China bakal ‘tanam’ panel surya di luar angkasa

Para peneliti mengatakan, panel surya yang ada di luar angkasa akan memiliki efisiensi 99 persen dan menciptakan enam kali energi lebih banyak dibandingkan dengan panel surya di bumi.

China bakal ‘tanam’ panel surya di luar angkasa Ilustrasi Panel Surya (Pexels)

Tiap tahun, penggunaan listrik di seluruh dunia terus meningkat. Sedangkan pasokan energi tak terbarukan sudah mulai menipis.

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi krisis energi, salah satunya dengan membuat panel surya untuk menghasilkan energi terbarukan. Bahkan, belakangan ini China kembali memiliki ide gila, yakni ingin ‘menanam’ panel surya di luar angkasa.


BACA JUGA

Lautan cair di Pluto, tingkatkan kemungkinan adanya kehidupan lain

Chang-e 4 berhasil temukan mineral baru di Bulan

Ilmuwan kembangkan suplemen khusus untuk misi luar angkasa


Para ilmuwan sebenarnya telah lama berhipotesis bahwa mengumpulkan energi matahari dari ruang angkasa akan jauh lebih efektif. Hal ini yang mendasari para ilmuwan dari Cina untuk memasang panel surya di ketinggian 36.000 kilometer dari permukaan laut.

Engadget (19/2) melaporkan para ilmuwan Cina berencana untuk membangun dan meluncurkan pembangkit listrik kecil ke stratosfer antara tahun 2021 dan 2025.

Mereka merencanakan untuk menghasilkan pasokan listrik hingga ke tingkat megawatt pada tahun 2030. Kemudian, mereka berencana untuk memproduksi energi listrik hingga tingkat gigawatt sebelum 2050.

Para peneliti yakin, atmosfer yang ada di bumi menghalangi potensi besar yang dimiliki oleh matahari. Mereka berharap dengan adanya panel surya di luar angkasa, mereka akan dapat membuat energi tanpa henti.

Lantas, berapa efisiensi yang akan didapatkan oleh masyarakat dunia? Para peneliti di Akademi Teknologi Antariksa China mengklaim, teknologi ini dapat memasok energi 99 persen lebih efisien dengan intensitas enam kali lipat dari instalasi panel surya di bumi.

Tentu saja, akan ada banyak tantangan yang terkait rencana ini. Pembangkit listrik semacam itu akan berbobot cukup besar, sekitar seribu ton. Ini merupakan tantangan pertama, yakni memasukkan pembangkit listrik tersebut ke orbit.

Meski demikian, para peneliti akan terus mencari cara untuk melakukan hal tersebut. Mereka yakin, hal ini akan menjadi salah satu solusi krisis energi yang bisa saja terjadi dalam waktu dekat ini.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: