Ilmuwan kembangkan sensor pendeteksi es di sayap pesawat

Sensor bekerja dengan mengukur frekuensi resonansi, amplitudo dan pola hamburan gelombang mikro yang dipancarkan setelah diubah oleh air atau es.

Ilmuwan kembangkan sensor pendeteksi es di sayap pesawat Source: Pexels

Salah satu penyebab utama kecelakaan pesawat adalah adanya pembentukan es di sayap. Pembentukan es ini harus dilihat dengan seksama agar dapat dibersihkan. Dengan begitu proses ini sangat mengandalkan manusia. Dilansir dari New Atlas (9/8), sebuah sensor baru dapat mengubah cara tersebut dengan mengandalkan gelombang mikro agar dapat langsung mendeteksi pembentukan es yang mungkin tidak terlihat oleh pilot atau kru darat.

Pengembangan sensor ini berada di Okanagan Campus, University of British Columbia, perangkat ini dikenal sebagai sensor resonator gelombang mikro planar. Pada dasarnya terdiri dari logam yang diendapkan pada selembar plastik tipis. Selain itu, sensor ini juga mudah dan murah untuk diproduksi.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Peneliti kembangkan teknologi untuk tajamkan gambar buram

Pesawat listrik ini bersuara lebih tenang dari penghisap debu

NASA segera uji coba pesawat bertenaga listrik


Singkatnya, sensor ini bekerja dengan mengukur frekuensi resonansi, amplitudo dan pola hamburan gelombang mikro yang dipancarkan setelah diubah oleh air atau es. Hasilnya, dalam tes laboratorium, ia dapat mendeteksi pembentukan es dalam hitungan detik setelah didinginkan di bawah titik beku.

Seperti yang ditunjukkan oleh para peneliti, sensor dapat mendeteksi es di seluruh bagian luar sayap. Teknologi ini juga dapat mendeteksi kapan es kembali mencair, sehingga dapat juga digunakan untuk mengkonfirmasi bahwa sistem pencairan telah berfungsi dengan baik.

“Sensor dapat mendeteksi ketika air mengenai sayap, melacak transisi fase dari air ke es, dan kemudian mengukur ketebalan es saat tumbuh, semua tanpa mengubah profil aerodinamis sayap. Teknologi frekuensi radio dan gelombang mikro dapat dibuat secara nirkabel,” kata pemimpin proyek, Mohammad Zarifi.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: