Ilmuwan coba implan otak dengan teknologi LED

Perangkat ini dikembangkan oleh para ilmuwan di universitas riset KAIST di Korea Selatan, bersama dengan rekan-rekannya di University of Colorado.

Ilmuwan coba implan otak dengan teknologi LED Source: Pexels

Menanamkan mesin di otak memang bisa menggabungkan kecerdasan manusia dan buatan (AI), seperti yang dibayangkan oleh Neuralink Elon Musk, atau sejenisnya. Tetapi manfaat yang kemungkinan lebih cepat hadir adalah dalam bentuk pengobatan baru untuk penyakit otak seperti Parkinson atau Alzheimer. Dilansir dari New Atlas (12/8), para ilmuwan telah mengajukan perangkat eksperimental untuk tugas-tugas semacam ini, yang dapat diisi dengan kartrid berbeda tergantung pada perawatan yang diperlukan dan dipicu dari jarak jauh dengan smartphone.

Perangkat ini dikembangkan oleh para ilmuwan di universitas riset KAIST di Korea Selatan, bersama dengan rekan-rekannya di University of Colorado. Ia menjanjikan fungsionalitas yang mirip dengan perangkat pada 2015 lalu dari Washington University di St Louis, yang menggunakan saluran mikrofluida yang sangat tipis dan susunan LED untuk membawa obat-obatan dan menyinari sel-sel otak dengan presisi tinggi.


BACA JUGA

Wahana NASA Mars 2020 akan dilengkapi kemampuan robotik baru

Ini bukan stiker, tapi sensor tubuh

Astronom temukan lubang hitam terbesar di alam semesta


Gagasan menggunakan cahaya untuk mengobati kondisi tertentu telah mendapatkan momentum serius akhir-akhir ini. Dikenal sebagai optogenetika, terapi ini berasal dari kemampuan untuk mengubah perilaku sel-sel otak tertentu karena protein di dalamnya yang sensitif terhadap cahaya. Ini telah menunjukkan janji sebagai cara untuk mengobati kebutaan, rasa sakit dan jet lag sebagai contohnya.

Selain lampu LED yang sangat kecil, perangkat ultra kecil ini, yang memiliki ketebalan seperti rambut manusia, juga memungkinkan pengiriman obat ke daerah yang sangat ditargetkan melalui saluran kecil. Tetapi satu kekurangan khas alat-alat ini adalah bahwa obat itu pasti akan menjadi kering.

Dalam menyusun perangkat baru ini, para peneliti berusaha mengatasinya dengan merancang sistem plug-and-play yang menggunakan kartrid yang dapat diganti untuk persediaan secara terus menerus. Dengan cara ini, ketika persediaan obat habis, sebuah karttrid baru dapat dengan mudah diisi untuk memungkinkan perawatan yang berpotensi berlangsung selama berbulan-bulan.

Semua itu masih lama untuk diterapkan pada pasien langsung, para ilmuwan awalnya berharap untuk menggunakan teknologi ini agar dapat memanipulasi sirkuit saraf pada hewan sebagai cara mempelajari gangguan otak. Untuk itu, mereka menguji perangkat dengan menanamkannya ke otak tikus selama empat minggu. Ini juga memungkinkan tim untuk menguji metode kontrol, yang terdiri dari aplikasi smartphone dan koneksi Bluetooth. Hal ini bahkan dapat memungkinkan ahli saraf untuk menentukan dosis obat dan kombinasi dengan terapi cahaya di lokasi terpencil.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: