Review Film

Tidying Up with Marie Kondo, bicara soal empati dan rasa menghargai

Netflix hadirkan film seri berkonsep cukup unik, yakni menata rumah. Marie Kondo bakal mendobrak pemahaman orang tentang seni menata rumah.

Tidying Up with Marie Kondo, bicara soal empati dan rasa menghargai Source: Netflix

Netflix mengawali 2019 dengan serial baru. Uniknya, tak seperti serial kebanyakan, Netflix justru menghadirkan acara beres-beres rumah. Kebetulan rumagnya memang sangat berantakan. Acara tersebut menghadirkan Marie Kondo, seorang konsultan dan penulis buku tentang “beres-beres rumah”.

Tidak salah menyebut serial ini sebagai acara beres-beres rumah. Pasalnya memang itu yang dilakukan Marie Kondo. Ia akan mendatangi rumah kliennya, kemudian memberi instruksi untuk membereskan rumah tersebut. Selanjutnya ia akan meninggalkan pasangan itu untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Ada tim dari konsultan KonMari yang membantu mereka.

Beberapa hari kemudian, Marie Kondo akan kembali datang dan memberikan instruksi yang sama. Kemudian proses tersebut berulang, sampai pada akhirnya rumah tersebut menjadi lebih layak disebut sebagai tempat tinggal.

Perlu diketahui, Marie Kondo terkenal karena bukunya yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up di tahun 2011. Buku ini bahkan sudah diterbitkan di 30 negara di dunia. Munculnya Marie Kondo di Netflix tak lepas dari ekspansi buku ini ke Amerika Serikat. Buku Marie Kondo memang menjadi buku best seller di Amerika Serikat versi New York Times, dengan jumlah penjualan 8 juta kopi. Popularitas Kondo semakin meroket ketika menjadi bintang tamu pada beberapa acara televisi di negeri Paman Sam tersebut. Sejalan dengan itu, popularitas metode beres-beres a la Marie Kondo juga makin dikenal luas di negara tersebut.

Marie Kondo menyebut gayanya sebagai KonMari. Sebenarnya, metode KonMari adalah implementasi buku yang sudah ia tulis. Caranya adalah dengan mengumpulkan semua barang menjadi satu kategori, misalnya pakaian. Kemudian wanita Jepang tersebut akan meminta kliennya untuk menyortir barang mana yang tidak digunakan, diperlukan lagi dan barang mana yang “membangkitkan kebahagiaan” pemiliknya. Tak cuma itu, Kondo juga akan meminta kliennya untuk berterima kasih pada barang yang sudah tidak digunakan lagi.

Metode KonMari, salah satunya dipengaruhi oleh ajaran Shinto. Penganut agama Shinto percaya bahwa setiap benda layaknya makhluk hidup, memiliki jiwanya masing-masing. Kepercayaan ini dibawa Marie Kondo dalam bentuk rasa terima kasih terhadap barang yang pernah dipakai oleh pemiliknya. Konsep itu juga yang membuat adanya ritual kontemplasi sebelum memulai proses KonMari. Intinya adalah berkomunikasi dengan rumah agar mendukung pemilik rumah tersebut untuk membereskannya.

Intinya soal penghargaan

Tidying Up with Marie Kondo bukan sekadar beres-beres. Serial Netflix ini mampu membantu saya menyadari pentingnya menghargai sesuatu. Bukan soal pengaruh Shinto dalam metode Marie Kondo, tapi saya akhirnya berpikir ulang untuk menghargai apa yang sudah saya miliki. Mulai dari hal sepele hingga ke hal yang paling besar. Bagaimana pun juga, entah masih bisa digunakan atau tidak, setiap barang yang kita miliki pasti memiliki peranan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kembali ke metode KonMari, cara yang ditawarkan Kondo sebenarnya dapat dilakukan oleh siapa saja, bahkan tanpa konsultan sekalipun. Akan tetapi, Marie Kondo dapat mengemasnya dengan baik sehingga memunculkan kedekatan antara dia dengan kliennya. Suatu hal fundamental yang menurut saya harus dimiliki oleh seorang yang akan mengobrak-abrik isi rumah orang lain.

Kondo membuktikan bahwa bahasa bukan menjadi halangan komunikasi dengan orang lain. Asal tahu saja, Marie Kondo tidak lancar berbahasa Inggris. Ia mengandalkan seorang penerjemah untuk membantunya berkomunikasi dengan kliennya.

Di episode pertama misalnya, Kondo tanpa segan akan menggendong anak kliennya bahkan mendudukkan anak tersebut di pangkuannya. Tak hanya itu, bahasa tubuh dan mimik Kondo menyiratkan ia adalah seorang yang ramah. Ia selalu tersenyum dan tidak pernah menghakimi kliennya dengan mengatakan, “Rumah ini sangat berantakan” atau “What a mess!” dan sebagainya. Ia mampu menyampaikan hal tersebut dengan cara sopan, tanpa menyinggung orang lain, dan tentunya menyenangkan.

Dari banyak acara reality show yang sudah saya saksikan, konsep yang ditawarkan Netflix lewat tayangan ini benar-benar baru buat saya. Siapa yang bakal kepikiran kalau merapikan rumah bisa menjadi sebuah tayangan yang menarik dan inspiratif? Tak cuma itu, bagi mereka yang tidak terbiasa beres-beres, merapikan rumah besar-besaran mungkin saja bukan aktivitas yang “mendatangkan kebahagiaan”.

Bagi Marie Kondo, menata rumah sama saja dengan melakukan keajaiban. Pasalnya, bagi Marie Kondo, orang yang merapikan rumah berarti juga bahwa mereka berhasil menata hidup mereka dan berakhir dengan kebahagiaan. Ciri-ciri tersebut selalu tampak dalam setiap episode.

Kira-kira begini: keluarga yang kerap mengalami konflik menjadi lebih harmonis ketika rumahnya berhasil ditata. Adapula seorang janda yang berhasil mengatasi kesedihan atas kematian suaminya ketika ia merapikan pakaian suaminya. Kebahagiaan itu juga ditunjukkan sendiri oleh Marie Kondo dengan cara yang ekspresif. Misalnya dengan melompat ke lantai kosong yang sebelumnya berantakan untuk menunjukkan kebahagiaannya.

Saya sangat menikmati bagaimana akhirnya hubungan keluarga-keluarga dalam serial tersebut membaik selama proses pemberesan rumah mereka. Bagi saya, Tidying Up with Marie Kondo bukan sekadar membereskan rumah belaka. Serial ini menyentuh berbagai aspek sensitif dalam tiap rumah tangga, empati, kasih sayang, komunikasi, dan penghargaan serta yang tidak boleh ketinggalan, rasa memiliki pada setiap barang yang kita miliki.

Oh iya, buku The Life-Changing Magic of Tidying Up sudah tersedia di Indonesia. Barangkali ilmu KonMari yang dijelaskan oleh Marie Kondo dalam film bisa diperdalam dengan melahap buku satu ini. Toh gaya hidup rapi bukan hal buruk juga untuk diterapkan.  

 
Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: