Lautan cair di Pluto, tingkatkan kemungkinan adanya kehidupan lain

Pluto yang hampir seluruh permukaannya ditutupi es ternyata masih memiliki lautan cair di bawah permukaannya.

Lautan cair di Pluto, tingkatkan kemungkinan adanya kehidupan lain Source: NASA

Siapa menyangka bahwa Pluto ternyata memiliki lautan. Hal itu disampaikan oleh peneliti asal Jepang, Shunichi Kamata setelah melakukan simulasi menggunakan komputer. Adapun lautan itu berada di bawah lapisan es nitrogen yang menutupi permukaan Pluto.

Temuan ini sebenarnya dipicu oleh data yang berhasil dikumpulkan wahana luar angkasa milik NASA New Horizon yang mengamati Pluto pada Juli 2015. Berangkat dari sana, sejumlah gagasan baru muncul mengenai planet kerdil ini. Salah satu yang paling menarik adalah fakta bahwa di kawasan Sputnik Planitia terdapat lautan cair di bawah permukaan es nitrogen planet tersebut.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Ilmuwan berhasil hasilkan energi dari udara dingin

MIT ciptakan tinta yang dapat berubah warna

Teknologi getaran listrik bisa cairkan lapisan es dengan cepat


Dilansir dari NewAtlas (22/5), ide ini justru menimbulkan pertanyaan lebih jauh, seperti mengapa lautan itu tidak membeku padahal Pluto dikenal sebagai planet paling jauh dari sistem tata surya. Jaraknya yang demikian jauh dari Matahari membuat Pluto tidak memiliki inti cair seperti planet lainnya. Pun juga tidak memiliki siklus pasang surut karena gaya tariknya yang kecil.

Menurut perhitungan yang ada, lautan seperti itu harusnya sudah membeku miliaran tahun lalu. Seandainya pernah ada laut di bawah Sputnik Planitia, maka laut  itu juga akan membeku dan tertutup es di atasnya.

Observasi yang dilakukan New Horizons menunjukkan Sputnik Planitia ternyata sejajar dengan sumbu pasang surut Pluto. Sumbu ini merupakan garis dimana tarikan gravitasi dari bulan terbesar Pluto, yakni Charon diketahui paling kuat. Pluto kemudian berotasi berdasarkan orientasi ini karena massa ekstra yang terkonsentrasi di dekat permukaan Sputnik Planitia.

Massa ekstra itu kemungkinan terbentuk dari es nitrogen dan air yang terkubur di bawahnya. Air itu kemudian naik dari bawah tanah setelah komet menghantam planet kerdil itu dan membentuk Sputnik Planitia. Setidaknya, itu yang disampaikan dari penelitian sebelumnya.

Namun, fakta itu belum juga menjawab mengapa masih terdapat lautan cair di planet super dingin itu. Untuk diketahui, suhu permukaan Pluto tercatat berada di angka -229 derajat Celcius. Sementara titik beku nitrogen adalah -210 derajat celcius. Kendati begitu, air yang seharusnya memiliki titik beku 0 derajat Celcius justru tetap berada dalam bentuk cair.

Simulasi yang dilakukan oleh ilmuwan gabungan itu mengatakan penyebab air tetap dalam bentuk cair meski berada di kondisi dingin yang sangat ekstrim. Penyebabnya adalah adanya lapisan gas hidrat di antara lapisan es dengan lautan cair di bawah tanah Pluto. Gas hidrat ini akan berfungsi sebagai isolator yang mencegah suhu dingin merasuk hingga ke lautan tersebut dan menjaganya tetap cair dalam waktu miliaran tahun.

Gas hidrat merupakan sebuah bentuk air yang khusus, dimana es akan membentuk semacam sarang kristal yang memerangkap gas seperti metana. Hidrat biasanya berbentuk sangat kental dan memiliki konduksi panas yang rendah.

Penelitian itu menghasilkan gagasan mengenai susunan permukaan Pluto, sebagaimana disampaikan oleh Kamata. Bagian paling atas merupakan lapisan es nitrogen dengan es dari air terbentuk di bawahnya. Kemudian lapisan gas hidrat akan memisahkan lautan cair dengan lapisan es di atasnya. Sementara paling bawah merupakan susunan batu yang menjadi inti Pluto. Metana yang terperangkap di lapisan hidrat itu muncul dari lapisan batu di bawahnya. Hal ini jugalah yang mungkin menjadi jawaban mengapa Pluto memiliki konsentrasi metana yang sangat sedikit di permukaannya.

Kamata menyimpulkan adanya kemungkinan lautan serupa di alam semesta. Penemuan ini bakal menguatkan hipotesis mengenai adanya kehidupan lain di alam semesta. Saat ini, hasil penelitian Kamata dan timnya sudah dipublikasi di Nature Geoscience.

 

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: