Stanford University kepada MIT, Dr. Allison Kurian.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: