Ilmuwan kembangkan suplemen khusus untuk misi luar angkasa

Misi luar angkasa dalam jangka panjang menyisakan berbagai masalah kesehatan bagi astronot. ESA berusaha mengembangkan suplemen untuk mengatasi masalah tersebut.

Ilmuwan kembangkan suplemen khusus untuk misi luar angkasa Inkubator Kubik (Source: ESA)

Misi ke luar angkasa selama ini banyak menimbulkan efek samping bagi para astronot, terutama ketika misi tersebut dilakukan dalam jangka panjang. Bukan hanya secara psikis, faktor fisik pun terpengaruh dampak gravitasi nol, juga masalah penuaan.

Dilansir dari NewAtlas (7/5), European Space Agency (ESA) dilaporkan mengajukan uji coba untuk mengetahui bagaimana nanopartikel keramik berinteraksi dengan sel tubuh. Nano partikel ini akan bertindak seperti suplemen anti penuaan yang tidak hanya memperlambat penuaan di luar angkasa, tetapi juga mengatasi permasalahan sakit kronis dan stres lain yang biasanya dialami oleh astronot.


BACA JUGA

Lautan cair di Pluto, tingkatkan kemungkinan adanya kehidupan lain

Chang-e 4 berhasil temukan mineral baru di Bulan

Kemana perginya air di Mars?


Untuk diketahui, di luar angkasa ada banyak molekul beracun yang diproduksi sebagai dampak dari metabolisme oksigen yang dapat merusak sel dan jaringan di dalam tubuh. Nah, tubuh manusia akan melawan molekul tersebut dengan menghasilkan antioksidan berupa vitamin dan mineral untuk mencegah kerusakan sel.

Beberapa antioksidan yang dibutuhkan tubuh, antara lain vitamin A, vitamin C, vitamin E, beta karoten, likopen, lutein, selenium dan mangan. ESA berusaha mencari cara untuk mencegah sejumlah penyakit umum di luar angkasa, seperti gagal jantung, kehilangan massa otot, diabetes bahkan Parkinson dengan mengembangkan suplemen nano antioksidan tersebut.

Pada prinsipnya, partikel nano keramik ini (disebut nanoceria) akan bertindak seperti enzim dalam sebuah sel. Menurut para peneliti, nanopartikel itu akan bertindak seperti antioksidan tanpa dosis berulang-ulang, bahkan selama beberapa minggu. Hal ini menjadikannya lebih baik ketimbang suplemen konvensional. Nanoceria akan meniru perilaku biologis enzim dalam sebuah organisme hidup.

ESA akan menyimpan nanoceria bersama dengan sel inangnya pada inkubator Kubik di luar angkasa dengan temperatur tetap 30 derajat Celcius. Tujuannya untuk melihat respon sampel terhadap gravitasi mikro dan radiasi kosmik. Selanjutnya, sampel lain akan ditempatkan pada inkubator dengan gravitasi buatan yang menyerupai di Bumi.

Menurut ESA, eksperimen ini akan berguna untuk mengembangkan suplemen yang akan membantu astronot mengatasi masalah kesehatan dalam misi jangka panjang di luar angkasa. Di sisi lain, suplemen ini dapat juga digunakan di Bumi. Misalnya, pada orang tua untuk mengatasi berbagai penyakit mulai dari gagal jantung, Parkinson dan diabetes.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: