MIT kembangkan drone bersayap hibrida

Drone hibrida ini disebut-sebut dapat mendarat atau lepas landas secara vertikal dan terbang melesat dengan lebih hemat energi.

MIT kembangkan drone bersayap hibrida Source: MIT CSAIL via Engadget

Pesawat tanpa awak, atau yang lebih dikenal sebagai drone memiliki dua jenis sayap. Pertama adalah model sayap seperti pesawat pada umumnya. Kedua adalah tipe sayap multikopter yang menyerupai baling-baling helikopter dalam jumlah banyak. Sekelompok ilmuwan MIT telah merancang platform baru yang menggabungkan dua model sayap tersebut. Dilansir dari Engadget (16/7), hasilnya adalah drone yang dapat melayang seperti helikopter dan meluncur cepat seperti pesawat terbang.

Drone hibrida ini disebut-sebut dapat mendarat atau lepas landas secara vertikal dan terbang melesat dengan lebih hemat energi. Karena insinyur di MIT harus merancang sistem kontrol dari awal, sebenarnya memproduksi drone hibrida seperti berbiaya lebih mahal dan menghabiskan waktu. Itulah masalah yang harus dipecahkan oleh mahasiswa pascasarjana MIT CSAIL, Jie Xu dan timnya.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Drone ini bisa dilipat dan terbang dari peluncur meriam

DJI Mavic Mini mendarat di Indonesia, ini harga resminya

UPS sudah mulai antar kiriman via drone


“Metode kami memungkinkan non-pakar untuk merancang model, membuat kontrolernya, dan kemudian mengakses drone yang siap terbang. Harapannya adalah bahwa platform seperti ini dapat membuat lebih banyak ‘drone hibrida’ yang lebih fleksibel dan lebih mudah diakses oleh semua orang,” kata Xu.

Biasanya para insinyur merancang kontroler terpisah untuk mode penerbangan helikopter, mode penerbangan pesawat dan “mode transisi” yang memungkinkan pilot beralih di antara keduanya. Melewati kerumitan membangun tiga mode secara manual, tim MIT CSAIL memilih metode yang bergantung pada neural networks untuk secara otomatis memperhitungkan kontroler. Dengan program Onshape, sistem tim CSAIL memungkinkan pengguna memilih bagian mana dari drone untuk mereka kumpulkan datanya. Desain drone kemudian dimasukkan ke dalam simulator yang menguji performa penerbangannya.

Para peneliti sering bereksperimen dengan neural networks dalam simulasi, tetapi metode seperti itu sering tidak mampi bertahan dalam kondisi rill yang lebih menantang. Tim di CSAIL berharap pendekatan mereka dapat membantu menutup ‘kesenjangan realitas’ antara simulasi dan penerbangan nyata.

Drone hibrida milik tim CSAIL memang masih memiliki beberapa batasan, model ini tidak dapat memperhitungkan efek aerodinamika kompleks antara aliran udara baling-baling dan sayap. Drone ini juga tidak dapat melakukan tikungan tajam. Tetapi tim akan terus mengembangkan desainnya demi menyempurnakan kemampuan manuver. Sejauh ini, pesawat diuji dengan baik dalam simulasi dan dunia nyata.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: