JAXA gunakan sistem satelit demi jalur penerbangan terbaik

ANA Holdings dan badan antariksa Jepang (JAXA) sepakat menggunakan sistem satelit untuk menemukan jalur penerbangan terbaik bagi pesawat.

JAXA gunakan sistem satelit demi jalur penerbangan terbaik (Foto: Skytravel)

ANA Holdings dan badan antariksa Jepang (JAXA) sepakat menggunakan sistem satelit untuk menemukan jalur penerbangan terbaik bagi pesawat. Teknisnya dengan mengamati angin dan kondisi lainnya, sehingga mengurangi konsumsi bahan bakar serta biaya yang dikeluarkan.

ANA dan JAXA menandatangani kontrak kerja sama itu pada Januari dengan tujuan melakukan penelitian bersama dengan pihak lain termasuk Universitas Keio hingga Januari tahun depan. Proyek ini didasarkan pada proposal Ayako Matsumoto, seorang pejabat ANA yang memenangkan penghargaan berkat ide di kontes bisnis luar angkasa. 


BACA JUGA

Kisah perang bintang di balik sistem navigasi AS, Rusia dan China

Mengenal Beidou, saingan GPS & Glonass dari China

32 hari lagi, satelit swasta Indonesia akan meluncur


Dilansir Japan Today (11/6), sekitar 100.000 penerbangan beroperasi setiap hari di seluruh dunia. Menurut Matsumoto, jika maskapai penerbangan mampu mengurangi konsumsi bahan bakar pesawat hingga 1%, akan memungkinkan penghematan hingga 3,65 juta ton bahan bakar setiap tahunnya. Menghemat bahan bakar akan memungkinkan maskapai penerbangan tak hanya memangkas biaya, namun juga membatasi emisi gas.

Terkait solusi yang ditawarkan Matsumoto adalah beralih pada kemungkinan satelit yang dilengkapi dengan sistem Doppler Lidar, yang telah dipelajari JAXA. Sistem itu bisa mengukur arah dan kecepatan angin dengan memancarkan sinar laser ke udara dan menerima cahaya kembali oleh partikel debu kecil di atmosfer.
 
Matsumoto percaya, data yang diamati akan memungkinkan maskapai penerbangan untuk mengatur jalur penerbangan yang lebih efisien dengan informasi cuaca yang lebih akurat dan aktual. "Selain memangkas bahan bakar, pemanfaatan satelit yang membawa sistem Doppler Lidar juga bisa meningkatkan akurasi prediksi untuk turbulensi udara dan penyebaran abu vulkanik," katanya.

Saat ini sendiri, maskapai mengembangkan jalur penerbangan menggunakan data sektor swasta yang didasarkan pada informasi yang sebelumnya dirilis badan cuaca dan memenuhi kebutuhan pesawat. Data ini tak diperbarui secara real time dan kondisi aktual di atmosfer bisa berbeda dengan penerbangan saat lepas landas.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: