Ilmuwan ciptakan software pendeteksi senyum palsu

Teknologi ini diharapkan dapat digunakan dalam aplikasi seperti peningkatan sistem keamanan biometrik, studi psikoligis, dan sebagainya.

Ilmuwan ciptakan software pendeteksi senyum palsu Source: Pexels

Tidak lama lagi mungkin kita akan lebih mudah membuat komputer untuk mendeteksi seseorang yang sedang berpura-pura bahagia. Para ilmuwan di University of Bradford berhasil mengembangkan software yang dapat mendeteksi senyum palsu.

Para peneliti yang dipimpin oleh Profesor Hassan Ugail tersebut memulai penelitiannya dengan dua dataset yang sudah ada sebelumnya. Salah satu di antaranya (disebut MUG) terdiri dari video orang-orang yang tersenyum dengan benar dan spontan, sementara yang lain (disebut CK+) berisi klip orang yang pura-pura tersenyum.


BACA JUGA

Google kembangkan AI untuk main gim sepakbola

AI DeepMind bisa selamatkan satwa langka

Sony pakai AI untuk hasilkan musik


Dilansir dari New Atlas (30/7), teknologi ini menggunakan algoritma berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memetakan wajah-wajah orang dalam video, serta mengukur sejauh mana mulut, pipi dan mata bergerak ketika tersenyum.

Meski ada perbedaan antara kedua kelompok di ketiga wilayah tersebut, perbedaan terbesar terdapat di bagian mata. Orang yang benar-benar tersenyum akan menggerakkan otot di sekitar matanya setidaknya 10 persen lebih banyak daripada senyum palsu.

“Kami menggunakan dua set otot utama ketika kami tersenyum – zygomaticus mayor, yang bertanggung jawab atas kerutan di atas mulut, dan orbicularis oculi yang menyebabkan kerutan di sekitar mata. Dalam senyum palsu, seringkali hanya otot-otot mulut yang bergerak, tetapi sebagai manusia, kita sering tidak melihat kurangnya gerakan di sekitar mata. Software komputer dapat melihatnya dengan jauh lebih andal,” kata Ugail.

Setelah belajar dari penilaian tersebut, software yang dihasilkan kini mampu mendeteksi video orang yang tersenyum, secara akurat menentukan apakah senyum mereka termasuk yang asli atau sebaliknya. Teknologi ini harapannya berguna dalam aplikasi seperti peningkatan sistem keamanan biometrik, studi psikoligis, dan sebagainya.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: