RiskCardio bisa menebak lama hidup penderita sakit jantung

Para peneliti mengatakan RiskCardio dapat menebak usia dari penderita jantung melalui pendekatan EKG.

RiskCardio bisa menebak lama hidup penderita sakit jantung Kedokteran dan Teknologi (Pixabay)

Saat ini, kemampuan AI untuk memprediksi ancaman kesehatan kian canggih. AI tersebut dapat dengan akurat mendeteksi berbagai macam penyakit jauh lebih cepat jika dibandingkan dokter konvensional.

Baru-baru ini, sebuah teknologi AI kembali mengejutkan bidang kedokteran. Para peneliti di CSAIL MIT telah mengembangkan sistem pembelajaran mesin bernama RiskCardio, yang dapat memperkirakan risiko kematian karena masalah kardiovaskular atau penyakit jantung.


berita tentang tek.id

BACA JUGA

Kapal otonom dengan AI akan seberangi samudera Atlantik

Nvidia, GM, dan Toyota berkolaborasi demi mobil otonom

Sistem AI dari MIT-IBM bisa kenali konten video lebih cepat


Para peneliti melakukan pemeriksaan terhadap keadaan yang menghalangi atau mengurangi aliran darah ke jantung. Hal yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan ini hanya dalam melakukan EKG selama 15 menit.

Dari pembacaan tersebut, AI tersebut ia mengukur bahaya berdasarkan serangkaian denyutan berturut-turut dari sampel. Jika data denyutan dalam 15 menit dari suatu peristiwa selesai direkam, RiskCardio dapat menentukan apakah seseorang akan mati dalam 30 hari, atau bahkan hingga satu tahun kemudian, seperti dilaporkan Engadget (16/9/2019).

Pendekatan ini didasarkan pada ide variabilitas yang lebih besar dari detak jantung mencerminkan risiko yang lebih besar bagi seseorang. Para ilmuwan melatih sistem pembelajaran mesin menggunakan data historis untuk hasil yang akan diterima pasien.

Jika seorang pasien selamat, detak jantung mereka dianggap relatif normal, jika seorang pasien meninggal, aktivitas jantung mereka dianggap berisiko. Skor risiko tertinggi datang dengan rata-rata prediksi dari setiap pembacaan set detak jantung berturut-turut.

Namun, saat ini RiskCardio masih berada dalam tahapan pengembangan lebih lanjut. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan, termasuk memperbaiki data pelatihan untuk memperhitungkan usia, latar belakang etnis, dan gender yang lebih banyak.

Pihak peneliti mengatakan, ketelitian merupakan salah satu kunci kesuksesan dari AI ini untuk melakukan diagnosis dengan akurat. Selain itu, AI ini juga tidak berdiri sendiri, dimana para dokter juga akan memberikan masukan kepada pasien untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: