Review Netflix

The Highwaymen, drama kriminal rasa Amerika 1930-an

Film-film amerika bergenre kriminal selama ini sangat jarang mengangkat era 1930-an. The Highwaymen mengingatkan saya pada setting Public Enemies 2009 lalu.

The Highwaymen, drama kriminal rasa Amerika 1930-an

Terkahir kali saya menonton setting drama kriminal di layar bioskop adalah Public Enemies (2009). Bintangnya adalah Johnny Depp, berlakon sebagai Jhon Dillinger.

Kali ini Netflix membawa kisah original berlatar 1930-an, The Highwaymen. Genrenya pun masih sama, drama kriminal, yang diambil dari kisah kejahatan pada masa depresi ekonomi Amerika 1934.


BACA JUGA

Penjualan tiket Avengers: Endgame capai lebih dari USD120 juta

Natalie Portman akan main Dolphin Reef di Disney+

Ini arti simbol spiral di Game of Throne


Kisah berawal dari skenario pelolosan narapidana penjara paling ketat di Texas, Eastham Prison Farm. Pelakunya adalah pasangan perampok dan pembunuh berdarah dingin, Bonnie dan Clyde. Benar-benar sepasang laki-laki dan perempuan.

Dua tahun lamanya dua orang ini menebar teror di jalanan Texas dan Negara Bagian sekitarnya. Kedua bandit ini merampok mangsanya sekaligus membunuh mereka dengan senjata mesin otomatis.

Ini membuat pusing Kepala Departemen Keamanan Texas kala itu, Lee Simmons. Ia pun mengajukan seorang mantan koboi (Texas Rangers), bernama Frank Hamer kepada Gubernur perempuan Texas kala itu, "Ma" Ferguson. Tugas Hamer adalah melacak dua penjahat tersebut secara independen.

Hamer sendiri hanyalah koboi tua yang sudah pensiun sejak 1932. Usianya saat menghadapi dua bandit paling menakutkan di Texas kala itu, 51 tahun. Gajinya untuk melacak dua bandit paling dicari pemerintah waktu itu sekitar USD180 per bulan, atau setengah dari gajinya saat aktif di unit Texas Rangers.

Kendati begitu, jiwa patriot Hamer tergerak untuk memburu Bonnie dan Clyde, melebihi tawaran upah yang diberikan kepadanya. Satu sarat yang ia minta kepada Simmons, ia bekerja dengan caranya sendiri.

Pertama-tama, Hamer pun menemui seorang koleganya, Benjamin Namey Gault. Ia seorang Rangers juga, yang sudah pensiun setelah unit Texas Rangers bubar di 1933. Gault sama gaeknya seperti Hamer, tapi insting kedua Rangers ini tetap tajam.

Lewat film ini kita bisa menyaksikan betapa kuatnya latar belakang yang dibangun di lokasi pembuatan film. Pertama dari segi lokasi. Lokasinya benar-benar totalitas menggambarkan kondisi Amerika 1930-an. Jalanan masih berdebu, lingkungan tempat tinggal dibangun dari kayu. Kedua, dari properti, bahkan mobil Ford V8 yang antik terlihat sangat baru di film ini.

mobil Ford V8 dalam fim Netflix The Highwaymen

Tidak elok rasanya kalau kita mengenyampingkan karakter utamanya. Pemeran utama Hamer (Kevin Costner) dan pemeran pendukung utama Gault (Wody Harrelson) mampu menghidupkan dua Rangers tua dalam film tanpa canggung. Meski saya tidak tahu persis metode koboi dalam menghadapi penjahat, melalui film ini saya jadi sedikit mengerti.

Ternyata Rangers tidak ubahnya investigator cum detektif yang mengolah tempat kejadian perkara. Menganalisa barang bukti di lapangan, dan menginterograsi orang-orang di lapangan. Cara kerjanya ternyata modern juga.

Selama berminggu-minggu Hamer dan Gault mengikuti pola perjalanan teror Bonnie dan Clyde. Pola ini ternyata membawanya kepada buruannya, namun Bonnie dan Clyde lolos beberapa kali dari incaran Hamer dan Gault.

Selebihnya, film ini terbangun dari dialog dan akting dua tokoh utama yang sangat stabil. Hamer berkarakter dingin, tidak pandai basa-basi, dan tahu betul apa yang harus ia lakukan. Gault pandai berdiplomasi, hingga mampu mengorek informasi dari penduduk setempat.

Adegan baku tembak pun tidak sampai terjadi lima kali di film ini. Jadi, bagi kamu yang sudah terbiasa dibuai film aksi yang bombastis, mungkin akan menilai film ini membosankan. Kendati begitu, bagi penikmat investigasi dan drama kriminal penuh intrik, pastinya akan menikmati alur ceritanya. Apalagi tambahan tata visual kamera yang rapi dan lokasi Amerika jadul, makin menambah kenikmatan menonton The Highwaymen di Netflix.

Jangan baca sendiri, bagikan artikel ini: