Hollywood pakai AI sebelum produksi film

Siapa yang menyangka, industri film besar seperti Hollywood menggunakan AI untuk menganalisa film yang akan dibuat. Ini menjadi bukti potensi AI yang makin meluas.

Hollywood pakai AI sebelum produksi film Source: Google

Siapa yang bakal menyangka kalau Artificial Intelligence ternyata digunakan secara diam-diam oleh Hollywood untuk menganalisis sebuah film. Analisis itu dibuat mulai dari budgeting, potensi keuntungan, para pemain film hingga detail-detail lain seperti seperti apa skripnya harus dibuat.

Bukan rahasia lagi kalau para pembuat film pasti ingin meraup keuntungan besar dari film buatannya. Nah hal ini akan dipengaruhi oleh popularitas yang mengiringi film tersebut. Seperti siapa sutradaranya, pemainnya, penulis skrip, rumah produksi hingga studio yang akan memoles efek visual film tersebut. Di Hollywood, rupanya praktik ini sudah sering dilakukan.


BACA JUGA

AI dari Adobe bisa deteksi foto yang disunting

AI bisa prediksi wajah hanya berdasar dari suara

Sarung tangan dari MIT bantu AI identifikasi objek via sentuhan


Sebuah startup bernama Cinelytic merupakan satu dari sekian perusahaan yang menjanjikan AI untuk menganalisa sebuah film. AI itu menggunakan data historis dari performa film selama beberapa tahun, kemudian memadukannya dengan informasi mengenai tema dan pemain kunci dalam sebuah film. Berbekal machine learning, AI ini akan mengungkap pola tersembunyi dari data yang ada.

Mudahnya, ini dilakukan seperti mengatur formasi di sepakbola. Bedanya, di sini akan dimasukkan sejumlah casting, kemudian mengganti satu pemeran dengan pemeran lain untuk melihat potensi keberhasilan film yang akan dibuat. Setiap aktor akan memberikan hasil berbeda karena ada banyak faktor yang mempengaruhinya.

Berdasarkan laporan TheVerge (31/5), Cinelytic bukanlah satu-satunya perusahaan yang menyediakan jasa AI model ini. Dalam beberapa tahun belakang, AI ternyata mulai marak digunakan dalam industri film yang menawarkan hasil serupa.

ScriptBook dari Belgia adalah salah satunya. Perusahaan ini mengklaim kalau algoritmanya bisa memprediksi kesuksesan sebuah film hanya dengan menganalisa skripnya saja. Sementara startup asa Israel, Vault, menjanjikan kliennya bahwa AI mereka bisa memprediksi demografi mana yang akan menonton film mereka berdasarkan bagaimana trailernya diterima secara online di berbagai daerah. Perusahaan lain bernama Pilot bahkan mengklaim dapat meramal keuntungan sebuah film selama 18 bulan ke depan sebelum film yang dimaksud rilis.

Kendati layanan yang diberikan berbeda satu sama lain, namun ada satu persamaan fundamental dari startup tersebut, yakni mengandalkan kecerdasan buatan dalam layanan mereka.

Itu kalau bicara soal startup, perusahaan yang terbilang sudah mapan pun menggunakan praktik yang sama. Contohnya, 20th Century Fox. Jelang akhir tahun lalu, 20th Century Fox menjelaskan bagaimana AI dapat digunakan untuk mendeteksi objek dan adegan di trailer film. Kemudian AI ini akan memprediksi segmen apa saja yang dirasa menarik bagi penonton.

Saat ini sudah banyak film yang menggunakan jasa AI untuk memprediksi kesuksesannya. Misalnya saja, Hereditary, Ready Player One, bahkan A Quiet Place adalah sebagian dari 50 film yang menggunakan analisis AI dengan tingkat akurasi 44 persen.

Kedengarannya konsep ini sangat menguntungkan bagi para pelaku industri film. Bayangkan kemudahan yang diberikan kepada mereka. Cukup memasukkan sejumlah data, kemudian hasil keluar. Kalau menguntungkan, mereka tinggal mengeksekusi rencana tersebut.

Akan tetapi hal ini tidak semudah itu. Di samping perhitungan para aktor, ada beberapa faktor lain yang menentukan apakah sebuah film bisa sukses di pasar atau tidak. Salah satunya adalah dinamika budaya yang tidak bisa diprediksi.

Contoh paling nyata adalah film Warcraft. Film yang diangkat dari gim World of Warcraft ini termasuk salah satu yang sulit untuk dianalisis menggunakan AI. Pasalnya, ini merupakan film berbasis gim yang karakternya tidak didasarkan pada manusia.

Sejauh ini hasil analisis film yang ditawarkan AI tidaklah tepat 100%. Namun menurut sutradara asal Inggris, Andrea Scarso, penilaian AI bisa menjadi acuan dan validasi dari prediksi yang sudah dibuat sebelumnya. Scarso mengakui bahwa ia kerap menggunakan AI untuk menentukan formasi terbaik ketika hendak membuat sebuah film.

Bagaimana pun juga, saat ini masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan AI agar mampu memberikan analisis terbaik dan tentunya, melampaui batasan-batasan yang ada saat ini.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: