sun
moon
Premium Partner :
Senin, 30 Des 2019 13:30 WIB

Ilmuwan berhasil terapkan chip yang terintegrasi gigi

Chip terintegrasi pada gigi itu dikembangkan oleh Oregon Heatlh and Science University. Teknologi ini berisi sepotong bahan dentin yang diambil dari gigi geraham, diapit di antara lapisan karet bening.

Ilmuwan berhasil terapkan chip yang terintegrasi gigi
Source: OHSU/Kristyna Wentz/Graff

Sudah ada beberapa metode yang menanamkan chip di dalam organ, di mana potongan-potongan jaringan kecil biologis hidup digunakan untuk mereplikasi fungsi organ yang sebenarnya. Sekarang para ilmuwan telah menciptakan chip yang dapat ditanamkan di gigi, yang terlihat seperti gigi berongga.

Beberapa contoh sebelumnya, perangkat chip pada organ menggabungkan sampel jaringan dari organ tertentu, yang ditempatkan dalam lembar transparan kecil. Saluran mikrofluida dalam lembaran tersebut kemudian digunakan untuk menyalurkan berbagai bahan kimia, seperti obat-obatan atau racun melalui sampel itu. Berdasarkan dari reaksi jaringan, para peneliti dapat menyimpulkan dampaknya pada organ sesungguhnya.

Dilansir dari New Atlas (20/12), chip terintegrasi pada gigi itu dikembangkan oleh Oregon Heatlh and Science University. Teknologi ini berisi sepotong bahan dentin yang diambil dari gigi geraham, diapit di antara lapisan karet bening. Saluran yang terukir pada lapisan tersebut memungkinkan cairan yang dimasukkan mengalir melalui dentin. Ia mereplikasi cara di mana rongga dalam enamel pelindung gigi memungkinkan bakteri memasuki bagian dalam gigi.

Menggunakan mikroskop, para ilmuwan selanjutnya dapat mempelajari bagaimana sampel bereaksi. Teknologi ini pada akhirnya dapat digunakan untuk mengembangkan solusi pengisian rongga atau pencegahan lubang gigi yang lebih baik, ditambah lagi dapat digunakan untuk mengoptimalkan perawatan pasien.

“Bertahun-tahun dari sekarang, dokter gigi dapat mengekstrasi gigi dari pasien, memuatnya ke dalam perangkat ini, mengamati bagaimana bahan pengisi gigi berinteraksi dengan gigi, dan memilih bahan yang terbaik untuk pasien tertentu. Ini membuka jendela baru ke dalam kompleksitas perawatan gigi yang dapat mengubah cara kami melakukan perawatan gigi secara signifikan,” kata ilmuwan utama, Prof. Luiz E. Bertassoni.

Share
back to top