China gunakan pemindai gerakan tubuh untuk identifikasi warga

Selain menggunakan pemindaian wajah, Pemerintah China juga menggunakan pengenalan cara berjalan untuk mengenali penduduk mereka.

China gunakan pemindai gerakan tubuh untuk identifikasi warga Pengenalan gerakan (AP News China)

Pemerintah China tampaknya menemukan sebuah cara baru untuk mengenali para penduduknya. Setelah dapat mengenali dari pengawasan CCTV, kali ini mereka telah menciptakan alat pengintaian baru yang dapat mengenali cara berjalan seseorang.

Teknologi ini pun kabarnya sudah digunakan oleh pihak Kepolisian Beijing dan Shanghai. Teknologi yang mereka namakan ‘gait recognition’ ini merupakan salah satu bagian dari dorongan di seluruh China untuk mengembangkan kecerdasan buatan dan pengawasan menggunakan driven yang meningkatkan kekhawatiran tentang seberapa jauh teknologi akan dapat berkembang.


BACA JUGA

Robot DC-2, robot pertama di dunia yang ditangkap polisi

Percaya atau tidak, kita melihat layar smartphone 52 kali sehari

Pendiri Apple sebut teknologi mobil otonom harusnya tak terwujud


Huang Yongzhen, CEO Watrix yang menemukan sistem ini mengatakan bahwa sistemnya dapat mengidentifikasi orang-orang dari jarak hingga 50 meter. Bahkan teknologi ini masih akan dapat mengidentifikasi seseorang bahkan dengan punggung mereka berubah atau wajah tertutup.

Teknologi ini dapat mengisi celah dalam pengenalan wajah, yang membutuhkan gambar wajah orang dengan resolusi tinggi untuk bekerja dengan baik.

"Anda tidak perlu kerjasama orang-orang agar kami dapat mengenali identitas mereka. Analisis cara berjalan tidak bisa dibodohi dengan hanya berjalan tertatih-tatih, berjalan dengan kaki terentang atau membungkuk, karena kami menganalisis semua fitur dari seluruh tubuh," kata Yongzhen seperti dikutip dari AP News (8/11).

Shi Shusi, kolumnis dan komentator China mengatakan, tidak mengherankan bahwa teknologi pengenalan semakin populer di seluruh China daripada di belahan dunia lainnya. Hal ini dikarenakan tekanan Beijing pada kontrol sosial yang lebih tinggi dari negara lain.

"Menggunakan peminndaian biometrik untuk menjaga stabilitas sosial dan mengelola masyarakat adalah tren yang tak terbendung. Ini bisnis yang hebat," katanya.

Sayang, teknologinya sebenarnya bukan sebuah teknologi yang tergolong baru. Para ilmuwan di Jepang, Inggris, dan Badan Sistem Informasi Pertahanan AS telah meneliti pengenalan gaya berjalan selama lebih dari satu dekade.

Mereka telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi skeptisme bahwa orang dapat dikenali dari cara mereka berjalan. Profesor dari Universitas Osaka telah bekerja dengan Badan Kepolisian Nasional Jepang untuk menggunakan perangkat lunak pengenalan cara berjalan sejak tahun 2013.

Tetapi hanya sedikit yang mencoba mengkomersialkan pengenalan gaya berjalan. FST Biometrics yang berbasis di Israel ditutup awal tahun ini di tengah pertarungan perusahaan setelah menemui kesulitan teknis dengan produknya, menurut mantan anggota dewan penasihat Gabriel Tal.

"Ini lebih kompleks daripada biometrik lainnya, secara komputasi," kata Mark Nixon, pakar terkemuka di bidang pengenalan gaya berjalan di University of Southampton di Inggris. "Dibutuhkan komputer yang lebih besar untuk melakukan gaya berjalan karena Anda membutuhkan urutan gambar daripada satu gambar."

Berbicara mengenai cara kerja, sistem ini bekerja dengan mengekstraksi siluet seseorang dari video dan menganalisis gerakan siluet untuk membuat model cara orang tersebut berjalan. Ini belum dapat mengidentifikasi orang saat gambar itu diambil secara langsung.

Pengguna harus mengunggah video ke dalam program, yang memakan waktu sekitar 10 menit untuk mencari melalui satu jam video. Tapi teknologi ini tidak memerlukan kamera khusus, yang berarti dapat menghemat pengeluaran.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: