Ilmuwan kembangkan sistem implan kamera untuk tunanetra

Perangkat itu dikembangkan untuk menstimulasi saraf optik, yang disebut dengan OpticSELINE. Ini merupakan rentetan dari 12 elektroda yang menghantarkan arus listrik.

Ilmuwan kembangkan sistem implan kamera untuk tunanetra Source: EPFL/Alain Herzog via Engadget

Salah satu penyakit yang sulit diobati adalah kebutaan. Ini karena sebagian bisa disebabkan oleh begitu banyak masalah pelik pada mata, otak, atau saraf optik yang menghubungkan organ terkait. Tetapi baru-baru ini para ilmuwan dari Swiss Federal Institute of Technology (EPFL) berhasil mengembangkan teknologi untuk merangsang saraf optik manusia, yang dapat digunakan untuk memulihkan penglihatan seseorang.

Para peneliti tersebut sebelumnya telah menemukan cara untuk mengembalikan penglihatan menggunakan kamera untuk mengambil gambar dan kemudian mengirimkan gambar ke microchip yang ditanamkan di retina. Namun cara ini membutuhkan saraf optik yang berfungsi penuh. Ada lagi teknologi yang memotong saraf optik dan menginput gambar langsung ke otak, tetapi sistem ini hanya memungkinkan orang untuk melihat gambar yang sangat mendasar.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Ini prediksi spesifikasi kamera DSLR flagship, Nikon D6 mendatang

Canon 90D punya resolusi 32 MP dan bisa rekam video 4K

Video bocoran Canon EOS M6 Mark II dan EOS 90D mencuat


Dilansir dari Digital Trends (25/8), teknologi baru dari EPFL ini mengandalkan aspek dari kedua teknologi tersebut lantaran mengirim informasi secara langsung ke otak. Perkembangannya adalah bahwa saraf optik itu sendiri dirangsang menggunakan implan. Keuntungan dari pendekatan ini adalah dapat digunakan pada hampir semua orang.

Perangkat itu dikembangkan untuk menstimulasi saraf optik, disebut dengan OpticSELINE. Ini merupakan rentetan dari 12 elektroda yang menghantarkan arus listrik. Agar dapat menguji seberapa baik implan merangsang saraf optik, para ilmuwan menggunakannya untuk memberikan arus dan melihat aktivitas di korteks visual otak.

Dengan mengembangkan algoritma untuk memecahkan kode sinyal dari otak, mereka dapat melihat bahwa setiap elektroda menciptakan pola aktivasi yang unik di otak. Ini berarti bahwa pada prinsipnya saraf optik dapat dirangsang dengan cara tertentu untuk mengirim informasi visual ke otak.

Para ilmuwan membutuhkan lebih banyak elektroda agar dapat membuat teknologi yang diciptakannya dapat diandalkan. Dengan teknologi saat ini, OpticSELINE dapat mengandung 48 hingga 60 elektroda. Ini tidak cukup untuk mengembalikan penglihatan sepenuhnya, tetapi dapat digunakan untuk memberikan kembali beberapa tingkat penglihatan demi membuat penderita tunanetra lebih mudah menjalankan kegiatan sehari-hari.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: